FITNESS & HEALTH

Tak Semua Makanan UPF Punya Gizi Sama, Kenali Cara Ketahuinya

Aulia Putriningtias
Selasa 15 September 2026 / 09:31
Ringkasnya gini..
  • Istilah ultra-processed food (UPF) semakin sering muncu dalam pembahasan mengenai makanan dan kesehatan. 
  • Sejumlah penelitian memang menemukan hubungan antara konsumsi UPF dalam jumlah tinggi dengan berbagai masalah kesehatan.
  • Namun, hubungan tersebut tidak dapat langsung diartikan bahwa proses pengolahan menjadi penyebabnya. 
Jakarta: Istilah ultra-processed food (UPF) semakin sering muncu dalam pembahasan mengenai makanan dan kesehatan. Namun, apakah semua UPF memang tidak sehat?

Perhatian terhadap UPF juga semakin besar setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memulai proses penyusunan pedoman mengenai konsumsi UPF pada 2025. UPF sendiri adalah produk makanan dan minuman yang telah melewati berbagai tahapan pengolahan.

Salah satu sistem yang banyak digunakan untuk mengelompokkan pangan berdasarkan tingkat pengolahannya adalah NOVA. Sistem ini membagi pangan ke dalam empat kelompok.
 

Kelompok tersebut adalah pangan yang tidak atau minim diproses (unprocessed atau minimally processed foods), bahan kuliner olahan (processed culinary ingredients), pangan olahan (processed foods), dan pangan ultra-proses (ultra-processed foods/UPF).

Pengelompokan tersebut didasarkan pada tingkat dan tujuan pengolahan pangan, sehingga pangan dalam setiap kelompok memiliki karakteristik yang berbeda. Namun, ada penelitian menarik terkait kualitas dari UPF.
 

Apakah makanan UPF berarti tidak berkualitas dan bergizi?


Sejumlah penelitian memang menemukan hubungan antara konsumsi UPF dalam jumlah tinggi dengan berbagai masalah kesehatan. Salah satu tinjauan besar yang diterbitkan dalam BMJ pada 2024 menemukan adanya hubungan antara konsumsi UPF dan sejumlah kondisi kesehatan.

Hal ini termasuk obesitas, diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, gangguan mental, serta kematian dari berbagai penyebab. Namun, hubungan tersebut tidak dapat langsung diartikan bahwa proses pengolahan menjadi penyebabnya. 

Kandungar gizi, formulasi, jumlah dan frekuensi konsumsi, serta pola makan secara keseluruhan juga perlu diperhatikan. Menurut Prof. Purwiyatno Harivadi. Guru Besar Teknologi Pangan IPB University, tingkat pengolahan saja tidak cukup untuk menentukan kualitas suatu pangan.

"Tidak ada dasar ilmiah untuk menyimpulkan bahwa semakin kompleks atau semakin banyak tahapan pengolahan suatu pangan, maka kualitas pangan tersebut pasti semakin buruk," kata Prof. Purwiyanto, kepada Medcom.id.

"Yang perlu dinilai adalah proses apa yang dilakukan, pada kondisi seperti apa, perubahan apa yang ditimbulkannya, dan atribut mutu apa yang terdampak," lanjutnya.

Pengolahan pangan sendiri memiliki berbagai tujuan. Pemanasan, pasteurisasi, sterilisasi, fermentasi, pengeringan, hingga pembekuan dapat dilakukan untuk meningkatkan keamanan, memperpanjang masa simpan, meningkatkan daya cerna, maupun menghasilkan karakteristik tertentu pada pangan.
 

Manfaat dalam pengolahan pangan fortifikasi 


Pengolahan pangan juga memungkinkan dilakukannya sejumlah intervensi yang memiliki manfaat bagi kesehatan masyarakat. Fortifikasi, misalnya, memungkinkan penambahan zat gizi mikro tertentu pada pangan untuk membantu memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral masyarakat.

Teknologi pangan juga memungkinkan reformulasi produk, ermasuk pengurangan atau penghilangan komponen tertentu yang berisiko bagi kesehatan. Aspek ini menjadi semakin relevan untuk pangan yang dirancang bagi kelompok dengan kebutuhan gizi tertentu.

Bayi dan anak usia dini, ibu dengan kebutuhan nutrisi tertentu serta individu dengan kondisi medis khusus dapat membutuhkan produk dengan formulasi, kandungan zat gizi tekstur, keamanan, dan mutu yang terkontrol secara ketat.

International Special Dietary Foods Industries (ISDI) mengingatkan bahwa penggunaan klasifikasi UPF yang terlalu luas berpotensi menempatkan produk dengan fungsi dan profil gizi yang sangat berbeda ke dalam kategori yang sama.
 

Tetap mempertimbangkan gizi


Menuut Prof. Ali Khomsan, pakar gizi masyarakat dari IPB University, cara pandang yang hanya berfokus pada tingkat pengolahan juga dapat membuat pangan dengan karakteristik yang berbeda bisa saja masuk ke dalam kategori yang sama. 

Produk susu, misalnya, memiliki proses dan tujuan yang beragam. Sepert susu UHT yang melewati proses suhu tinggi, yogurt dengan fermentasi, hingga susu fortifikasi yang mengandung gizi-gizi tertentu.

Karena itu, penilaian terhadap pangan perlu melihat lebih dari sekadar proses pengolahannya. Pandangan ini sejalar dengan pentingnya meliha kualitas pangan secare menyeluruh, bukan hanya dari tingkat pengolahannya.

"Penilaian pangan tidak bisa hanya ilihat dari tingkat pengolahannya. Yang lebih penting adalah kandungan za gizi, keamanan, serta bagaimana pangan tersebut dikonsumsi dalam pola makan yang seimbang," jelasnya.

Pada akhirnya, perdebatan mengenai UPF bukan berart masyarakat perlu memilih antara menerima atau menghindari seluruh pangan yang masuk dalam kategori tersebut. Namun, tetap melihat terhadap kandungan gizi yang tersedia.

Untuk pangan olahan terkemas, konsumen juga dapaf memperhatikan prinsip Cek KLIK dari BPOM: Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa. Informasi pada label termasuk komposisi dan informasi nilai gizi, dapat menjadi dasar untuk membuat pilihan yang lebih tepat.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(TIN)

MOST SEARCH