FITNESS & HEALTH

Riset soal Perbandingan Rokok dan Vape Harus Diperbanyak

Medcom
Jumat 11 November 2022 / 18:00
Jakarta: Anggota tim pengkaji Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (SF-ITB), Rahmana Emran Kartasasmita, menyebut penelitian mengenai produk tembakau alternatif di Indonesia terbilang minim. Padahal, kajian ilmiah itu sangat dibutuhkan untuk menjadi sumber informasi yang valid.

SF-ITB sebelumnya melakukan kajian yang berjudul "Perbandingan Profil Risiko Kesehatan Produk Tembakau yang Dipanaskan Versus Rokok Kretek Indonesia. Dalam kajian itu disebutkan produk tembakau yang dipanaskan secara komparatif memiliki risiko yang lebih rendah daripada rokok.

"Saya mengajak seluruh kalangan, mulai dari akademisi hingga peneliti lainnya, untuk melakukan penelitian ini dan melakukan kajian lebih lanjut dari hasil temuan kami. Hasil kajian tersebut dapat dijadikan awalan untuk memperkaya teks akademik bagi pengambil kebijakan, peneliti lain, serta untuk pemahaman masyarakat umum," kata Rahmana Emran Kartasasmita.

Dengan mendapatkan informasi yang akurat mengenai produk tembakau alternatif, maka pembuat kebijakan diharapkan dapat merumuskan kebijakan yang komprehensif terhadap produk tersebut.

"Mereka harus terus-menerus diinformasikan tentang perkembangan serta inovasi teknologi di industri hasil tembakau untuk membuat keputusan yang paling tepat bagi langkah-langkah legislatif serta rekomendasi kebijakan," ucapnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif International Network of Nicotine Consumer Organizations (INNCO), Charles Gardner menambahkan, sejumlah pihak harsus mendorong lebih banyak lagi riset yang berfokus terhadap perbandingan profil risiko antara produk tembakau alternatif dengan rokok.

Hasil riset tersebut bisa digunakan untuk meyakinkan perokok dewasa yang kesulitan untuk berhenti merokok untuk beralih ke produk tembakau alternatif.

"Jika perokok dewasa tidak diberikan pilihan untuk beralih ke produk tembakau alternatif, maka ini adalah sebuah kelalaian," ucapnya.






 
(ELG)

MOST SEARCH