Diet. DOK Freepik
Diet. DOK Freepik

Bukan Diet Sehat, Pakar IPB: Muntah Sengaja Setelah Makan Berisiko Fatal

Renatha Swasty • 01 Oktober 2026 11:37
Ringkasnya gini..
  • Memuntahkan makanan demi mengontrol berat badan bukan cara sehat dan dapat memicu perilaku kompensasi purging behavior.
  • Kebiasaan ini berisiko memicu gangguan kesehatan fatal seperti hipokalemia, aritmia, hingga kerusakan ginjal dan kerongkongan.
  • Penanganan kondisi ini membutuhkan evaluasi medis serta terapi psikologis untuk memperbaiki hubungan sehat dengan makanan.
Jakarta: Banyak orang punya kebiasaan memuntahkan makanan setelah makan dengan alasan mengontrol berat badan. Hal itu bukan metode diet yang sehat, justru dapat menimbulkan berbagai risiko kesehatan.

“Proses penyerapan zat gizi bahkan telah mulai berlangsung sejak makanan dikonsumsi. Karena itu, memuntahkan makanan bukan cara yang tepat untuk mencegah kenaikan berat badan,” tegas dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, Yunita Aryani, Kamis, 1 Oktober 2026. 

Yunita menyebut makanan yang dimuntahkan tidak berarti seluruhnya keluar dari tubuh. Apabila dilakukan berulang sebagai metode diet, perilaku tersebut termasuk purging behavior atau perilaku kompensasi yang tidak sehat. 

“Kondisi ini dapat membentuk siklus makan berlebihan, munculnya rasa bersalah, ketakutan terhadap kenaikan berat badan, kemudian kembali memuntahkan makanan,” tutur dia.

Perilaku tersebut dapat berkaitan dengan gangguan makan seperti bulimia nervosa. Konten mukbang yang menormalisasi tindakan memuntahkan makanan juga perlu disikapi hati-hati karena berpotensi ditiru oleh penonton, terutama remaja dan individu yang memiliki kekhawatiran terhadap berat badan.

Salah satu komplikasi yang dapat terjadi akibat muntah berulang adalah hipokalemia atau kondisi ketika kadar kalium dalam darah terlalu rendah. Muntah menyebabkan kehilangan cairan dan asam lambung sehingga tubuh mengaktifkan mekanisme hormonal untuk mempertahankan cairan. 
 
Peningkatan hormon aldosteron kemudian dapat mendorong ginjal membuang lebih banyak kalium melalui urine. “Hipokalemia dapat menyebabkan lemas, kram otot, konstipasi, kesemutan, jantung berdebar, hingga gangguan irama jantung. Pada kondisi berat, aritmia dapat mengancam nyawa,” papar dia.

Muntah berulang juga dapat menyebabkan dehidrasi dan gangguan fungsi ginjal, ketidakseimbangan elektrolit serta asam-basa, peradangan dan luka pada kerongkongan, kerusakan enamel gigi akibat paparan asam lambung, hingga risiko tersedak atau masuknya isi lambung ke paru-paru. 

"Dari sisi psikologis, perilaku ini juga dapat berkaitan dengan kecemasan, depresi, citra tubuh negatif, serta siklus makan dan muntah yang semakin sulit dihentikan," jelas dia.

Yunita menekankan pentingnya penanganan komprehensif. Individu yang mengalami perilaku tersebut perlu berkonsultasi dengan dokter untuk mengevaluasi kondisi fisik, pola makan, status hidrasi, kondisi psikologis, elektrolit, fungsi ginjal, serta pemeriksaan lain sesuai kebutuhan.

“Terapi bukan sekadar melarang pasien muntah, tetapi mencari pemicunya, membentuk kembali pola makan yang teratur, serta memperbaiki hubungan dengan makanan dan citra tubuh,” tutur dia.

Ia mengingatkan memuntahkan makanan bukan jalan pintas untuk menjadi kurus. Pengelolaan berat badan perlu dilakukan melalui pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, tidur cukup, serta pendampingan tenaga kesehatan sesuai kondisi masing-masing.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan