Sisa makanan disimpan di kulkas. DOK Magnific
Sisa makanan disimpan di kulkas. DOK Magnific

Awas Bakteri! Pakar IPB Ungkap Batas Aman Simpan Makanan Sisa di Kulkas

Renatha Swasty • 29 September 2026 17:04
Ringkasnya gini..
  • Kulkas hanya memperlambat pertumbuhan bakteri pada suhu 1-4°C, sehingga makanan sisa tetap memiliki batas masa simpan.
  • Secara umum makanan matang aman disimpan 3-4 hari, namun proses reheating berulang dapat menurunkan kandungan gizi makanan.
  • Pakar IPB menyarankan prinsip 2-4-74: maks 2 jam suhu ruang, simpan suhu ≤4°C, dan panaskan kembali hingga 74°C secara merata.
Jakarta: Banyak orang menyimpan makanan sisa di dalam kulkas agar tetap dapat dikonsumsi. Rupanya, kebiasaan tersebut tidak otomatis membuat makanan aman lho. 

Makanan dapat menjadi sumber penyakit bawaan makanan (foodborne disease) dan mengalami degradasi mutu gizi bila penyimpanannya tidak tepat. Lalu, berapa lama makanan sisa di kulkas aman dikonsumsi?

Dosen Manajemen Industri Jasa Makanan dan Gizi, Sekolah Vokasi IPB University, Rosyda Dianah, menjelaskan memasukkan makanan ke dalam kulkas bukan berarti proses kerusakan makanan berhenti sepenuhnya. Bakteri tidak mati di dalam kulkas. 

"Kulkas pada suhu sekitar 1–4°C berfungsi memperlambat pertumbuhan sebagian besar bakteri, bukan mensterilkan makanan. Karena itu, makanan tetap memiliki masa simpan yang terbatas,” papar Rosyda, Selasa, 29 September 2026.

Menurut dia, kebiasaan menyimpan makanan sisa di dalam kulkas pada dasarnya aman dan bisa dilakukan, tetapi harus memenuhi persyaratan tertentu. Hal tersebut sangat bergantung pada cara pendinginan, suhu penyimpanan, lama penyimpanan, hingga proses pemanasan kembali.

Rosyda menuturkan agar menghindari temperature danger zone (5°C hingga 60°C), yakni kondisi suhu yang memungkinkan mikroorganisme berkembang lebih cepat. Secara umum, makanan matang yang disimpan pada suhu ≤4°C dianjurkan dikonsumsi dalam 3–4 hari. 

Namun, beberapa makanan memiliki karakteristik berbeda. Nasi dan pasta matang, misalnya, perlu mendapat perhatian karena berpotensi terkait dengan spora Bacillus cereus.
 
Proses penyimpanan dan pemanasan kembali juga dapat memengaruhi sejumlah zat gizi. Vitamin yang larut dalam air, seperti vitamin C dan vitamin B kompleks, relatif sensitif terhadap panas dan oksidasi.

Sementara itu, lemak, khususnya asam lemak tak jenuh, dapat mengalami oksidasi apabila makanan disimpan dalam wadah yang tidak tertutup dengan baik.

Makanan yang mengandung karbohidrat seperti nasi, kentang, dan pasta dapat mengalami perubahan pada pati ketika didinginkan. Proses ini dapat membuat sebagian pati menjadi lebih sulit dicerna. 

Sehingga berpotensi membantu mengendalikan kenaikan gula darah dan mendukung kesehatan pencernaan. Dengan catatan, selama makanan tetap disimpan dengan baik dan tidak terkontaminasi mikroorganisme.

Rosyda mengatakan kesalahan yang sering dilakukan masyarakat antara lain membiarkan makanan terlalu lama pada suhu ruang, menyimpan makanan dalam wadah besar dan terlalu dalam, tidak menutup wadah dengan baik, tidak memperhatikan suhu kulkas, serta terlalu sering melakukan reheating.

Selain itu, makanan sisa sebaiknya tidak ditempatkan berdekatan dengan bahan pangan mentah untuk mencegah kontaminasi silang. Rosyda menyarankan masyarakat menerapkan prinsip sederhana “2–4–74” untuk mengurangi risiko sekaligus mencegah food waste.

Angka tersebut berarti makanan mudah rusak tidak dibiarkan lebih dari 2 jam pada suhu ruang, disimpan pada suhu sekitar 4°C atau lebih rendah, dan dipanaskan kembali hingga sekitar 74°C secara merata.

“Keamanan pangan tidak berarti semua makanan sisa harus langsung dibuang. Perencanaan penyimpanan yang baik justru dapat membantu mengurangi food waste,” tutur dia. 
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan