FITNESS & HEALTH

Sakit Kepala hingga Gangguan Menstruasi Bisa Berkaitan dengan Masalah Pituitari

Elang Riki Yanuar
Minggu 04 Oktober 2026 / 16:00
Ringkasnya gini..
  • Sakit kepala, gangguan penglihatan, dan perubahan menstruasi bisa menjadi tanda gangguan pituitari yang perlu diperiksa lebih lanjut.
  • Tumor pituitari dapat memengaruhi penglihatan dan keseimbangan hormon, sehingga pengenalan gejala sejak dini penting untuk mencegah komplikasi.
  • Pituitary Awareness Month 2026 mengajak masyarakat mengenali fungsi pituitari dan lebih peka terhadap perubahan tubuh yang menetap.
Jakarta: Sakit kepala yang terus muncul, penglihatan yang perlahan terganggu, hingga perubahan siklus menstruasi kerap dianggap sebagai keluhan kesehatan yang berdiri sendiri. Padahal, sejumlah gejala tersebut dapat berkaitan dengan gangguan pada kelenjar pituitari atau hipofisis.

Kelenjar pituitari merupakan organ kecil yang berada di dasar otak. Meski ukurannya relatif kecil, kelenjar ini memiliki peran penting dalam mengatur berbagai hormon yang berhubungan dengan pertumbuhan, metabolisme, fungsi reproduksi, serta sejumlah proses penting lainnya dalam tubuh.

Salah satu kondisi yang dapat mengganggu fungsi pituitari adalah tumor pada kelenjar tersebut. Sebagian besar tumor pituitari bersifat jinak, tetapi pertumbuhannya tetap dapat menimbulkan masalah karena kelenjar ini berada di area yang berdekatan dengan sejumlah struktur penting.

Ketika tumor membesar, tekanan terhadap jaringan di sekitarnya dapat memengaruhi penglihatan. Pada saat yang sama, gangguan pada produksi hormon juga dapat menyebabkan perubahan fungsi tubuh yang terkadang sulit dikaitkan dengan masalah pituitari.

Gejala gangguan pituitari pun dapat muncul secara bertahap. Kondisi tersebut membuat sebagian orang tidak langsung menyadari adanya masalah hingga keluhan menjadi semakin mengganggu dan tumor telah berkembang ke tahap yang lebih kompleks.

Gangguan penglihatan menjadi salah satu tanda yang perlu diperhatikan. Keluhan dapat berupa penyempitan penglihatan bagian samping yang terjadi perlahan. Jika tidak mendapatkan penanganan, kondisi tersebut berisiko menyebabkan gangguan penglihatan yang lebih serius.

“Gangguan penglihatan akibat tumor pituitari dapat berkembang perlahan dan, bila tidak ditangani, bahkan dapat menyebabkan kebutaan. Kondisi ini termasuk preventable blindness, sehingga bila dikenali dan ditangani lebih awal, risiko kehilangan penglihatan dapat dicegah,” ujar dr. Dialika Muzakkir, Sp.M, Subspesialis Neuro Oftalmologi.
Pada perempuan, gangguan hormon yang berkaitan dengan tumor pituitari juga dapat memengaruhi sistem reproduksi. Beberapa keluhan yang mungkin muncul antara lain menstruasi tidak teratur, berhentinya menstruasi, kesulitan mendapatkan kehamilan, hingga keluarnya ASI meski tidak sedang menyusui.

Perubahan ukuran sepatu atau cincin juga dapat menjadi salah satu perubahan tubuh yang perlu diperhatikan, terutama bila terjadi bersamaan dengan keluhan lain. Karena gejalanya beragam, kondisi ini membutuhkan pemeriksaan untuk memastikan penyebabnya.

“Gangguan pituitari dapat berkaitan dengan berbagai fungsi tubuh, sehingga pemahamannya perlu diperkenalkan lebih luas. Edukasi kepada masyarakat diharapkan dapat membantu mengenalkan peran pituitari dan membuat masyarakat lebih peka terhadap perubahan tubuh yang terjadi,” ujar dr. Dicky Levenus Tjahary, Sp.PD-KEMD, Ketua Pokja Hipofisis PERKENI.
 
WhatsApp Image 2026-10-04 at 13_12_12


Upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai kondisi tersebut menjadi bagian dari Pituitary Awareness Month 2026. Program ini digelar Yayasan Komunitas Pituitari Indonesia bersama Kelompok Kerja Hipofisis PERKENI melalui sejumlah kegiatan edukasi mengenai kesehatan pituitari.

Diagnosis tumor atau gangguan pituitari tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan gejala. Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan diperlukan untuk mengetahui penyebab keluhan. Jika dibutuhkan, pasien dapat menjalani pemeriksaan hormonal serta pencitraan untuk mendapatkan gambaran kondisi yang lebih lengkap.

Ketua Yayasan Komunitas Pituitari Indonesia, dr. Selfy Oswari, Sp.BS, Subsp.N-Onk(K), S.Si, mengatakan masyarakat perlu lebih mengenali tanda-tanda gangguan pituitari agar pemeriksaan dapat dilakukan lebih awal.

“Kami berharap masyarakat semakin mengenali gejala gangguan pituitari sejak awal. Semakin cepat dikenali dan diperiksa, semakin cepat pula pasien dapat memperoleh penanganan yang sesuai, sehingga peluang untuk mendapatkan hasil pengobatan yang lebih baik juga semakin besar,” ujar dr. Selfy.

Edukasi mengenai pituitari kemudian dibawa lebih dekat kepada masyarakat melalui kegiatan yang digelar pada Minggu, 4 Oktober 2026. Rangkaian tersebut mencakup Senam Pituitary, Pemeriksaan Kesehatan Gratis, dan Edukasi Tumor Pituitari di area Car Free Day Sudirman, dekat Patung Sudirman, di samping Jakarta Creative Zone by JXB.

Kegiatan tersebut dirancang untuk mengenalkan fungsi pituitari dengan cara yang lebih mudah dipahami. Masyarakat juga diajak lebih peka terhadap perubahan tubuh yang menetap dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila menemukan keluhan yang tidak biasa.

Melalui Pituitary Awareness Month 2026, Yayasan Komunitas Pituitari Indonesia berharap pengetahuan mengenai kesehatan pituitari semakin luas. Pengenalan gejala sejak dini diharapkan dapat mendorong masyarakat melakukan pemeriksaan sehingga gangguan dapat diketahui dan ditangani sesuai kondisi masing-masing.






 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)

MOST SEARCH