FITNESS & HEALTH
Wamenkes Benny Usulkan Kota Bogor Jadi Percontohan Nasional TBC
Yatin Suleha
Rabu 29 Juli 2026 / 10:29
- Kemenkes RI punya usulan keren. Kota Bogor mau dijadikan pilot project alias daerah percontohan nasional buat urusan penanggulangan TBC.
- Usulan ini datang karena Pemkot Bogor sukses banget ngebentuk Kelurahan Siaga TBC di seluruh 68 kelurahan yang ada di wilayahnya, lho.
- Wamenkes Benjamin Paulus Octavianus, gak lupa nyampein apresiasi tingginya saat launching program Penemuan Kasus Aktif (Active Case Finding) TBC.
Jakarta: Kemenkes RI punya usulan keren. Kota Bogor mau dijadikan pilot project alias daerah percontohan nasional buat urusan penanggulangan TBC. Usulan ini datang karena Pemkot Bogor sukses banget ngebentuk Kelurahan Siaga TBC di seluruh 68 kelurahan yang ada di wilayahnya, lho.
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI, Benjamin Paulus Octavianus, gak lupa nyampein apresiasi tingginya pas lagi nge-launching program Penemuan Kasus Aktif (Active Case Finding) TBC yang digabung sama Cek Kesehatan Gratis (CKG) SMART di Kota Bogor, hari Selasa (28/7) kemarin.
“Saya mendengar seluruh kelurahan di Kota Bogor sudah menjadi Kelurahan Siaga TBC. Ini luar biasa dan jarang ada. Karena itu, saya ingin Kota Bogor dapat menjadi percontohan nasional,” ujar Wamenkes Benny.
Wamenkes Benny menegaskan, pengendalian TBC tidak lagi cukup hanya dengan menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan. Pemerintah daerah bersama puskesmas, aparat kewilayahan, hingga kader masyarakat harus proaktif melakukan "jemput bola" guna menemukan warga yang berisiko, terutama mereka yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC positif.
Melalui integrasi dengan program CKG SMART, masyarakat dapat menjalani pemeriksaan lebih dekat dari tempat tinggalnya. Pemeriksaan ini meliputi skrining kesehatan, rontgen dada (X-ray), hingga tes dahak jika ditemukan kelainan.
Bagi warga yang berisiko tinggi namun belum berstatus sakit TBC aktif, Kemenkes akan memberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).
“Selama ini kita fokus mengobati orang yang sudah sakit, tetapi kontak eratnya jarang diperiksa. Padahal, daripada dua atau tiga tahun lagi mereka menjadi pasien TBC, lebih baik kita cegah dari sekarang melalui TPT,” tegasnya.

(Wamenkes benny usulkan kota bogor jadi percontohan tbc nasional lewat program jemput bola dan TPT. Foto: Dok. Birkom Kemenkes)
Meski memiliki angka harapan hidup di atas rata-rata nasional, Kota Bogor masih menghadapi tantangan besar terkait kepadatan penduduk yang berpotensi mempercepat penularan penyakit menular. Hal ini diakui oleh Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim.
“Kehadiran program eliminasi TBC dari Kemenkes ini sangat berarti. Kami berharap kolaborasi ini manfaatnya dapat langsung dirasakan oleh masyarakat Kota Bogor,” kata Dedie.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, Erna Nuraena, memaparkan bahwa pada 2025, Kota Bogor menempati peringkat ke-5 dengan beban TBC tertinggi di Jawa Barat. Tercatat ada 10.577 kasus dengan incidence rate 955 per 100.000 penduduk.
Menariknya, dari total pasien yang dirawat di Kota Bogor, hanya 62 persen yang merupakan warga asli Kota Bogor. Sisanya berasal dari Kabupaten Bogor (35 persen) dan luar wilayah (3 persen).
Kondisi ini menjadikan Kota Bogor sebagai rujukan layanan TBC, namun di sisi lain menambah tantangan dalam pemantauan pasien lintas wilayah,” jelas dr. Erna.
Untuk menekan laju kasus, Pemkot Bogor menargetkan pelaksanaan pelacakan (tracing) TBC terintegrasi ini mulai Agustus hingga November 2026. Program ini akan menyasar 23.200 orang di 232 titik lokasi yang tersebar di 68 kelurahan.
Hingga 26 Juli 2026, capaian penemuan kasus TBC di Kota Bogor telah menyentuh 71,9 persen dari target 90 persen.
Wamenkes berharap, masifnya pencarian kasus aktif ini dapat secara nyata menurunkan kurva kasus TBC nasional pada 2028 hingga 2029 mendatang.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI, Benjamin Paulus Octavianus, gak lupa nyampein apresiasi tingginya pas lagi nge-launching program Penemuan Kasus Aktif (Active Case Finding) TBC yang digabung sama Cek Kesehatan Gratis (CKG) SMART di Kota Bogor, hari Selasa (28/7) kemarin.
“Saya mendengar seluruh kelurahan di Kota Bogor sudah menjadi Kelurahan Siaga TBC. Ini luar biasa dan jarang ada. Karena itu, saya ingin Kota Bogor dapat menjadi percontohan nasional,” ujar Wamenkes Benny.
Wamenkes Benny menegaskan, pengendalian TBC tidak lagi cukup hanya dengan menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan. Pemerintah daerah bersama puskesmas, aparat kewilayahan, hingga kader masyarakat harus proaktif melakukan "jemput bola" guna menemukan warga yang berisiko, terutama mereka yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC positif.
Melalui integrasi dengan program CKG SMART, masyarakat dapat menjalani pemeriksaan lebih dekat dari tempat tinggalnya. Pemeriksaan ini meliputi skrining kesehatan, rontgen dada (X-ray), hingga tes dahak jika ditemukan kelainan.
Bagi warga yang berisiko tinggi namun belum berstatus sakit TBC aktif, Kemenkes akan memberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT).
“Selama ini kita fokus mengobati orang yang sudah sakit, tetapi kontak eratnya jarang diperiksa. Padahal, daripada dua atau tiga tahun lagi mereka menjadi pasien TBC, lebih baik kita cegah dari sekarang melalui TPT,” tegasnya.
Tantangan kepadatan penduduk dan beban kasus

(Wamenkes benny usulkan kota bogor jadi percontohan tbc nasional lewat program jemput bola dan TPT. Foto: Dok. Birkom Kemenkes)
Meski memiliki angka harapan hidup di atas rata-rata nasional, Kota Bogor masih menghadapi tantangan besar terkait kepadatan penduduk yang berpotensi mempercepat penularan penyakit menular. Hal ini diakui oleh Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim.
“Kehadiran program eliminasi TBC dari Kemenkes ini sangat berarti. Kami berharap kolaborasi ini manfaatnya dapat langsung dirasakan oleh masyarakat Kota Bogor,” kata Dedie.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, Erna Nuraena, memaparkan bahwa pada 2025, Kota Bogor menempati peringkat ke-5 dengan beban TBC tertinggi di Jawa Barat. Tercatat ada 10.577 kasus dengan incidence rate 955 per 100.000 penduduk.
Menariknya, dari total pasien yang dirawat di Kota Bogor, hanya 62 persen yang merupakan warga asli Kota Bogor. Sisanya berasal dari Kabupaten Bogor (35 persen) dan luar wilayah (3 persen).
Kondisi ini menjadikan Kota Bogor sebagai rujukan layanan TBC, namun di sisi lain menambah tantangan dalam pemantauan pasien lintas wilayah,” jelas dr. Erna.
Untuk menekan laju kasus, Pemkot Bogor menargetkan pelaksanaan pelacakan (tracing) TBC terintegrasi ini mulai Agustus hingga November 2026. Program ini akan menyasar 23.200 orang di 232 titik lokasi yang tersebar di 68 kelurahan.
Hingga 26 Juli 2026, capaian penemuan kasus TBC di Kota Bogor telah menyentuh 71,9 persen dari target 90 persen.
Wamenkes berharap, masifnya pencarian kasus aktif ini dapat secara nyata menurunkan kurva kasus TBC nasional pada 2028 hingga 2029 mendatang.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)