FITNESS & HEALTH
Hidung Kamu Jadi 'Radar'! Kenalan sama Hiperosmia, Si Super Sensitif Pas Hamil
Yatin Suleha
Rabu 15 April 2026 / 12:42
- Masa kehamilan tuh beneran fase perubahan total, mulai dari fisik sampai emosional.
- Mulai dari perut yang makin membuncit, kulit yang mendadak glowing, sampai suasana hati yang gak menentu itu udah jadi bagian dari perjalanannya.
- Selain itu, ada satu perubahan lain yang sering dirasakan, tetapi jarang disadari sejak awal, yaitu meningkatnya kepekaan indra penciuman.
Jakarta: Masa kehamilan tuh beneran fase perubahan total, mulai dari fisik sampai emosional. Mulai dari perut yang makin membuncit, kulit yang mendadak glowing, sampai suasana hati yang gak menentu itu udah jadi bagian dari perjalanannya.
Selain itu, ada satu perubahan lain yang sering dirasakan, tetapi jarang disadari sejak awal, yaitu meningkatnya kepekaan indra penciuman.
Banyak ibu hamil merasa aroma sehari-hari, yang biasanya biasa saja tiba-tiba menjadi sangat kuat, bahkan bisa memicu rasa mual.
Bau seperti telur, kopi, atau makanan tertentu bisa terasa jauh lebih menyengat, dibandingkan sebelumnya. Kondisi ini ternyata cukup umum dialami selama kehamilan, terutama di tahap awal.
Fenomena meningkatnya kemampuan mencium bau ini sebenarnya sudah lama dilaporkan. Bahkan, banyak yang menggambarkannya seperti memiliki “indra penciuman super”.
Penelitian menunjukkan bahwa sekitar dua pertiga wanita hamil, mengalami peningkatan sensitivitas terhadap bau. Sayangnya, peningkatan ini sering kali membuat aroma terasa tidak menyenangkan, bukan sebaliknya.
.jpg)
(Hiperosmia adalah kondisi peningkatan sensitivitas indra penciuman secara berlebihan, di mana seseorang menjadi sangat peka terhadap bau-bauan tertentu. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Dilansir dari BabyCenter, hiperosmia adalah istilah medis, yang digunakan untuk menggambarkan, kondisi di mana indra penciuman menjadi lebih tajam dari biasanya.
Dalam kondisi ini, hidung bekerja lebih sensitif dalam mendeteksi bau di sekitar.
Secara umum, hiperosmia yang benar-benar terjadi jarang ditemukan dan biasanya berkaitan dengan kondisi medis tertentu, seperti migrain, epilepsi, atau penyakit addison. Namun, selama kehamilan, kondisi ini justru cukup sering terjadi dan dianggap sebagai hal yang wajar.
Beberapa ahli, percaya bahwa peningkatan kepekaan ini merupakan mekanisme alami tubuh, untuk melindungi janin.
Dengan indra penciuman yang lebih tajam, tubuh dapat lebih mudah mengenali bau yang berpotensi berbahaya, sehingga membantu menghindari makanan atau zat, yang tidak aman bahkan sebelum disadari sepenuhnya.
Sebagian besar informasi mengenai kondisi ini berasal dari pengalaman para ibu hamil. Banyak yang melaporkan bahwa kepekaan terhadap bau mulai terasa sejak trimester pertama.
“Secara paradoks, meskipun individu yang hamil secara subjektif melaporkan sensitivitas penciuman yang meningkat, mereka menunjukkan gangguan dalam mengidentifikasi bau, dengan wanita hamil pada trimester pertama menunjukkan defisit yang paling menonjol,” kata Shannon Smith, dokter kandungan dan kebidanan yang berbasis di Boston.
Artinya, meskipun bau terasa lebih kuat, tidak selalu mudah untuk mengenali sumber aroma tersebut. Sensasi ini bisa terasa membingungkan, karena hidung mendeteksi bau dengan intens, tetapi otak kesulitan mengidentifikasinya.
Seiring bertambahnya usia kehamilan, kondisi ini bisa berubah. Pada tahap selanjutnya, sensitivitas penciuman justru dapat menurun.
Hal ini disebabkan oleh meningkatnya aliran darah yang membuat jaringan tubuh, termasuk di area hidung, mengalami pembengkakan. Akibatnya, hidung terasa lebih tersumbat, mirip seperti saat sedang pilek, sehingga kemampuan mencium bau menjadi berkurang.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Selain itu, ada satu perubahan lain yang sering dirasakan, tetapi jarang disadari sejak awal, yaitu meningkatnya kepekaan indra penciuman.
Banyak ibu hamil merasa aroma sehari-hari, yang biasanya biasa saja tiba-tiba menjadi sangat kuat, bahkan bisa memicu rasa mual.
Bau seperti telur, kopi, atau makanan tertentu bisa terasa jauh lebih menyengat, dibandingkan sebelumnya. Kondisi ini ternyata cukup umum dialami selama kehamilan, terutama di tahap awal.
Fenomena meningkatnya kemampuan mencium bau ini sebenarnya sudah lama dilaporkan. Bahkan, banyak yang menggambarkannya seperti memiliki “indra penciuman super”.
Penelitian menunjukkan bahwa sekitar dua pertiga wanita hamil, mengalami peningkatan sensitivitas terhadap bau. Sayangnya, peningkatan ini sering kali membuat aroma terasa tidak menyenangkan, bukan sebaliknya.
Apa itu hiperosmia?
.jpg)
(Hiperosmia adalah kondisi peningkatan sensitivitas indra penciuman secara berlebihan, di mana seseorang menjadi sangat peka terhadap bau-bauan tertentu. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Dilansir dari BabyCenter, hiperosmia adalah istilah medis, yang digunakan untuk menggambarkan, kondisi di mana indra penciuman menjadi lebih tajam dari biasanya.
Dalam kondisi ini, hidung bekerja lebih sensitif dalam mendeteksi bau di sekitar.
Secara umum, hiperosmia yang benar-benar terjadi jarang ditemukan dan biasanya berkaitan dengan kondisi medis tertentu, seperti migrain, epilepsi, atau penyakit addison. Namun, selama kehamilan, kondisi ini justru cukup sering terjadi dan dianggap sebagai hal yang wajar.
Beberapa ahli, percaya bahwa peningkatan kepekaan ini merupakan mekanisme alami tubuh, untuk melindungi janin.
Dengan indra penciuman yang lebih tajam, tubuh dapat lebih mudah mengenali bau yang berpotensi berbahaya, sehingga membantu menghindari makanan atau zat, yang tidak aman bahkan sebelum disadari sepenuhnya.
Kapan indra penciuman menjadi lebih peka?
Sebagian besar informasi mengenai kondisi ini berasal dari pengalaman para ibu hamil. Banyak yang melaporkan bahwa kepekaan terhadap bau mulai terasa sejak trimester pertama.
“Secara paradoks, meskipun individu yang hamil secara subjektif melaporkan sensitivitas penciuman yang meningkat, mereka menunjukkan gangguan dalam mengidentifikasi bau, dengan wanita hamil pada trimester pertama menunjukkan defisit yang paling menonjol,” kata Shannon Smith, dokter kandungan dan kebidanan yang berbasis di Boston.
Artinya, meskipun bau terasa lebih kuat, tidak selalu mudah untuk mengenali sumber aroma tersebut. Sensasi ini bisa terasa membingungkan, karena hidung mendeteksi bau dengan intens, tetapi otak kesulitan mengidentifikasinya.
Seiring bertambahnya usia kehamilan, kondisi ini bisa berubah. Pada tahap selanjutnya, sensitivitas penciuman justru dapat menurun.
Hal ini disebabkan oleh meningkatnya aliran darah yang membuat jaringan tubuh, termasuk di area hidung, mengalami pembengkakan. Akibatnya, hidung terasa lebih tersumbat, mirip seperti saat sedang pilek, sehingga kemampuan mencium bau menjadi berkurang.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)