FITNESS & HEALTH

Budget Keluarga Lagi Ketat? Begini Cara Tetap Penuhi Gizi Tanpa Bikin Kantong Jebol

A. Firdaus
Kamis 27 Agustus 2026 / 14:13
Ringkasnya gini..
  • Budget keluarga sedang ketat? Kebutuhan gizi tetap bisa dipenuhi dengan bahan pangan terjangkau. Simak tips memilih protein dan menyusun menu seimbang.
  • Sumber protein hewani kerap dianggap mahal.
  • Kondisi ekonomi membuat masyarakat perlu semakin cermat menentukan prioritas pengeluaran, termasuk untuk kebutuhan nutrisi keluarga.
Jakarta: Harga kebutuhan pokok yang naik dan daya beli yang ikut tertekan membuat keluarga harus makin pintar mengatur pengeluaran. Namun, urusan nutrisi sebaiknya tetap menjadi prioritas, terutama ketika menyangkut tumbuh kembang anak.

Hal tersebut dibahas dalam media talk Forum Ngobras dan Frisian Flag Indonesia bertajuk “Budget Boleh Minimal, Nutrisi Harus Tetap Optimal” di Jakarta, Rabu, 26 Agustus 2026.

Kepala Lembaga Demografi sekaligus dosen dan peneliti Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), I Dewa Gede Karma Wisana, mengatakan tekanan ekonomi memang dapat memengaruhi pola konsumsi keluarga.
“Semakin rendah pendapatan, makin habis anggaran belanja untuk makan,” ujar Dewa.

Berdasarkan data SUSENAS 2024 dan 2025 yang dikutip Dewa, belanja nonmakanan meningkat 5,98 persen, sedangkan belanja makanan bertambah 3,16 persen. Kondisi tersebut menunjukkan adanya trade off dalam pengeluaran rumah tangga.

Ketika biaya kebutuhan lain meningkat, keluarga bisa memilih makanan yang lebih sederhana. Masalahnya, yang sering dikurangi bukan jumlah makanan atau kalori, melainkan kualitas gizinya.

“Beras tetap dibeli, tapi lauknya menyusut. Alokasi belanja protein seperti ikan, telur, susu, dan daging jadi makin kecil,” jelasnya.
 

Jangan Cuma Kejar Kenyang


Menurut Dewa, keluarga cenderung lebih mudah memenuhi kebutuhan karbohidrat karena harganya relatif terjangkau. Sementara itu, sumber protein hewani kerap dianggap mahal.

Padahal, protein hewani tidak melulu berasal dari daging sapi.

Ikan, ayam, telur, dan susu dapat menjadi pilihan yang lebih ramah di kantong. Bahkan, telur dan ikan disebut bisa menjadi backbone sumber protein hewani untuk keluarga sehari-hari.

“Daging sapi memang mahal, tapi ada protein hewani lain seperti ikan, ayam, telur dan susu yang tidak semahal itu,” kata Dewa.

Ia mengingatkan, mengorbankan kualitas gizi dalam jangka panjang dapat berdampak pada kemampuan fisik dan kognitif anak. Jika kesenjangan asupan gizi terus terjadi, generasi mendatang berisiko memiliki produktivitas yang kurang optimal.
 

Makanan Sehat Tak Harus Mahal


Ahli Nutrisi Tara Mutiara Ramdani, S.Gz., M.Sc., mengatakan anggapan bahwa makanan sehat harus menggunakan bahan tertentu justru perlu ditinggalkan.

“Makanan sehat itu tidak harus mahal. Jangan sampai kita punya mindset bahwa makanan sehat identik dengan bahan pangan tertentu, misalnya ikan salmon,” ungkap Tara.

Menurutnya, masyarakat Indonesia sebenarnya memiliki banyak pilihan pangan lokal yang bisa dimanfaatkan. Karbohidrat, misalnya, tidak harus selalu berasal dari nasi putih.

Umbi-umbian seperti kimpul hingga berbagai jenis beras dapat menjadi alternatif agar sumber karbohidrat lebih beragam.

Untuk protein, tempe dan tahu bisa menjadi pilihan ekonomis dari kelompok protein nabati. Sementara itu, ikan dan telur dapat dipilih sebagai sumber protein hewani yang relatif mudah ditemukan.

“Apalagi Indonesia negara kepulauan; keanekaragaman ikan sangat tinggi. Ikan juga mengandung lemak tak jenuh yang sehat,” jelas Tara.
 

Susun Menu dengan Prinsip Gizi Seimbang


Tara menyarankan keluarga tetap berpedoman pada prinsip Tumpeng Gizi dan Isi Piringku ketika menyusun menu.

Intinya, jangan hanya membuat makanan yang mengenyangkan, tetapi pastikan piring juga diisi dengan sumber karbohidrat, sayur, protein, dan buah.

Strateginya pun tidak harus rumit. Saat membeli lauk, misalnya, orang tua bisa mempertimbangkan kandungan gizinya dan mencari kombinasi makanan yang saling melengkapi.

“Jangan asal kenyang tapi minim gizi,” tegas Tara.

Bahkan ketika kondisi keuangan sedang terbatas, keluarga tidak perlu merasa bersalah jika sesekali membeli makanan di luar atau processed food. Makanan dari warteg pun tetap bisa dibuat lebih seimbang.

“Beli makanan di warteg pun bisa mendapatkan gizi yang baik. Atau misalnya kita goreng sosis untuk lauk, maka tambahkan sayur yang lebih beragam, jadi asupan gizi tetap optimal,” katanya.

Dengan kata lain, makan bergizi bukan soal mahal atau murah, melainkan bagaimana memilih dan mengombinasikan makanan yang tersedia secara lebih cerdas.
 

Jangan Sampai Budget Minim, Gizinya Ikutan Minim


Corporate Affairs Director PT Frisian Flag Indonesia, Andrew F. Saputro, mengatakan kondisi ekonomi membuat masyarakat perlu semakin cermat menentukan prioritas pengeluaran, termasuk untuk kebutuhan nutrisi keluarga.


Corporate Affairs Director PT Frisian Flag Indonesia, Andrew F. Saputro. Dok. Ist

“Pengetahuan mengenai nutrisi menjadi semakin penting agar masyarakat dapat mengambil keputusan yang tepat sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya,” ujar Andrew.

Menurutnya, edukasi mengenai nutrisi juga penting agar keluarga tidak hanya berfokus pada harga makanan, tetapi memahami bagaimana memenuhi kebutuhan gizi dengan pilihan yang tersedia.

Pada akhirnya, anggaran terbatas bukan berarti menu keluarga harus kehilangan kualitas. Dengan memanfaatkan bahan pangan lokal, memilih sumber protein yang terjangkau, serta menyusun kombinasi makanan secara tepat, kebutuhan gizi keluarga tetap bisa diperhatikan tanpa harus membuat pengeluaran membengkak.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH