FITNESS & HEALTH
Pancaroba Datang, ISPA Naik Drastis! Ini Cara Biar Nggak Ikutan Sakit
A. Firdaus
Kamis 16 April 2026 / 15:13
- Edukasi kesehatan bertajuk “Waspada ISPA di Musim Pancaroba” di Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan.
- 2,5 juta kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut sepanjang Januari hingga November 2025.
- Kondisi ini dapat memengaruhi penyebaran virus serta respons tubuh terhadap infeksi.
Jakarta: Perubahan cuaca ekstrem di musim pancaroba kembali berdampak pada meningkatnya kasus gangguan pernapasan di ibu kota. Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat sekitar 2,5 juta kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sepanjang Januari hingga November 2025.
Tingginya angka tersebut dipengaruhi berbagai faktor, salah satunya perubahan suhu dan kelembapan yang memicu penyebaran virus serta menurunkan daya tahan tubuh. Kondisi ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk lebih waspada terhadap kesehatan pernapasan.
Sebagai bentuk kepedulian, Combiphar melalui program Combi Hope menggelar edukasi kesehatan bertajuk “Waspada ISPA di Musim Pancaroba” di Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan. Kegiatan ini bekerja sama dengan pemerintah setempat dan melibatkan kader PKK, Posyandu, serta Dasa Wisma sebagai ujung tombak edukasi di masyarakat.
Program ini tidak hanya menghadirkan penyuluhan, tetapi juga layanan pemeriksaan dan pengobatan gratis bagi warga. Edukasi difokuskan pada pemahaman jenis batuk serta pentingnya penanganan yang tepat sejak dini.
Direktur Combiphar, Weitarsa Hendarto, menyampaikan bahwa upaya ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
“Selama lebih dari 55 tahun, kami tidak hanya menghadirkan produk kesehatan, tetapi juga berkontribusi langsung melalui edukasi dan aksi nyata,” ujarnya.
Apresiasi juga datang dari Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan, Debi Intan Suri. Ia menilai kegiatan ini penting untuk membekali kader kesehatan dengan informasi yang akurat mengenai ISPA, termasuk gejala dan risikonya.

Workshop edukasi kesehatan bertajuk “Waspada ISPA di Musim Pancaroba” di Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan. Dok. Ist
Sementara itu, GM Marketing Combiphar, Sandi Wijaya, mengingatkan bahwa batuk kerap dianggap sepele, padahal dapat berdampak pada kualitas hidup.
“Batuk bukan sekadar gangguan ringan. Jika tidak ditangani dengan tepat, bisa mengganggu istirahat, menurunkan fokus, hingga produktivitas,” jelasnya.
Data dari Puskesmas Pancoran juga menunjukkan peningkatan kunjungan pasien ISPA sejak awal 2026, dengan puncak lebih dari 1.000 kasus pada Februari. Meski tren mulai menurun, kondisi ini tetap memerlukan perhatian serius dan upaya pencegahan berkelanjutan.
Menurut dr. Clavelina Astriani - Sr. Medical Affairs Manager Combiphar, menjelaskan pada masa pancaroba, perubahan pola cuaca seperti suhu dan kelembapan dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan.
"Kondisi ini dapat memengaruhi penyebaran virus serta respons tubuh terhadap infeksi. Infeksi saluran pernapasan dapat berdampak pada kualitas hidup dan aktivitas sehari-hari, sehingga penanganan yang tepat sejak awal, termasuk pemilihan terapi yang sesuai, menjadi penting," ucap dr. Clavelina.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan sektor swasta, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan pernapasan semakin meningkat.
Langkah sederhana seperti menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), menjaga daya tahan tubuh, serta mengenali gejala sejak dini menjadi kunci utama agar terhindar dari ISPA di tengah perubahan cuaca yang tidak menentu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Tingginya angka tersebut dipengaruhi berbagai faktor, salah satunya perubahan suhu dan kelembapan yang memicu penyebaran virus serta menurunkan daya tahan tubuh. Kondisi ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk lebih waspada terhadap kesehatan pernapasan.
Sebagai bentuk kepedulian, Combiphar melalui program Combi Hope menggelar edukasi kesehatan bertajuk “Waspada ISPA di Musim Pancaroba” di Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan. Kegiatan ini bekerja sama dengan pemerintah setempat dan melibatkan kader PKK, Posyandu, serta Dasa Wisma sebagai ujung tombak edukasi di masyarakat.
Program ini tidak hanya menghadirkan penyuluhan, tetapi juga layanan pemeriksaan dan pengobatan gratis bagi warga. Edukasi difokuskan pada pemahaman jenis batuk serta pentingnya penanganan yang tepat sejak dini.
Direktur Combiphar, Weitarsa Hendarto, menyampaikan bahwa upaya ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
“Selama lebih dari 55 tahun, kami tidak hanya menghadirkan produk kesehatan, tetapi juga berkontribusi langsung melalui edukasi dan aksi nyata,” ujarnya.
Apresiasi juga datang dari Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan, Debi Intan Suri. Ia menilai kegiatan ini penting untuk membekali kader kesehatan dengan informasi yang akurat mengenai ISPA, termasuk gejala dan risikonya.
Workshop edukasi kesehatan bertajuk “Waspada ISPA di Musim Pancaroba” di Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan. Dok. Ist
Sementara itu, GM Marketing Combiphar, Sandi Wijaya, mengingatkan bahwa batuk kerap dianggap sepele, padahal dapat berdampak pada kualitas hidup.
“Batuk bukan sekadar gangguan ringan. Jika tidak ditangani dengan tepat, bisa mengganggu istirahat, menurunkan fokus, hingga produktivitas,” jelasnya.
Data dari Puskesmas Pancoran juga menunjukkan peningkatan kunjungan pasien ISPA sejak awal 2026, dengan puncak lebih dari 1.000 kasus pada Februari. Meski tren mulai menurun, kondisi ini tetap memerlukan perhatian serius dan upaya pencegahan berkelanjutan.
Menurut dr. Clavelina Astriani - Sr. Medical Affairs Manager Combiphar, menjelaskan pada masa pancaroba, perubahan pola cuaca seperti suhu dan kelembapan dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan.
"Kondisi ini dapat memengaruhi penyebaran virus serta respons tubuh terhadap infeksi. Infeksi saluran pernapasan dapat berdampak pada kualitas hidup dan aktivitas sehari-hari, sehingga penanganan yang tepat sejak awal, termasuk pemilihan terapi yang sesuai, menjadi penting," ucap dr. Clavelina.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan sektor swasta, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan pernapasan semakin meningkat.
Langkah sederhana seperti menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), menjaga daya tahan tubuh, serta mengenali gejala sejak dini menjadi kunci utama agar terhindar dari ISPA di tengah perubahan cuaca yang tidak menentu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)