FITNESS & HEALTH
Covid dan Asma: Apakah Covid Memperburuk Asma atau Sebaliknya?
Mia Vale
Jumat 02 Desember 2022 / 07:00
Jakarta: Para ahli mengatakan orang yang menderita asma harus berhati-hati dengan covid. Bersamaan dengan itu, orang-orang yang memiliki kecenderungan asma namun belum menjalani diagnosis yang tepat juga harus berhati-hati terhadap covid.
Seperti diketahui, tanda-tanda asma adalah batuk, mengi, sesak napas dan sesak dada. Ada beberapa pemicu asma tapi yang umum adalah infeksi virus (pilek), debu, asap, perubahan cuaca, serbuk sari rumput dan pohon, bulu dan bulu binatang, sabun dan parfum yang kuat.
Secara medis, asma didefinisikan sebagai komplikasi kesehatan di mana saluran udara menyempit, bengkak, dan menghasilkan lendir berlebih. Sementara, mengi adalah suara siulan saat batuk yang menjadi ciri khas asma. Oleh sebab itu, asma dan covid harus dilihat lebih detail karena keduanya mengganggu kemampuan bernapas pada individu yang terinfeksi.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan, orang dengan asma umumnya dianggap berisiko lebih tinggi dari infeksi pernapasan, seperti yang terlihat setiap tahun dengan influenza. Menurut studi tahun 2022, prevalensi asma pada pasien covid lebih rendah, terutama jika dibandingkan dengan penyakit penyerta lain seperti diabetes. Dan hanya sedikit yang mungkin memerlukan pengobatan tambahan.

(Dr Singh mengimbau masyarakat untuk tidak mempercayai mitos bahwa inhaler tidak baik untuk pasien covid. Foto: Ilustrasi. Dok. Freepik.com)
Sebuah studi tahun 2021 yang dilakukan oleh Yale School of Medicine menemukan bahwa penderita asma relatif terlindungi dari Covid yang parah. Studi terhadap 8000 pasien covid menemukan bahwa orang yang menderita asma lebih mungkin bertahan hidup dibandingkan dengan orang yang tidak menderita asma. "Alasannya, beberapa obat yang digunakan untuk asma membantu mengurangi peradangan yang disebabkan oleh Covid-19," ujar para peneliti.
Masih dikatakan oleh Dr Singh, penderita asma yang parah mereka yang menggunakan inhaler, disarankan oleh dokter untuk terus mengunci diri dan tidak pergi ke tempat umum hingga akhir gelombang ketiga pandemi. "Dalam kasus orang yang menderita asma selama covid, mereka harus terus menggunakan inhaler untuk mencegah tertular covid yang parah," tambah Dr Singh. Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak mempercayai mitos bahwa inhaler tidak baik untuk pasien covid.
(yyy)
Seperti diketahui, tanda-tanda asma adalah batuk, mengi, sesak napas dan sesak dada. Ada beberapa pemicu asma tapi yang umum adalah infeksi virus (pilek), debu, asap, perubahan cuaca, serbuk sari rumput dan pohon, bulu dan bulu binatang, sabun dan parfum yang kuat.
Secara medis, asma didefinisikan sebagai komplikasi kesehatan di mana saluran udara menyempit, bengkak, dan menghasilkan lendir berlebih. Sementara, mengi adalah suara siulan saat batuk yang menjadi ciri khas asma. Oleh sebab itu, asma dan covid harus dilihat lebih detail karena keduanya mengganggu kemampuan bernapas pada individu yang terinfeksi.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan, orang dengan asma umumnya dianggap berisiko lebih tinggi dari infeksi pernapasan, seperti yang terlihat setiap tahun dengan influenza. Menurut studi tahun 2022, prevalensi asma pada pasien covid lebih rendah, terutama jika dibandingkan dengan penyakit penyerta lain seperti diabetes. Dan hanya sedikit yang mungkin memerlukan pengobatan tambahan.

(Dr Singh mengimbau masyarakat untuk tidak mempercayai mitos bahwa inhaler tidak baik untuk pasien covid. Foto: Ilustrasi. Dok. Freepik.com)
Kontrol asma agar aman dari covid
Melansir dari Times of India, Dr Manoj Singh, Spesialis Perawatan Dada & Kritis Senior, Rumah Sakit Apollo, Ahmedabad, menjelaskan bahwa bila seseorang memiliki asma yang terkontrol dengan baik, tidak ada tambahan peningkatan risiko covid. Menurut penelitian internasional, hanya empat hingga delapan persen insiden ditemukan di mana pasien asma mengembangkan gejala covid yang parah, yang secara statistik tidak signifikan.Sebuah studi tahun 2021 yang dilakukan oleh Yale School of Medicine menemukan bahwa penderita asma relatif terlindungi dari Covid yang parah. Studi terhadap 8000 pasien covid menemukan bahwa orang yang menderita asma lebih mungkin bertahan hidup dibandingkan dengan orang yang tidak menderita asma. "Alasannya, beberapa obat yang digunakan untuk asma membantu mengurangi peradangan yang disebabkan oleh Covid-19," ujar para peneliti.
Kapan asma menjadi masalah?
Jika seseorang menderita asma dan penyakit penyerta seperti diabetes, obesitas, penyakit jantung atau paru kronis, maka dia dapat mengembangkan penyakit covid-19 yang parah. Dan orang yang asmanya tidak terdeteksi, gejala Covid-nya justru bisa menjadi parah. "Banyak pasien dengan asma yang tidak terdeteksi selama Covid mengeluhkan batuk dan mengi yang terus menerus," jelas Dr Singh.Masih dikatakan oleh Dr Singh, penderita asma yang parah mereka yang menggunakan inhaler, disarankan oleh dokter untuk terus mengunci diri dan tidak pergi ke tempat umum hingga akhir gelombang ketiga pandemi. "Dalam kasus orang yang menderita asma selama covid, mereka harus terus menggunakan inhaler untuk mencegah tertular covid yang parah," tambah Dr Singh. Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak mempercayai mitos bahwa inhaler tidak baik untuk pasien covid.
(yyy)