FITNESS & HEALTH
Sejarah Baru! Indonesia Berhasil Lakukan Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robot
A. Firdaus
Selasa 30 Juni 2026 / 09:10
- Prosedur yang berlangsung pada 5 Juni 2026 ini menjadi tonggak penting dalam pengembangan layanan transplantasi organ di Tanah Air.
- Pasien yang menjalani tindakan merupakan pria berusia 57 tahun dengan penyakit ginjal kronis stadium akhir akibat hipertensi.
- Meski menggunakan sistem robotik, seluruh prosedur tetap dikendalikan sepenuhnya oleh dokter bedah.
Jakarta: Dunia kesehatan Indonesia mencatat sejarah baru. Siloam Hospitals Asri berhasil melakukan transplantasi ginjal berbantuan robot pertama di Indonesia melalui kolaborasi dengan Asan Medical Center, Korea Selatan.
Prosedur yang berlangsung pada 5 Juni 2026 ini menjadi tonggak penting dalam pengembangan layanan transplantasi organ di Tanah Air. Teknologi bedah robotik diharapkan mampu meningkatkan presisi tindakan sekaligus memberikan hasil klinis yang lebih baik bagi pasien.
Operasi dilakukan oleh tim urologi Siloam Hospitals Asri yang dipimpin Prof. DR. dr. Nur Rasyid, Sp.U(K), bersama sejumlah dokter spesialis urologi lainnya dengan supervisi langsung dari tim transplantasi dan bedah robotik Asan Medical Center.
Pasien yang menjalani tindakan merupakan pria berusia 57 tahun dengan penyakit ginjal kronis stadium akhir akibat hipertensi. Sebelumnya, pasien harus menjalani hemodialisis rutin dua kali dalam seminggu sejak mengalami penurunan fungsi ginjal.
Berbeda dengan operasi konvensional, teknologi robotik memungkinkan dokter melakukan tindakan dengan tingkat presisi yang lebih tinggi melalui sistem kendali khusus dan visualisasi tiga dimensi.
Teknologi ini juga menghadirkan sejumlah keuntungan bagi pasien, di antaranya:
- Sayatan operasi lebih kecil sehingga trauma jaringan dapat diminimalkan.
- Risiko perdarahan selama operasi lebih rendah.
- Nyeri pascaoperasi cenderung lebih ringan.
- Gerakan instrumen bedah lebih fleksibel dan presisi.
- Berpotensi memberikan hasil klinis yang lebih baik, terutama pada pasien dengan obesitas maupun diabetes melitus.
Meski menggunakan sistem robotik, seluruh prosedur tetap dikendalikan sepenuhnya oleh dokter bedah. Robot berfungsi sebagai alat yang membantu meningkatkan akurasi gerakan selama operasi.

Tim urologi Siloam Hospitals Asri yang berhasil melakukan transplantasi ginjal berbantuan robot pertama di Indonesia. Dok. Ist
Tim medis melaporkan kondisi pasien stabil setelah menjalani transplantasi. Pemantauan pascaoperasi menunjukkan fungsi ginjal baru mulai bekerja dengan baik.
Hal tersebut terlihat dari meningkatnya fungsi ginjal berdasarkan hasil evaluasi klinis serta produksi urine yang mencapai target sesuai harapan tim medis. Temuan ini menjadi salah satu indikator awal keberhasilan transplantasi ginjal.
Prof. DR. dr. Nur Rasyid, Sp.U(K), selaku pemimpin operasi, mengatakan keberhasilan prosedur ini merupakan hasil kolaborasi multidisiplin antara tim Indonesia dan Korea Selatan.
"Keberhasilan pelaksanaan transplantasi ginjal berbantuan robot pertama di Indonesia ini menjadi tonggak penting bagi tim bedah kami, sekaligus bagi inovasi layanan kesehatan di Indonesia. Pencapaian ini mencerminkan kuatnya kolaborasi multidisiplin serta komitmen kami dalam menghadirkan layanan yang lebih aman dan presisi bagi pasien," ujarnya.
Menurut Prof. Nur Rasyid, kolaborasi dengan Asan Medical Center bukan hanya menghadirkan teknologi terbaru, tetapi juga menjadi sarana transfer pengetahuan agar layanan transplantasi ginjal di Indonesia terus berkembang.
Ia berharap keberhasilan ini menjadi awal pengembangan transplantasi ginjal berbantuan robot secara lebih luas sehingga masyarakat dapat memperoleh layanan berstandar internasional tanpa harus menjalani pengobatan ke luar negeri.
Dengan hadirnya teknologi bedah robotik, Indonesia semakin memperkuat kapasitas layanan transplantasi organ yang lebih modern, aman, dan presisi. Inovasi ini juga diharapkan memperluas akses pasien terhadap layanan kesehatan berteknologi tinggi sekaligus meningkatkan kualitas penanganan penyakit ginjal di dalam negeri.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Prosedur yang berlangsung pada 5 Juni 2026 ini menjadi tonggak penting dalam pengembangan layanan transplantasi organ di Tanah Air. Teknologi bedah robotik diharapkan mampu meningkatkan presisi tindakan sekaligus memberikan hasil klinis yang lebih baik bagi pasien.
Operasi dilakukan oleh tim urologi Siloam Hospitals Asri yang dipimpin Prof. DR. dr. Nur Rasyid, Sp.U(K), bersama sejumlah dokter spesialis urologi lainnya dengan supervisi langsung dari tim transplantasi dan bedah robotik Asan Medical Center.
Baca Juga :
Ini Tahapan Transplantasi Ginjal bagi Resipien
Pasien yang menjalani tindakan merupakan pria berusia 57 tahun dengan penyakit ginjal kronis stadium akhir akibat hipertensi. Sebelumnya, pasien harus menjalani hemodialisis rutin dua kali dalam seminggu sejak mengalami penurunan fungsi ginjal.
Apa keunggulan transplantasi ginjal robotik?
Berbeda dengan operasi konvensional, teknologi robotik memungkinkan dokter melakukan tindakan dengan tingkat presisi yang lebih tinggi melalui sistem kendali khusus dan visualisasi tiga dimensi.
Teknologi ini juga menghadirkan sejumlah keuntungan bagi pasien, di antaranya:
- Sayatan operasi lebih kecil sehingga trauma jaringan dapat diminimalkan.
- Risiko perdarahan selama operasi lebih rendah.
- Nyeri pascaoperasi cenderung lebih ringan.
- Gerakan instrumen bedah lebih fleksibel dan presisi.
- Berpotensi memberikan hasil klinis yang lebih baik, terutama pada pasien dengan obesitas maupun diabetes melitus.
Meski menggunakan sistem robotik, seluruh prosedur tetap dikendalikan sepenuhnya oleh dokter bedah. Robot berfungsi sebagai alat yang membantu meningkatkan akurasi gerakan selama operasi.

Tim urologi Siloam Hospitals Asri yang berhasil melakukan transplantasi ginjal berbantuan robot pertama di Indonesia. Dok. Ist
Kondisi pasien membaik setelah operasi
Tim medis melaporkan kondisi pasien stabil setelah menjalani transplantasi. Pemantauan pascaoperasi menunjukkan fungsi ginjal baru mulai bekerja dengan baik.
Hal tersebut terlihat dari meningkatnya fungsi ginjal berdasarkan hasil evaluasi klinis serta produksi urine yang mencapai target sesuai harapan tim medis. Temuan ini menjadi salah satu indikator awal keberhasilan transplantasi ginjal.
Prof. DR. dr. Nur Rasyid, Sp.U(K), selaku pemimpin operasi, mengatakan keberhasilan prosedur ini merupakan hasil kolaborasi multidisiplin antara tim Indonesia dan Korea Selatan.
"Keberhasilan pelaksanaan transplantasi ginjal berbantuan robot pertama di Indonesia ini menjadi tonggak penting bagi tim bedah kami, sekaligus bagi inovasi layanan kesehatan di Indonesia. Pencapaian ini mencerminkan kuatnya kolaborasi multidisiplin serta komitmen kami dalam menghadirkan layanan yang lebih aman dan presisi bagi pasien," ujarnya.
Harapannya, pasien tak perlu lagi berobat ke luar negeri
Menurut Prof. Nur Rasyid, kolaborasi dengan Asan Medical Center bukan hanya menghadirkan teknologi terbaru, tetapi juga menjadi sarana transfer pengetahuan agar layanan transplantasi ginjal di Indonesia terus berkembang.
Ia berharap keberhasilan ini menjadi awal pengembangan transplantasi ginjal berbantuan robot secara lebih luas sehingga masyarakat dapat memperoleh layanan berstandar internasional tanpa harus menjalani pengobatan ke luar negeri.
Dengan hadirnya teknologi bedah robotik, Indonesia semakin memperkuat kapasitas layanan transplantasi organ yang lebih modern, aman, dan presisi. Inovasi ini juga diharapkan memperluas akses pasien terhadap layanan kesehatan berteknologi tinggi sekaligus meningkatkan kualitas penanganan penyakit ginjal di dalam negeri.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)