FITNESS & HEALTH
Apakah Pantyliner Bisa Sebabkan Kanker? Simak Penjelasan Dokter
Fatha Annisa
Selasa 27 Oktober 2026 / 19:30
- Pantyliner sering digunakan untuk menyerap keputihan dan bercak darah ringan, tetapi keamanannya masih menjadi perhatian.
- Dokter spesialis kanker menjelaskan belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan penggunaan pantyliner secara normal dapat menyebabkan kanker.
- Untuk menghindari iritasi, pilih produk tanpa pewangi, ganti secara teratur, dan gunakan sesuai kebutuhan.
Jakarta: Pantyliner sering menjadi andalan perempuan untuk menyerap keputihan, menjaga area intim tetap terasa nyaman, atau mengantisipasi bercak darah di luar jadwal menstruasi. Di balik kepraktisannya, kerap muncul pertanyaan apakah pantyliner aman digunakan?
Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2024 menemukan 16 jenis logam, termasuk timbal, arsenik, dan kadmium, dalam tampon. Temuan ini pun turut mendorong perhatian terhadap bahan yang digunakan dalam produk kebersihan menstruasi lainnya.
Meski begitu, melansir Hindustan Times, dokter spesialis kanker (onkolog) di HOC Vedanta Dr. Jay Dadhania menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa penggunaan pantyliner secara normal dapat menyebabkan kanker.
Bahan yang digunakan dapat berupa selulosa, kapas, serat sintetis, perekat, dan jenis plastik tertentu. Komposisi setiap produk juga bisa berbeda, bergantung pada produsen dan jenis pantyliner yang digunakan.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Environment International pada 2020 menemukan sejumlah ftalat dan paraben dalam sampel produk kebersihan perempuan, termasuk pantyliner.
Namun, menurut Dadhania, ditemukannya suatu bahan kimia tidak otomatis berarti produk tersebut beracun. Penilaian risiko perlu mempertimbangkan kadar bahan kimia, kemampuan zat tersebut masuk ke dalam tubuh, durasi paparan, serta sifat racunnya.
Seperti disebutkan sebelumnya, hingga saat ini, bukti ilmiah yang tersedia juga belum cukup untuk memastikan adanya hubungan antara penggunaan pantyliner dan kanker leher rahim, rahim, ovarium, maupun vulva.
1. Pilih produk tanpa pewangi: Produk tanpa pewangi dapat menjadi pilihan bagi perempuan yang rentan mengalami iritasi atau memiliki kulit sensitif.
2. Periksa label dan petunjuk penggunaan: Baca informasi bahan, cara pemakaian, serta keterangan dari produsen sebelum menggunakan produk.
3. Ganti secara teratur: Jangan memakai pantyliner yang sudah lembap atau kotor terlalu lama. Ganti dengan yang baru sesuai kebutuhan.
4. Kenali tanda iritasi: Jika muncul rasa gatal, kemerahan, sensasi terbakar, atau ruam, hentikan pemakaian dan konsultasikan dengan tenaga medis jika keluhan berlanjut.
5. Hindari produk perawatan intim yang tidak diperlukan: Jika tidak dibutuhkan, hindari sabun khusus area intim, deodoran intim, dan douching atau membersihkan bagian dalam vagina karena dapat memicu iritasi.
Dibanding menggunakan pantyliner, Dadhania menyarankan beberapa alternatif, seperti mengenakan celana dalam yang memungkinkan sirkulasi udara, mengganti pakaian dalam secara teratur, serta membersihkan bagian luar area genital menggunakan air.
Jadi, apabila Sobat Medcom merasa nyaman menggunakan pantyliner, perhatikan kebersihan dan cara pemakaiannya. Namun, jika tidak membutuhkannya, kamu tidak perlu memaksakan diri untuk menggunakannya setiap hari.
(PRI)
Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2024 menemukan 16 jenis logam, termasuk timbal, arsenik, dan kadmium, dalam tampon. Temuan ini pun turut mendorong perhatian terhadap bahan yang digunakan dalam produk kebersihan menstruasi lainnya.
