FITNESS & HEALTH

Pakai Toilet Bersama Penderita HIV/AIDS Bisa Tertular, Benarkah?

Cindy
Selasa 30 November 2021 / 14:17
Jakarta: Menjelang Hari AIDS Sedunia pada 1 Desember 2021, masyarakat Indonesia kembali diajak mengenal cara penularan penyakit HIV/AIDS. Memahami bagaimana cara penularan HIV merupakan inti dari pencegahan penyebaran penyakit tersebut. 

Masih banyak mitos tentang penyebaran HIV/AIDS yang beredar luas dan perlu diluruskan agar tak terjadi kesalahpahaman. Misalnya, penularan HIV/AIDS lewat penggunaan alat makan yang sama, berbicara dengan penderita, hingga menggunakan toilet bersama. 

Penularan HIV/AIDS

Ilustrasi AIDS. Foto: humanillnesses
Ilustrasi AIDS. Foto: humanillnesses.

Menurut Center for Disease Control and Prevention (CDC), penularan HIV hanya bisa terjadi lewat perantara cairan tubuh tertentu. Cairan tubuh yakni darah, air mani, cairan praejakulasi, cairan anus, cairan vagina, dan ASI. HIV dapat menular jika cairan tubuh penderita masuk ke dalam tubuh orang yang sehat.

Baca: Mengidap HIV, Amankah bagi Pasangan?

Cara Penularan HIV AIDS

Berikut sejumlah cara penularan HIV/AIDS dikutip dari berbagai sumber:

1. Hubungan seks tanpa kondom

Hubungan seks yang melibatkan penetrasi vaginal atau penetrasi anus tanpa menggunakan kondom merupakan cara penularan HIV/AIDS yang paling umum. Penularan virus HIV lewat hubungan seks rentan terjadi dari kontak darah, air mani, cairan vagina, atau cairan praejakulasi milik orang yang terinfeksi HIV.

Oleh sebab itu, penting untuk selalu melindungi diri Anda dengan menggunakan kondom saat melakukan aktivitas seksual apa pun, termasuk seks oral. Kondom dapat mencegah penularan HIV karena menghalangi masuknya virus pada cairan sperma atau vagina.

2. Memakai jarum suntik bekas atau bergantian

Menggunakan jarum suntik bekas secara bergantian juga termasuk cara penularan HIV/AIDS yang umum. Risiko ini tinggi khususnya di kalangan pengguna narkoba suntik.

Virus HIV nyatanya dapat hidup di dalam jarum suntik selama 42 hari setelah kontak pertama kali, tergantung pada suhu dan faktor lainnya. Ada kemungkinan bahwa satu jarum bekas dapat menjadi perantara penularan HIV kepada banyak orang yang berbeda.

Maka dari itu, pastikan untuk selalu minta peralatan seperti jarum atau alat kesehatan lainnya yang masih dalam kemasan baru tersegel dan belum pernah dipakai sebelumnya.

Baca: Jelang Hari AIDS Sedunia 1 Desember, Ini Beda HIV dan AIDS
 

3. Penularan HIV dari ibu ke bayi

Ilustrasi ibu dan anak. Pexels
Ilustrasi ibu dan anak. Pexels.

Ibu hamil yang terjangkit HIV sebelum maupun selama masa kehamilan dapat menularkan infeksi kepada bayinya lewat tali plasenta di dalam kandungan. Risiko penularan virus HIV dari ibu ke bayi juga dapat terjadi selama proses persalinan, baik melahirkan normal maupun operasi caesar.

Di sisi lain, Ibu dengan HIV yang menyusui juga bisa menularkan virus pada bayi melalui ASI. Selain itu, penularan juga dapat terjadi pada bayi melalui makanan yang dikunyahkan oleh ibu atau perawat yang terinfeksi HIV, meski risikonya sangat rendah. 

Sebagai upaya menghindari penyebaran HIV dari ibu ke bayi, penting untuk selalu berkonsultasi ke dokter saat sedang merencanakan kehamilan. Apabila HIV pada ibu bisa dideteksi sejak awal, penularan ke bayi bisa dicegah dengan minum obat secara rutin.

4. Transfusi darah

Penularan HIV juga bisa terjadi melalui transfusi darah. Namun, penularan HIV melalui donor darah atau cangkok organ termasuk kurang umum. Sebab, ada seleksi yang cukup ketat bagi calon pendonor sebelum melakukan donor darah maupun donor organ. 

5. Piercing, sulam alis, tato alis, sulam bibir

Menindik bagian tubuh atau membuat tato juga dapat meningkatkan risiko penularan HIV. Penularan HIV jenis ini terjadi ketika terdapat luka saat proses tindik, sulam, maupun tato. 

Hal ini bisa terjadi jika proses tersebut dilakukan oleh pegawai yang tidak berpengalaman dan tidak menggunakan peralatan steril. Pasalnya, prosedur sulam atau tato wajah ini melibatkan pengirisan kulit terbuka. Untuk mencegah penyebaran HIV, pastikan semua peralatan yang digunakan masih steril.

Cara penularan HIV/AIDS yang tak mungkin

Ilustrasi pasangan. Freepik.jpg
Ilustrasi pasangan. Freepik.

HIV tidak dapat bereproduksi dalam inang selain manusia. HIV juga tidak mampu bertahan di luar tubuh manusia dalam waktu yang lama. 

Maka, penularan HIV tidak akan mungkin terjadi lewat cara:
  • Gigitan hewan, seperti gigitan nyamuk, kutu, atau serangga lainnya.
  • Interaksi fisik antarmanusia yang tidak melibatkan pertukaran cairan tubuh, seperti bersentuhan dan berpelukan, berjabat atau berpegangan tangan, tidur bersama di satu ranjang tanpa melakukan aktivitas seksual. 
  • Berbagi alat makan dan saling pinjam pakaian atau handuk dengan pengidap HIV.
  • Menggunakan kamar mandi/toilet yang sama.
  • Berenang di kolam renang umum bersama pengidap HIV.
  • Air liur, air mata, atau keringat yang tidak bercampur dengan darah dari orang yang positif HIV.
Baca: Kondom Dobel Bisa Cegah Penularan HIV/AIDS, Benarkah?
(CIN)

MOST SEARCH