FITNESS & HEALTH
Glaukoma Bisa Sebabkan Kebutaan, Tapi Sering Tak Bergejala
A. Firdaus
Jumat 13 Maret 2026 / 17:10
- Kondisi ini dapat dialami oleh siapa saja.
- Glaukoma tidak hanya menyerang usia lanjut.
- Pada bayi juga dapat terjadi glaukoma bawaan dengan angka sekitar 1 dari 10.000–20.000 kelahiran.
Jakarta: Glaukoma merupakan penyakit saraf mata progresif yang merusak saraf optik secara perlahan yang salah satunya dapat diakibatkan oleh peningkatan tekanan di dalam bola mata.
Dalam kondisi normal, tekanan bola mata berada pada kisaran 10–21 mmHg, namun ketika tekanan meningkat atau saraf optik menjadi lebih rentan, kerusakan dapat terjadi secara bertahap hingga menyebabkan penyempitan lapang pandang dan berujung pada kebutaan permanen.
Kondisi ini dapat dialami oleh siapa saja, tetapi lebih sering terjadi pada individu berusia di atas 40 tahun dan menjadi penyebab kebutaan tertinggi kedua setelah katarak.
Glaukoma sering berkembang tanpa gejala pada tahap awal sehingga kerap baru terdeteksi ketika kerusakan penglihatan sudah berat. Berbeda dengan katarak, kerusakan akibat glaukoma tidak dapat dipulihkan, meskipun sebenarnya dapat dicegah melalui deteksi dini.
Di negara berkembang, sekitar 80-90% kasus glaukoma tidak terdiagnosis, sementara menurut jurnal yang dipublikasikan di PubMed oleh Tham et al., jumlah penderita glaukoma di dunia diperkirakan mencapai sekitar 76 juta orang pada 2020 dan akan terus meningkat menjadi sekitar 111,8 juta orang pada tahun 2040 seiring dengan pertumbuhan populasi dan meningkatnya angka harapan hidup. Di Indonesia, prevalensi glaukoma mencapai sekitar 0,46% atau 4–5 orang per 1.000 penduduk.
Prof. DR. Dr. Widya Artini Wiyogo, SpM(K), Ketua Glaukoma Service, JEC Group mengatakan, mayoritas kasus glaukoma tidak menunjukkan gejala sehingga sering baru terdeteksi saat pemeriksaan kesehatan. Namun jika muncul keluhan seperti sakit kepala hebat, penglihatan mendadak kabur, mual, muntah, atau nyeri mata, masyarakat perlu segera memeriksakan diri. Karena itu, skrining mata secara berkala sangat penting untuk mendeteksi glaukoma lebih dini.
"Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko glaukoma, seperti riwayat keluarga, diabetes melitus, penggunaan steroid jangka panjang, kelainan refraksi tinggi (miopia/hipermetropia), katarak, atau riwayat trauma mata," ujar Prof. Widya.
Namun, glaukoma tidak hanya menyerang usia lanjut. Pada bayi juga dapat terjadi glaukoma bawaan dengan angka sekitar 1 dari 10.000–20.000 kelahiran menurut American Academy of
Ophthalmology (2025), sementara pada orang dewasa penyakit ini sering berkembang tanpa gejala hingga tahap lanjut,” imbuhnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Dalam kondisi normal, tekanan bola mata berada pada kisaran 10–21 mmHg, namun ketika tekanan meningkat atau saraf optik menjadi lebih rentan, kerusakan dapat terjadi secara bertahap hingga menyebabkan penyempitan lapang pandang dan berujung pada kebutaan permanen.
Kondisi ini dapat dialami oleh siapa saja, tetapi lebih sering terjadi pada individu berusia di atas 40 tahun dan menjadi penyebab kebutaan tertinggi kedua setelah katarak.
Glaukoma sering berkembang tanpa gejala pada tahap awal sehingga kerap baru terdeteksi ketika kerusakan penglihatan sudah berat. Berbeda dengan katarak, kerusakan akibat glaukoma tidak dapat dipulihkan, meskipun sebenarnya dapat dicegah melalui deteksi dini.
Di negara berkembang, sekitar 80-90% kasus glaukoma tidak terdiagnosis, sementara menurut jurnal yang dipublikasikan di PubMed oleh Tham et al., jumlah penderita glaukoma di dunia diperkirakan mencapai sekitar 76 juta orang pada 2020 dan akan terus meningkat menjadi sekitar 111,8 juta orang pada tahun 2040 seiring dengan pertumbuhan populasi dan meningkatnya angka harapan hidup. Di Indonesia, prevalensi glaukoma mencapai sekitar 0,46% atau 4–5 orang per 1.000 penduduk.
Prof. DR. Dr. Widya Artini Wiyogo, SpM(K), Ketua Glaukoma Service, JEC Group mengatakan, mayoritas kasus glaukoma tidak menunjukkan gejala sehingga sering baru terdeteksi saat pemeriksaan kesehatan. Namun jika muncul keluhan seperti sakit kepala hebat, penglihatan mendadak kabur, mual, muntah, atau nyeri mata, masyarakat perlu segera memeriksakan diri. Karena itu, skrining mata secara berkala sangat penting untuk mendeteksi glaukoma lebih dini.
"Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko glaukoma, seperti riwayat keluarga, diabetes melitus, penggunaan steroid jangka panjang, kelainan refraksi tinggi (miopia/hipermetropia), katarak, atau riwayat trauma mata," ujar Prof. Widya.
Namun, glaukoma tidak hanya menyerang usia lanjut. Pada bayi juga dapat terjadi glaukoma bawaan dengan angka sekitar 1 dari 10.000–20.000 kelahiran menurut American Academy of
Ophthalmology (2025), sementara pada orang dewasa penyakit ini sering berkembang tanpa gejala hingga tahap lanjut,” imbuhnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)