FITNESS & HEALTH

Dokter Boyke Ingatkan Gen Z, Cinta Nggak Harus Dibuktikan dengan Seks

Yatin Suleha
Selasa 20 Oktober 2026 / 19:39
Ringkasnya gini..
  • Dr. Boyke menegaskan cinta nggak perlu dibuktikan dengan hubungan seksual.
  • Remaja perlu memahami risiko kesehatan dan kehamilan yang nggak direncanakan.
  • Edukasi seks yang benar penting agar Gen Z nggak hanya mengandalkan informasi dari media sosial.

Jakarta: Pacaran memang bisa menjadi bagian dari perjalanan mengenal seseorang, tetapi bukan berarti harus berujung pada hubungan seksual. Dokter spesialis kebidanan dan kandungan sekaligus seksolog dr. H. Boyke Dian Nugraha, Sp. OG, MARS, mengingatkan remaja bahwa cinta nggak membutuhkan pembuktian melalui hubungan seksual, terutama ketika masih berada di usia sekolah.

Pesan tersebut disampaikan dr. Boyke dalam seminar bahaya seks bebas dan pergaulan bebas di SMK Budi Luhur, Jakarta, pada 20 Oktober 2026. Dalam kesempatan tersebut, ia menyoroti pentingnya edukasi seks bagi remaja agar mereka memahami risiko perilaku seksual dan nggak mudah terpengaruh informasi yang keliru.

 

IMG_6695
Seminar Bahaya Seks Bebas dan Pergaulan Bebas di SMK Budi Luhur, 20 Okt 2026. (Foto: Dok. Instagram dr. Boyke)
 

Cinta nggak harus dibuktikan dengan seks

Menurut dr. Boyke, remaja perlu memahami bahwa pasangan yang benar-benar menyayangi mereka seharusnya menghormati batasan dan keputusan pribadi. Tekanan dari pasangan untuk melakukan hubungan seksual bukan sesuatu yang harus dituruti demi mempertahankan hubungan.

“Kalau kamu sampai melakukan hubungan seks, begitu banyak penyakit yang akan menghalangi dirimu. Ingat, kamu tuh masih remaja, masih muda, hidup kamu tuh masih panjang,” ujar dr. Boyke.

Ia juga mengingatkan remaja agar nggak terburu-buru mengikat diri pada seseorang. Hubungan yang sehat seharusnya memberikan ruang untuk tumbuh bersama, saling menghargai, dan membangun kepercayaan tanpa menuntut pembuktian melalui aktivitas seksual.

Karena itu, penting bagi Gen Z untuk berani menetapkan batasan dalam hubungan. Remaja juga perlu menyadari bahwa keputusan terkait tubuh mereka merupakan hal serius yang harus didasari pemahaman, bukan tekanan lingkungan atau pasangan.

 


 

Waspadai risiko hubungan seksual yang nggak aman

Selain persoalan hubungan, dr. Boyke menyoroti risiko kesehatan yang dapat muncul akibat hubungan seksual yang nggak aman. Dalam pemaparannya, ia menyebut infeksi menular seksual dan kehamilan yang nggak direncanakan sebagai hal yang perlu dipahami remaja.

Risiko tersebut menunjukkan pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi sejak dini. Informasi yang benar bisa membantu remaja memahami konsekuensi perilaku seksual sekaligus mengetahui cara menjaga kesehatan diri.

Dr. Boyke juga menyinggung kebiasaan remaja mencari informasi seksual melalui media sosial dan YouTube. Menurutnya, informasi dari internet perlu disikapi secara kritis karena nggak semuanya disampaikan oleh tenaga profesional atau berdasarkan pengetahuan yang tepat.

 

Jangan cuma belajar seks dari media sosial

Dr. Boyke menilai kurangnya edukasi seks yang memadai membuat remaja berisiko mendapatkan pemahaman yang keliru. Karena itu, sekolah dan orang tua perlu ikut memberikan pendampingan dengan bahasa yang sesuai usia.

Edukasi seks bukan berarti mendorong remaja melakukan hubungan seksual, melainkan membantu mereka memahami tubuh, batasan diri, kesehatan reproduksi, dan konsekuensi dari setiap keputusan.

Dengan bekal informasi yang benar, Gen Z diharapkan bisa menjalani hubungan yang lebih sehat, menghargai pasangan, serta berani mengatakan tidak terhadap tekanan yang bertentangan dengan batasan pribadi mereka.


Desi I.



Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(TIN)

MOST SEARCH