Ilustrasi/Pexels
Ilustrasi/Pexels

Adiksi Internet Itu Nyata, Psikiater Ungkap Bahayanya Buat Anak

Muhammad Syahrul Ramadhan • 10 Februari 2026 23:07
Ringkasnya gini..
  • Psikiater Anak dan Keluarga, Prof. Tjhin Wiguna, mengingatkan bahwa internet dan AI tidaklah netral.
  • Durasi penggunaan gawai yang berlebihan tanpa pengawasan dapat berdampak permanen pada fungsi otak anak.
  • Jika seorang anak terpapar konten digital secara berlebihan tanpa edukasi, fungsi otak depan ini bisa menjadi "tumpul".
Jakarta: Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan konten digital saat ini memiliki sisi gelap yang perlu diwaspadai oleh setiap orang tua. Psikiater Anak dan Keluarga, Prof. Tjhin Wiguna, mengingatkan bahwa internet dan AI tidaklah netral. 
 
Fokus utama algoritma digital adalah satu: menahan pengguna agar bertahan selama mungkin di dalam platform.
 
Bagi anak-anak yang otaknya masih dalam masa pertumbuhan, durasi penggunaan yang berlebihan tanpa pengawasan dapat berdampak permanen pada fungsi otak mereka.

Prof. Tjhin menjelaskan bahwa bagian otak depan (prefrontal cortex) berfungsi untuk mengatur kontrol emosi, perilaku, dan kendali diri. Jika seorang anak terpapar konten digital secara berlebihan tanpa edukasi, fungsi otak depan ini bisa menjadi "tumpul".
 
"Kontrol emosi dan diri akan terganggu. Anak-anak yang sudah berada pada tahap adiksi internet akan menunjukkan gejala sakit secara psikis; mereka menjadi mudah uring-uringan, marah-marah, hingga kehilangan kendali saat gawai dijauhkan," jelas Prof. Tjhin. 
 
Bahkan, ia menyoroti kecerdikan anak-anak masa kini yang sudah paham menggunakan VPN untuk menembus filter agar tidak terpantau oleh orang tua.
 
Menanggapi fitur perlindungan seperti Family Link, Prof. Tjhin mengakui bahwa fitur ini sering kali dibenci oleh anak-anak karena dianggap membatasi ruang gerak mereka. Oleh karena itu, regulasi teknologi saja tidak cukup.
 
Pola asuh digital yang paling ampuh adalah ketika keluarga memegang kontrol penuh sambil tetap mendampingi anak secara emosional. "Setiap keluarga harus memiliki aturan sendiri yang disesuaikan dengan nilai dan karakter masing-masing. Namun, regulasi awal harus lahir dari dalam keluarga, bukan hanya dari platform," tambahnya.
 
Satu poin krusial yang ditekan oleh Prof. Tjhin adalah keseimbangan figur orang tua. Edukasi digital tidak bisa hanya dibebankan pada salah satu pihak. Ayah dan ibu harus memiliki visi dan aturan yang sama dalam mendidik anak di dunia digital, tanpa kehadiran figur ayah atau ibu yang seimbang, akan timbul bias atau ketidakseimbangan perkembangan karakter pada anak.
 
Menurut Prof. Tjhin, tidak ada yang bisa menggantikan kekuatan hubungan atau bonding antar keluarga. Jika bonding terjalin kuat, anak akan secara alami memiliki kesadaran untuk mengontrol dirinya sendiri.
 
Keluarga wajib membekali anak dengan pengetahuan tentang budi pekerti. Inilah yang akan menjadi kompas bagi anak untuk membedakan mana yang baik dan buruk saat mereka tidak sedang diawasi. 
 
(Fany Wirda Putri)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RUL)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan