FITNESS & HEALTH
Mengenal Karakter dan Cara Menghadapi Si Playing Victim
A. Firdaus
Rabu 13 Desember 2023 / 14:11
Jakarta: Seiring bertambahnya usia, kita bakal bertemu dan mengenal orang lebih banyak lagi. Tentunya dengan beragam sifat dari orang tersebut.
Salah satu sifat yang kerap dibicarakan adalah Playing Victim. Istilah ini sering digunakan banyak orang, khususnya anak-anak muda.
Playing Victim adalah tindakan seseorang yang selalu menempatkan dirinya sebagai korban dalam suatu konflik. Padahal, belum tentu ia merupakan korban yang sebenarnya.
Playing victim bisa juga disebut dengan victim mentality. Seseorang yang suka playing victim selalu merasa dirinya menjadi pihak paling tersakiti, kemudian melempar kesalahannya kepada orang lain.
Sederhananya, mereka merasa orang paling menderita dan tidak ada yang bisa mengubah situasi tersebut. Hal itu dilakukan demi bisa mengontrol pikiran maupun perasaan orang lain, mendapat simpati orang lain, serta melepaskan diri dari tanggung jawab atas kesalahan yang sesungguhnya mereka lakukan.
Menurut The Asian Parent, perilaku playing victim bersifat manipulatif dan masuk ke dalam kelompok toxic. Sebab, pelakunya akan membenarkan segala tindakan yang dilakukan dan membuat orang lain yang tidak berbuat kesalahan justru merasa bersalah.
Perilaku ini juga tidak baik untuk diri sendiri, sebab pelaku playing victim kerap menempatkan diri sebagai korban dari kehidupan. Hal itu yang kemudian membuat mereka sulit berkembang dan keluar dari titik terendah hidupnya.
Sebagian orang menunjukan perilaku ini dengan sadar, tetapi sebagian lainnya melakukan dengan tidak sadar. Karena ada sejumlah orang yang masih belum memahami baik dan buruk dirinya sendiri.
Sementara itu, kemunculan perilaku ini dapat terjadi karena sejumlah alasan, seperti:
1. Adanya trauma masa lalu.
2. Pernah dikhianati.
3. Memiliki kecenderungan untuk menghancurkan diri.
4. Ketergantungan minuman beralkohol dan obat-obatan terlarang.
Tanda orang yang memiliki karakter ini beragam. Dihimpun dari beberapa sumber, cirinya antara lain:
Melansir Healthline, Vicki Botnick, seorang terapis pernikahan dan keluarga di California mengatakan bahwa salah satu tanda playing victim adalah selalu menghindar dari tanggung jawab. Mereka sulit memberikan tanggung jawab, tidak ingin dibebani tanggung jawab, dan tidak bisa dipercaya.
Ciri paling utama orang playing victim selanjutnya adalah hobi menyalahkan orang lain. Mereka tidak peduli dan tidak mau mengaku jika dirinya melakukan kesalahan, karena untuknya yang paling bersalah adalah orang lain.
Mereka akan berusaha membuat citra dirinya suci dan bebas dari kesalahan. Sementara orang-orang di sekitarnya dibuat seolah-olah menjadi orang jahat. Selain itu, mereka juga tidak mau minta maaf untuk alasan apapun.
Semua masalah pasti memiliki solusi untuk menyelesaikannya. Namun, orang-orang dengan karakter playing victim tidak menunjukkan ketertarikan dalam mencari solusi. Mereka umumnya menolak untuk dibantu, dan memilih untuk mengasihani diri sendiri saat sedang terpuruk.
Orang berperilaku playing victim ahli memanipulasi orang lain di sekitarnya. Mereka bisa dengan mudah mendapat simpati dan dukungan Anda, atau membuat Anda merasa bersalah atas hal yang pernah Anda lakukan kepada mereka.
Ketika terlibat dalam konflik, mereka hanya menceritakannya dari satu sudut pandang, yakni perspektif mereka sendiri dan tak jarang akan memutar balikkan fakta untuk mendapat keuntungan.
Ciri playing victim lainnya adalah rasa percaya diri yang rendah. Mereka selalu melihat diri mereka sebagai korban, salah satunya adalah korban dari kehidupan apabila sesuatu yang diinginkan atau dicita-citakan gagal terwujud.
Akibatnya, mereka menjadi sulit untuk melihat kesempatan yang sebenarnya ada dan tidak berkembang.
Nyatanya, orang dengan victim mentality memiliki emosi yang bergejolak. Mereka kerap merasa marah pada dunia yang sepertinya selalu bertentangan dengan mereka, tidak ada harapan dalam hidup untuk berubah, merasa tersakiti ketika tidak dipedulikan orang lain, dan marah ketika melihat orang terlihat bahagia.
Seorang berkarakter playing victim tidak bisa menerima jika pada dasarnya setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Oleh karena itu, mereka akan senantiasa membandingkan diri dengan orang lain.
Memang terlihat sangat menjengkelkan, apalagi jika kamu yang sedang berhadapan dengan orang-orang playing victim. Sebab, kamu harus menerima kesalahan yang tidak kamu lakukan. Jika sedang berurusan dengan pelaku tindakan playing victim, coba beberapa cara berikut ini untuk menghadapinya, melansir Halodoc:
Cara paling mudah untuk menghadapi pelaku tindak playing victim adalah membuat batasan yang jelas. Tidak harus memutus komunikasi, tapi kamu hanya berbicara atau berinteraksi dengan pelaku apabila ada hal yang memang bersifat urgensi. Misalnya urusan pekerjaan.
Bisa jadi, seseorang melakukan tindak playing victim karena sedang mengalami masalah serius di kehidupan pribadinya. Misalnya, ia merasa tidak percaya diri, putus asa, bahkan rendah diri dan sedang terus berjuang untuk keluar dari permasalahan tersebut. Jika kamu sudah mengetahui alasan pelaku melakukan tindakan playing victim, kamu mungkin bisa menawarkan bantuan kepada mereka.
Saat sedang berhadapan dengan pelaku playing victim, sebisa mungkin hindari memberikan cap atau label dengan berkata bahwa pelaku sedang bertindak menjadi korban dan melimpahkan kesalahan pada orang lain.
Lebih baik kamu ungkapkan apa saja tindakan yang dilakukan, seperti terlalu banyak mengeluh atau tidak melakukan pekerjaan seperti seharusnya. Jadi, kamu dan pelaku bisa bersama-sama mencari solusi yang paling baik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Salah satu sifat yang kerap dibicarakan adalah Playing Victim. Istilah ini sering digunakan banyak orang, khususnya anak-anak muda.
Playing Victim adalah tindakan seseorang yang selalu menempatkan dirinya sebagai korban dalam suatu konflik. Padahal, belum tentu ia merupakan korban yang sebenarnya.
Playing victim bisa juga disebut dengan victim mentality. Seseorang yang suka playing victim selalu merasa dirinya menjadi pihak paling tersakiti, kemudian melempar kesalahannya kepada orang lain.
Sederhananya, mereka merasa orang paling menderita dan tidak ada yang bisa mengubah situasi tersebut. Hal itu dilakukan demi bisa mengontrol pikiran maupun perasaan orang lain, mendapat simpati orang lain, serta melepaskan diri dari tanggung jawab atas kesalahan yang sesungguhnya mereka lakukan.
Playing Victim termasuk Toxic
Menurut The Asian Parent, perilaku playing victim bersifat manipulatif dan masuk ke dalam kelompok toxic. Sebab, pelakunya akan membenarkan segala tindakan yang dilakukan dan membuat orang lain yang tidak berbuat kesalahan justru merasa bersalah.
Perilaku ini juga tidak baik untuk diri sendiri, sebab pelaku playing victim kerap menempatkan diri sebagai korban dari kehidupan. Hal itu yang kemudian membuat mereka sulit berkembang dan keluar dari titik terendah hidupnya.
Pemicu seseorang melakukan Playing Victim
Sebagian orang menunjukan perilaku ini dengan sadar, tetapi sebagian lainnya melakukan dengan tidak sadar. Karena ada sejumlah orang yang masih belum memahami baik dan buruk dirinya sendiri.
Sementara itu, kemunculan perilaku ini dapat terjadi karena sejumlah alasan, seperti:
1. Adanya trauma masa lalu.
2. Pernah dikhianati.
3. Memiliki kecenderungan untuk menghancurkan diri.
4. Ketergantungan minuman beralkohol dan obat-obatan terlarang.
Apa ciri orang Playing Victim?
