FITNESS & HEALTH

Peneliti Tiongkok Anggap ASI Bisa Bantu Melawan Covid-19

Sunnaholomi Halakrispen
Rabu 14 Oktober 2020 / 14:58
Jakarta: Beberapa otoritas kesehatan telah memperingatkan bahwa menyusui dapat menyebarkan virus, meskipun Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan para ibu harus terus menyusui. Namun yang terkini, Peneliti Tiongkok menemukan paparan ASI membantu melawan covid-19.

Sebuah tim peneliti di Beijing menguji efek ASI (air susu ibu) pada sel yang terpapar virus Sars-CoV-2. Susu yang dikumpulkan sejak 2017, jauh sebelum dimulainya pandemi. Sementara jenis sel yang diuji bervariasi, dari sel ginjal hewan hingga sel paru-paru dan usus manusia muda.

"Hasilnya sama, yakni sebagian besar jalur virus yang hidup dibunuh oleh susu. ASI memblokir lampiran virus, masuk dan bahkan replikasi virus setelah masuk," ujar tim yang dipimpin oleh Profesor Tong Yigang dari Universitas Teknologi Kimia Beijing, dikutip dari South China Morning Post.

Di sisi lain, menyusui sebelumnya dianggap meningkatkan risiko penularan virus. Di Wuhan, tempat virus itu pertama kali terdeteksi, bayi baru lahir dipisahkan dari ibu yang dites positif dan diberi makan secara eksklusif dengan formula.

Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat juga memperingatkan bahwa bayi yang disusui oleh ibu yang dicurigai atau dipastikan membawa covid-19 juga harus dilihat sebagai pembawa penularan. Tetapi, studi terbaru mendukung sikap resmi Organisasi Kesehatan Dunia bahwa ibu harus terus menyusui bahkan jika mereka mengidap covid-19.

Badan kesehatan global melacak 46 kasus covid-19 menyusui anak-anak mereka di beberapa negara, hingga Juni. Gen virus terdeteksi dalam ASI tiga ibu tetapi tidak ada bukti infeksi. Hanya satu anak yang dinyatakan positif dan penularan melalui cara lain tidak dapat dikesampingkan.

Tong dan koleganya mencampurkan beberapa sel sehat ke dalam ASI manusia. Kemudian, mencuci ASI dan mengekspos sel tersebut ke virus.

Mereka mengamati hampir tidak ada pengikatan atau masuknya virus ke sel-sel ini, dan pengobatan juga menghentikan replikasi virus dalam sel yang sudah terinfeksi. Mereka menyimpulkan bahwa infeksi dapat dihambat oleh ASI, yang telah diketahui memiliki efek menekan pada bakteri dan virus seperti HIV.

Tong dan koleganya mencurigai virus corona sensitif terhadap beberapa protein antivirus terkenal dalam susu, seperti laktoferin. Tetapi, tidak menemukan satu pun protein yang bekerja seperti yang diharapkan.

Sebaliknya, mereka mengatakan bahan yang paling disukai untuk menghambat virus adalah whey, yang mengandung beberapa protein berbeda. Menurut penelitian Tong, air dadih sapi dan kambing, mampu menekan strain virus hidup sekitar 70 persen. Sebagai perbandingan, khasiat whey manusia mencapai hampir 100 persen.

ASI mampu menghilangkan virus dalam jenis sel yang lebih luas, tetapi para peneliti mengatakan tidak jelas apa yang menyebabkan perbedaan tersebut. Tong dan koleganya mengatakan mereka belum menemukan tanda-tanda bahaya yang disebabkan oleh ASI, yang mendorong proliferasi sel saat membunuh virus.

Beberapa orang tua diketahui menggunakan ASI sumbangan untuk memberi makan bayi mereka, yang sering kali dipasteurisasi untuk menghilangkan potensi kontaminasi.

Namun, tim Tiongkok menemukan bahwa memanaskan susu hingga 90 derajat selama 10 menit menonaktifkan protein whey. Hal ini menyebabkan tingkat perlindungan terhadap virus corona akan turun hingga di bawah 20 persen.

"Penting untuk mengidentifikasi faktor kunci untuk pengembangan obat antivirus lebih lanjut," jelas mereka.
(FIR)

MOST SEARCH