FITNESS & HEALTH

Kapan Waktu yang Tepat ke Psikolog Jika Alami Kecemasan?

Raka Lestari
Kamis 02 September 2021 / 06:05
Jakarta: Stres dan cemas mengalami peningkatan di masa pandemi covid-19 seperti sekarang. Dan mungkin, beberapa orang tidak menyadari bahwa rasa cemas yang dirasakan tersebut sudah melewati batas dan sebaiknya melakukan konsultasi ke psikologi.

"Ada studi yang dilakukan di 33 provinsi Indonesia dan hasilnya cukup menarik. Sebanyak 72 persen partisipan mengalami kecemasan. Dan 23 persen dari jumlah tersebut melaporkan bahwa mereka tidak bahagia," ujar Inez Kristanti, M.Psi., Psikolog klinis dewasa dalam acara Diskusi Media “AXA Wellbeing Program” pada Rabu, 1 September 2021.

Inez menyebutkan beberapa gejala kecemasan yang perlu dilaporkan diantaranya adalah:

- Kekhawatiran bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi
- Khawatir yang berlebihan
- Mudah marah dan kesal
- Sulit untuk rileks


tele
(Di masa pandemi layanan psikolog dalam telemedicine bisa membantu kita menjaga kesehatan mental dengan baik. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)


Lalu, kapan kita harus mewaspadai tanda-tanda kecemasan yang dialami? "Pada dasarnya ketika masalah, tidak hanya kecemasan saja, jika sudah sampai mengganggu keberfungsian kita sehari-hari maka itu kita boleh untuk mencari bantuan," ujar Inez.

"Misalnya, kecemasan apabila sudah mengganggu produktivitas kita seperti kita menjadi sulit tidur, besoknya saat bangun kita tidak fresh, dan ketika mau mengerjakan sesuatu kita merasa ragu dan khawatir, itu sudah bisa melakukan konsultasi. Karena kan kalau kita mengalami hal tersebut, mungkin saja pekerjaan kita menjadi tidak selesai dengan baik," tambah Inez.

Menurut Inez, jika hal tersebut sudah kita alami maka sudah mengganggu keberfungsian kita dan mengganggu produktivitas kita sehari-hari. 

"Tidak tepat untuk melakukan diagnosa sendiri mengenai ciri-ciri yang kita alami berdasarkan apa yang kita lihat dari internet. Diagnosa mengenai apa yang kita rasakan itu harus dilakukan dan ditangani oleh profesional," tuturnya.  

Saat ini, ada berbagai pilihan jika ingin berkonsultasi dengan psikolog. Salah satunya melalui layanan telemedicine. Meskipun mungkin ada beberapa keterbatasan yang mungkin dirasakan. 

“Tentunya ada beberapa perbedaan. Misalnya kalau melalui chat, mungkin ada aspek dalam diri klien yang tidak bisa ditangkap oleh psikolog,” jelas Inez.

“Raut wajah, gesture, dan bahasa tulisan dengan bahasa lisan kan akan berbeda. Akan tetapi, kalau di masa pandemi seperti sekarang kalau hal tersebut bisa membantu mengapa tidak. Selama hal itu bisa membantu kita menjaga kesehatan mental dengan baik,” tutup Inez.
(TIN)

MOST SEARCH