Tanda orang yang memiliki karakter ini beragam. Dihimpun dari beberapa sumber, cirinya antara lain:
1. Menghindari Tanggung Jawab
Melansir Healthline, Vicki Botnick, seorang terapis pernikahan dan keluarga di California mengatakan bahwa salah satu tanda playing victim adalah selalu menghindar dari tanggung jawab. Mereka sulit memberikan tanggung jawab, tidak ingin dibebani tanggung jawab, dan tidak bisa dipercaya.
2. Suka Menyalahkan Orang Lain
Ciri paling utama orang playing victim selanjutnya adalah hobi menyalahkan orang lain. Mereka tidak peduli dan tidak mau mengaku jika dirinya melakukan kesalahan, karena untuknya yang paling bersalah adalah orang lain.
Mereka akan berusaha membuat citra dirinya suci dan bebas dari kesalahan. Sementara orang-orang di sekitarnya dibuat seolah-olah menjadi orang jahat. Selain itu, mereka juga tidak mau minta maaf untuk alasan apapun.
3. Fokus pada Masalah, bukan Solusi
Semua masalah pasti memiliki solusi untuk menyelesaikannya. Namun, orang-orang dengan karakter playing victim tidak menunjukkan ketertarikan dalam mencari solusi. Mereka umumnya menolak untuk dibantu, dan memilih untuk mengasihani diri sendiri saat sedang terpuruk.
4. Pandai Memanipulasi
Orang berperilaku playing victim ahli memanipulasi orang lain di sekitarnya. Mereka bisa dengan mudah mendapat simpati dan dukungan Anda, atau membuat Anda merasa bersalah atas hal yang pernah Anda lakukan kepada mereka.
Ketika terlibat dalam konflik, mereka hanya menceritakannya dari satu sudut pandang, yakni perspektif mereka sendiri dan tak jarang akan memutar balikkan fakta untuk mendapat keuntungan.
5. Tidak Percaya Diri
Ciri playing victim lainnya adalah rasa percaya diri yang rendah. Mereka selalu melihat diri mereka sebagai korban, salah satunya adalah korban dari kehidupan apabila sesuatu yang diinginkan atau dicita-citakan gagal terwujud.
Akibatnya, mereka menjadi sulit untuk melihat kesempatan yang sebenarnya ada dan tidak berkembang.
6. Mudah Marah
Nyatanya, orang dengan victim mentality memiliki emosi yang bergejolak. Mereka kerap merasa marah pada dunia yang sepertinya selalu bertentangan dengan mereka, tidak ada harapan dalam hidup untuk berubah, merasa tersakiti ketika tidak dipedulikan orang lain, dan marah ketika melihat orang terlihat bahagia.
7. Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Seorang berkarakter playing victim tidak bisa menerima jika pada dasarnya setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Oleh karena itu, mereka akan senantiasa membandingkan diri dengan orang lain.
Bagaimana menghadapi orang yang Playing Victim
Memang terlihat sangat menjengkelkan, apalagi jika kamu yang sedang berhadapan dengan orang-orang playing victim. Sebab, kamu harus menerima kesalahan yang tidak kamu lakukan. Jika sedang berurusan dengan pelaku tindakan playing victim, coba beberapa cara berikut ini untuk menghadapinya, melansir Halodoc:
1. Buat Batasan yang Jelas
Cara paling mudah untuk menghadapi pelaku tindak playing victim adalah membuat batasan yang jelas. Tidak harus memutus komunikasi, tapi kamu hanya berbicara atau berinteraksi dengan pelaku apabila ada hal yang memang bersifat urgensi. Misalnya urusan pekerjaan.
2. Cari Tahu Alasan Pelaku Melakukannya
Bisa jadi, seseorang melakukan tindak playing victim karena sedang mengalami masalah serius di kehidupan pribadinya. Misalnya, ia merasa tidak percaya diri, putus asa, bahkan rendah diri dan sedang terus berjuang untuk keluar dari permasalahan tersebut. Jika kamu sudah mengetahui alasan pelaku melakukan tindakan playing victim, kamu mungkin bisa menawarkan bantuan kepada mereka.
3. Tidak Memberikan Label
Saat sedang berhadapan dengan pelaku playing victim, sebisa mungkin hindari memberikan cap atau label dengan berkata bahwa pelaku sedang bertindak menjadi korban dan melimpahkan kesalahan pada orang lain.
Lebih baik kamu ungkapkan apa saja tindakan yang dilakukan, seperti terlalu banyak mengeluh atau tidak melakukan pekerjaan seperti seharusnya. Jadi, kamu dan pelaku bisa bersama-sama mencari solusi yang paling baik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)