Meski begitu, melansir Hindustan Times, dokter spesialis kanker (onkolog) di HOC Vedanta Dr. Jay Dadhania menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa penggunaan pantyliner secara normal dapat menyebabkan kanker.
Bahan Pembuat Pantyliner
Pantyliner umumnya terdiri dari tiga lapisan. Lapisan penyerap berfungsi menampung keputihan atau kelembapan, lapisan atas yang lembut bersentuhan langsung dengan kulit, sedangkan lapisan bawah membantu mencegah cairan merembes ke pakaian dalam.Bahan yang digunakan dapat berupa selulosa, kapas, serat sintetis, perekat, dan jenis plastik tertentu. Komposisi setiap produk juga bisa berbeda, bergantung pada produsen dan jenis pantyliner yang digunakan.
Bahan Kimia dalam Pantyliner
Dadhania menyebutkan sejumlah bahan kimia, seperti ftalat, paraben, dan beberapa jenis senyawa organik yang mudah menguap (volatile organic compounds atau VOCs), tengah diteliti untuk mengetahui kemungkinan dampak paparannya dalam jangka panjang.Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Environment International pada 2020 menemukan sejumlah ftalat dan paraben dalam sampel produk kebersihan perempuan, termasuk pantyliner.
Namun, menurut Dadhania, ditemukannya suatu bahan kimia tidak otomatis berarti produk tersebut beracun. Penilaian risiko perlu mempertimbangkan kadar bahan kimia, kemampuan zat tersebut masuk ke dalam tubuh, durasi paparan, serta sifat racunnya.
Seperti disebutkan sebelumnya, hingga saat ini, bukti ilmiah yang tersedia juga belum cukup untuk memastikan adanya hubungan antara penggunaan pantyliner dan kanker leher rahim, rahim, ovarium, maupun vulva.
Tips Aman Menggunakan Pantyliner
Kendati belum bisa dipastikan hubungan antara pantyliner dengan kanker, Sobat Medcom tetap perlu memperhatikan cara pemakaian dan kemungkinan munculnya iritasi. Agar tetap nyaman saat menggunakan pantyliner, berikut hal yang bisa diperhatikan:1. Pilih produk tanpa pewangi: Produk tanpa pewangi dapat menjadi pilihan bagi perempuan yang rentan mengalami iritasi atau memiliki kulit sensitif.
2. Periksa label dan petunjuk penggunaan: Baca informasi bahan, cara pemakaian, serta keterangan dari produsen sebelum menggunakan produk.
3. Ganti secara teratur: Jangan memakai pantyliner yang sudah lembap atau kotor terlalu lama. Ganti dengan yang baru sesuai kebutuhan.
4. Kenali tanda iritasi: Jika muncul rasa gatal, kemerahan, sensasi terbakar, atau ruam, hentikan pemakaian dan konsultasikan dengan tenaga medis jika keluhan berlanjut.
5. Hindari produk perawatan intim yang tidak diperlukan: Jika tidak dibutuhkan, hindari sabun khusus area intim, deodoran intim, dan douching atau membersihkan bagian dalam vagina karena dapat memicu iritasi.
Apakah semua perempuan perlu memakai pantyliner?
Meski praktis untuk menyerap keputihan atau bercak darah ringan, pantyliner bukan kebutuhan wajib bagi semua perempuan. Penggunaannya dapat disesuaikan dengan kenyamanan dan kebutuhan masing-masing.Dibanding menggunakan pantyliner, Dadhania menyarankan beberapa alternatif, seperti mengenakan celana dalam yang memungkinkan sirkulasi udara, mengganti pakaian dalam secara teratur, serta membersihkan bagian luar area genital menggunakan air.
Jadi, apabila Sobat Medcom merasa nyaman menggunakan pantyliner, perhatikan kebersihan dan cara pemakaiannya. Namun, jika tidak membutuhkannya, kamu tidak perlu memaksakan diri untuk menggunakannya setiap hari.
(PRI)