COMMUNITY

SEAblings Vs K-Netz: Cara Fans Asia Tenggara Mengguncang Standar K-Pop!

Yatin Suleha
Minggu 15 Februari 2026 / 19:38
Ringkasnya gini..
  • Konflik pecah di dunia maya antara SEAblings Vs K-Netz.
  • Situasi dilaporkan kian memanas karena perdebatan tersebut semakin mengarah pada tindakan rasisme, ujaran kebencian, dan perundungan fisik.
  • Kata pengamat soal SEAblings dan Knetz.
Jakarta: Konflik pecah di dunia maya antara warganet Asia Tenggara yang menyebut diri mereka sebagai "SEAblings" dengan warganet Korea Selatan atau yang dikenal sebagai "K-Netz". 

Perdebatan ini tidak lagi sekadar perbedaan pendapat, namun telah meluas menjadi aksi saling hina mengenai siapa yang lebih baik dari segi ekonomi, budaya, hingga tingkat pendidikan.

Situasi dilaporkan kian memanas karena perdebatan tersebut semakin mengarah pada tindakan rasisme, ujaran kebencian, dan perundungan fisik. 
   

Awal keributan



(Prof. Anang Sujoko, S.Sos., M.Si., D.COMM Ketua Umum Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) dan Analis Komunikasi Politik. Foto: Dok. Tangkapan layar Metro TV)

Keributan massal di media sosial ini dipicu oleh sebuah insiden yang terjadi dalam konser grup musik asal Korea Selatan, Day6, di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 31 Januari yang lalu.

Beberapa penggemar dari Korea Selatan dilaporkan membawa kamera profesional ke dalam lokasi konser meskipun hal tersebut sudah dilarang oleh pihak penyelenggara. 

Aksi para penggemar Korea tersebut direkam oleh penonton lokal, dan videonya menyebar dengan sangat cepat di internet, memicu kritik tajam serta perdebatan panjang di berbagai platform media sosial.

Hingga saat ini, perdebatan di media sosial antara kedua belah pihak masih terus berlangsung. Peristiwa ini menjadi potret nyata bagaimana konflik di era digital dapat tumbuh dan menyebar dengan sangat cepat hingga melampaui batas-batas negara.
 

Kata pengamat soal SEAblings dan Knetz


Prof. Anang Sujoko, S.Sos., M.Si., D.COMM Ketua Umum Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM) dan Analis Komunikasi Politik lewat Metro TV mengatakan, "Ketika kita berbicara mengenai persaudaraan, hal tersebut mulai muncul. Terlebih saat internet telah menjadikan dunia seolah tanpa batas, rasa persaudaraan ini dapat bangkit begitu saja karena adanya musuh bersama."

"Jika situasinya sudah sampai pada tahap ini, kita perlu melihat ke depannya. Kemungkinan besar akan terjadi penolakan-penolakan terhadap berbagai aktivitas mereka yang akan masuk ke negara-negara seperti Filipina, Indonesia, Vietnam, hingga Thailand. Padahal, selama ini budaya mereka seperti K-Pop sebenarnya sangat bergantung dan hidup dari pangsa pasar di Asia Tenggara," ujar Prof. Anang.
 
Apakah ini bisa jadi ancaman pada citra Korsel di mata pasar terbesarnya? Menurut Prof. Anang pemerintah Korea Selatan harus dengan segera turut menyelesaikan secara arif dan bijaksana.

"Bisa jadi pemerintah Korea Selatan juga harus kemudian segera mengawasi perilaku-perilaku K-Netz sehingga tidak akan muncul penolakan-penolakan budaya Korea Selatan yang selama ini dianggap dominan dan banyak fansite yang ada di sini."

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH