FITNESS & HEALTH
Cegah Anemia Sejak Dini, Edukasi Kesehatan Jadi Kunci Tingkatkan Kesadaran Masyarakat
Elang Riki Yanuar
Minggu 14 Juni 2026 / 09:00
- Edukasi anemia digencarkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenali gejala dan mencegah dampak kesehatan yang lebih serius.
- Anemia masih mengancam remaja dan ibu hamil di Indonesia, dengan prevalensi mencapai 15,5 persen dan 27,7 persen.
- Dokter mengingatkan pentingnya asupan zat besi, vitamin C, dan deteksi dini untuk mencegah risiko anemia sejak awal.
Jakarta: Anemia masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius di Indonesia. Kondisi yang sering dianggap sepele ini ternyata masih banyak ditemukan, terutama pada kelompok remaja dan ibu hamil.
Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap gejala awal anemia membuat edukasi dan deteksi dini menjadi langkah penting untuk mencegah dampak yang lebih besar.
Upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai anemia menjadi fokus dalam kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis dan seminar kesehatan yang digelar Holywings Peduli di Helens Night Mart Karangsari, Bandung, Sabtu, 13 Juni 2026.
Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya menjalani pemeriksaan kesehatan seperti pengecekan tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan asam urat, tetapi juga mendapatkan kesempatan berkonsultasi langsung dengan tenaga medis dari Rumah Sakit Siloam Purwakarta. Kehadiran tenaga kesehatan diharapkan membantu masyarakat memahami kondisi tubuh mereka secara lebih menyeluruh.
Anemia sendiri merupakan kondisi ketika tubuh mengalami kekurangan sel darah merah atau hemoglobin. Akibatnya, distribusi oksigen ke seluruh tubuh menjadi tidak optimal sehingga memicu berbagai keluhan kesehatan. Meski sering dianggap hanya menyebabkan rasa lelah, anemia sebenarnya dapat berdampak pada produktivitas, kemampuan berpikir, hingga kualitas hidup seseorang.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada kelompok usia 15 hingga 24 tahun mencapai 15,5 persen. Artinya, sekitar satu dari enam remaja Indonesia mengalami kondisi tersebut. Sementara pada ibu hamil, prevalensi anemia bahkan mencapai 27,7 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa anemia masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian bersama.
Seminar kesehatan yang digelar dalam kegiatan tersebut memberikan pemahaman mengenai penyebab, gejala, dampak, hingga langkah pencegahan anemia. Edukasi seperti ini dinilai penting karena banyak masyarakat yang belum mampu mengenali tanda-tanda awal anemia sejak dini.
Dokter Ricky Purnomo menjelaskan bahwa gejala anemia sering kali muncul secara perlahan sehingga kerap diabaikan. Padahal, gejala-gejala tersebut bisa menjadi sinyal bahwa tubuh membutuhkan perhatian medis.
"Gejala awal anemia yang paling sering terlihat antara lain tubuh mudah lelah, lemas, pucat pada wajah atau kelopak mata bagian dalam, sering pusing, sakit kepala, sulit berkonsentrasi, jantung berdebar, dan mudah sesak saat beraktivitas. Pada beberapa orang juga dapat muncul tangan dan kaki yang terasa dingin," kata dr Ricky Purnomo.
Selain mengenali gejalanya, masyarakat juga perlu mengetahui langkah awal yang dapat dilakukan apabila seseorang mengalami keluhan yang mengarah pada anemia. Penanganan awal yang tepat dapat membantu mencegah kondisi menjadi lebih serius sebelum mendapatkan pemeriksaan medis lebih lanjut.
"Jika seseorang diduga mengalami anemia dan merasa lemas atau pusing, pertolongan pertama yang dapat dilakukan adalah mengistirahatkannya di tempat yang nyaman, memberikan cairan yang cukup, serta memastikan asupan makanan yang mengandung zat besi jika memungkinkan. Namun, jika gejalanya berat seperti pingsan, sesak napas, nyeri dada, atau penurunan kesadaran, segera bawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Penting diingat bahwa anemia memiliki berbagai penyebab, sehingga diagnosis dan terapi tetap harus dilakukan oleh tenaga medis," jelasnya.
Pencegahan anemia juga sangat bergantung pada pola makan sehari-hari. Asupan zat besi yang cukup menjadi faktor utama dalam menjaga produksi hemoglobin agar tetap optimal. Karena itu, masyarakat dianjurkan untuk memperhatikan kandungan nutrisi dalam makanan yang dikonsumsi setiap hari.
Menurut dr Ricky, sumber zat besi dapat diperoleh dari berbagai jenis makanan seperti daging merah tanpa lemak, hati, ikan, makanan laut, ayam, telur, sayuran hijau, kacang-kacangan, tahu, tempe, hingga produk yang telah difortifikasi zat besi. Selain itu, konsumsi makanan yang kaya vitamin C juga berperan penting karena dapat membantu penyerapan zat besi dalam tubuh secara lebih maksimal.
Sementara itu, Komisaris Utama Holywings Group sekaligus Ketua Program CSR Holywings Peduli, Andrew Susanto, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk mendukung kesehatan masyarakat melalui edukasi dan pelayanan langsung.
"Kami berharap kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat melalui pemeriksaan kesehatan dan edukasi mengenai anemia, tetapi juga membantu memenuhi kebutuhan sarana yang dapat digunakan masyarakat dalam berbagai kegiatan sosial dan pelayanan kesehatan. Kesehatan masyarakat adalah salah satu aspek penting yang perlu mendapat perhatian bersama," ujar Andrew Susanto.
Melalui kegiatan edukasi dan pemeriksaan kesehatan seperti ini, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga kadar hemoglobin, memenuhi kebutuhan zat besi, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Dengan deteksi dini dan pola hidup sehat, risiko anemia dapat ditekan sehingga kualitas kesehatan masyarakat dapat terus meningkat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(ELG)
Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap gejala awal anemia membuat edukasi dan deteksi dini menjadi langkah penting untuk mencegah dampak yang lebih besar.
Upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai anemia menjadi fokus dalam kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis dan seminar kesehatan yang digelar Holywings Peduli di Helens Night Mart Karangsari, Bandung, Sabtu, 13 Juni 2026.
Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya menjalani pemeriksaan kesehatan seperti pengecekan tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan asam urat, tetapi juga mendapatkan kesempatan berkonsultasi langsung dengan tenaga medis dari Rumah Sakit Siloam Purwakarta. Kehadiran tenaga kesehatan diharapkan membantu masyarakat memahami kondisi tubuh mereka secara lebih menyeluruh.
Anemia sendiri merupakan kondisi ketika tubuh mengalami kekurangan sel darah merah atau hemoglobin. Akibatnya, distribusi oksigen ke seluruh tubuh menjadi tidak optimal sehingga memicu berbagai keluhan kesehatan. Meski sering dianggap hanya menyebabkan rasa lelah, anemia sebenarnya dapat berdampak pada produktivitas, kemampuan berpikir, hingga kualitas hidup seseorang.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada kelompok usia 15 hingga 24 tahun mencapai 15,5 persen. Artinya, sekitar satu dari enam remaja Indonesia mengalami kondisi tersebut. Sementara pada ibu hamil, prevalensi anemia bahkan mencapai 27,7 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa anemia masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian bersama.
Baca Juga :
Kenali Penyebab dan Cara Mencegah Anemia
Seminar kesehatan yang digelar dalam kegiatan tersebut memberikan pemahaman mengenai penyebab, gejala, dampak, hingga langkah pencegahan anemia. Edukasi seperti ini dinilai penting karena banyak masyarakat yang belum mampu mengenali tanda-tanda awal anemia sejak dini.
Dokter Ricky Purnomo menjelaskan bahwa gejala anemia sering kali muncul secara perlahan sehingga kerap diabaikan. Padahal, gejala-gejala tersebut bisa menjadi sinyal bahwa tubuh membutuhkan perhatian medis.
"Gejala awal anemia yang paling sering terlihat antara lain tubuh mudah lelah, lemas, pucat pada wajah atau kelopak mata bagian dalam, sering pusing, sakit kepala, sulit berkonsentrasi, jantung berdebar, dan mudah sesak saat beraktivitas. Pada beberapa orang juga dapat muncul tangan dan kaki yang terasa dingin," kata dr Ricky Purnomo.
Selain mengenali gejalanya, masyarakat juga perlu mengetahui langkah awal yang dapat dilakukan apabila seseorang mengalami keluhan yang mengarah pada anemia. Penanganan awal yang tepat dapat membantu mencegah kondisi menjadi lebih serius sebelum mendapatkan pemeriksaan medis lebih lanjut.
"Jika seseorang diduga mengalami anemia dan merasa lemas atau pusing, pertolongan pertama yang dapat dilakukan adalah mengistirahatkannya di tempat yang nyaman, memberikan cairan yang cukup, serta memastikan asupan makanan yang mengandung zat besi jika memungkinkan. Namun, jika gejalanya berat seperti pingsan, sesak napas, nyeri dada, atau penurunan kesadaran, segera bawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Penting diingat bahwa anemia memiliki berbagai penyebab, sehingga diagnosis dan terapi tetap harus dilakukan oleh tenaga medis," jelasnya.
Pencegahan anemia juga sangat bergantung pada pola makan sehari-hari. Asupan zat besi yang cukup menjadi faktor utama dalam menjaga produksi hemoglobin agar tetap optimal. Karena itu, masyarakat dianjurkan untuk memperhatikan kandungan nutrisi dalam makanan yang dikonsumsi setiap hari.
Menurut dr Ricky, sumber zat besi dapat diperoleh dari berbagai jenis makanan seperti daging merah tanpa lemak, hati, ikan, makanan laut, ayam, telur, sayuran hijau, kacang-kacangan, tahu, tempe, hingga produk yang telah difortifikasi zat besi. Selain itu, konsumsi makanan yang kaya vitamin C juga berperan penting karena dapat membantu penyerapan zat besi dalam tubuh secara lebih maksimal.
Sementara itu, Komisaris Utama Holywings Group sekaligus Ketua Program CSR Holywings Peduli, Andrew Susanto, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk mendukung kesehatan masyarakat melalui edukasi dan pelayanan langsung.
"Kami berharap kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat melalui pemeriksaan kesehatan dan edukasi mengenai anemia, tetapi juga membantu memenuhi kebutuhan sarana yang dapat digunakan masyarakat dalam berbagai kegiatan sosial dan pelayanan kesehatan. Kesehatan masyarakat adalah salah satu aspek penting yang perlu mendapat perhatian bersama," ujar Andrew Susanto.
Melalui kegiatan edukasi dan pemeriksaan kesehatan seperti ini, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga kadar hemoglobin, memenuhi kebutuhan zat besi, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Dengan deteksi dini dan pola hidup sehat, risiko anemia dapat ditekan sehingga kualitas kesehatan masyarakat dapat terus meningkat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)