FITNESS & HEALTH

Omicron Asli vs Sub-varian BA.2, Inilah Perbedaan Utamanya

Mia Vale
Senin 25 April 2022 / 16:39
Jakarta: Gejala yang ditimbulkan semua versi varian omicron, boleh dibilang mirip flu. Hidung meler adalah gejala yang paling umum, untuk orang yang sudah divaskinasi atau booster. Seperti di Amerika, varian Omicron menjadi pendorong lonjakan infeksi utama. Dan subvarian BA.2 menyumbang berkisar tiga perempat kasus di Amerika Serikat. 

Dan ternyata, BA.2 telah menelurkan sublineage-nya sendiri, BA.2.12.1. Departemen Kesehatan Negara Bagian New York mengatakan pekan lalu bahwa BA.2.12.1 kemungkinan besar berkontribusi pada peningkatan jumlah kasus di negara bagian itu. 

Untuk sejauh ini, perbedaan utama antara versi Omicron yang lebih baru dan yang sebelumnya meroket adalah transmisibilitas. Kepala penasihat medis Gedung Putih, Dr Anthony Fauci, memperkirakan bahwa BA.2 50 persen lebih mudah menular daripada garis keturunan Omicron asli. 

"Gejala Omicron cukup konsisten. Gejala kehilangan indra perasa dan penciuman lebih sedikit dibandingkan dengan gejala pernapasan, hidung tersumbat, batuk, nyeri tubuh dan kelelahan," jelas Dr Dennis Cunningham, Direktur medis sistem pengendalian dan pencegahan infeksi di Henry Ford Health di Detroit, seperti yang dilansir dari CNBC.


Omicron Asli vs Sub-varian BA.2
(Dr Amesh Adalja mengatakan orang yang telah pulih dari infeksi Omicron cenderung miliki perlindungan terhadap BA.2 setidaknya selama beberapa bulan. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
 

Gejala subvarian BA.2 


Salah satu pendiri aplikasi, Tim Spector, seorang profesor epidemiologi genetik di King's College London, mengatakan bahwa berdasarkan data Zoe, pilek masih merupakan gejala Omicron yang paling umum, diikuti oleh kelelahan, sakit tenggorokan, bersin dan sakit kepala. 

Spector mengatakan 84 persen orang di Inggris mengatakan mereka mengalami pilek, dibandingkan dengan 73 persen pada awal Januari. Dan 72 persen mengatakan mereka mengalami kelelahan, naik dari 68 persen selama gelombang Omicron pertama. 

Namun para ahli umumnya sepakat bahwa masyarakat tidak perlu terlalu khawatir dengan kemunculan masing-masing subvarian Omicron. 

"Pada titik tertentu, tidak usah gugup setiap kali ada varian baru, karena akan selalu ada varian baru," ujar David Montefiori, seorang profesor di Human Vaccine Institute di Duke University Medical Center. 

Dr Amesh Adalja, sarjana senior di Pusat Keamanan Kesehatan Johns Hopkins di Sekolah Kesehatan Masyarakat Bloomberg mengatakan orang yang telah pulih dari infeksi Omicron cenderung memiliki perlindungan terhadap BA.2 setidaknya selama beberapa bulan. 

Dan seiring waktu, kita tahu dengan semua virus korona bahwa infeksi berulang menjadi umum ketika tingkat antibodi turun. Ini pula yang membuat para ahli optimis bahwa infeksi Omicron sebelumnya juga akan melindungi terhadap BA.2.12.1.

Perlu diketahui, BA.2.12.1 bukan satu-satunya versi BA.2 yang menarik perhatian para ilmuwan. Sublineage lain, BA.2.12, juga tampaknya mendorong kasus di New York, dan beberapa lagi beredar di bagian lain dunia.

Bagi Ontefiori, virus ini seolah-olah mencoba menemukan cara untuk melubangi kekebalan yang terbentuk di polulasi. 

Namun, vaksinasi, masker, pengujian, dan jarak sosial dapat membantu mengendalikan penyebaran jenis Omicron yang ada, kata para ahli. Meskipun para ilmuwan masih memelajari bagaimana tingkat perlindungan vaksinasi dalam menghadapi sub-varian baru, Adalja mengatakan, orang sehat mungkin tidak memerlukan suntikan keempat. 

(TIN)

MOST SEARCH