FITNESS & HEALTH
Philips Best Campus: Dari Eindhoven untuk Dunia
Yatin Suleha
Senin 13 Juli 2026 / 03:39
- Perusahaan Philips-yang masih banyak dikenal di Indonesia dengan penciptaan lampunya- kini terus berkembang melampauainya.
- Dibuka pada tahun 1971, saat ini kawasan tersebut telah berkembang menjadi salah satu kampus Philips terbesar di dunia.
- Seiring berjalannya waktu, Philips mulai melakukan transformasi strategis yang cukup radikal.
Jakarta: Dalam perjalanan kali kedua ini (Juni-Juli 2026), tim Medcom.id secara spesial mengucapkan terima kasih kepada Philips.
Di mana perusahaan Philips-yang masih banyak dikenal di Indonesia dengan penciptaan lampunya- kini terus berkembang melampauainya, dan terus berinovasi lebih jauh pada sektor teknologi kesehatan (health technology).
Melihat Best Campus Philips di Kota Eindhoven, Belanda - atau Philips Innovation Center Eindhoven – Best Campus yang merupakan salah satu pusat inovasi kesehatan (berteknologi tinggi), bagaikan melihat jantung yang krusial dari Philips.
Dibuka pada tahun 1971, saat ini kawasan tersebut telah berkembang menjadi salah satu kampus Philips terbesar di dunia yang menaungi berbagai lini bisnis perusahaan.
Best Campus menyediakan lingkungan kerja yang inspiratif, sehat, aman, dan berkelanjutan bagi sekitar 3.500 karyawan dari berbagai latar belakang negara dan keahlian.
Dari jumlah tersebut, sekitar 1.000 karyawan fokus di bidang Riset & Pengembangan (R&D), 800 orang di sektor manufaktur berteknologi tinggi, serta 1.600 lainnya mendukung bidang layanan dan operasional bisnis.
Kawasan ini terus berkembang dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung, mulai dari pusat pertemuan multifungsi, restoran, hingga area kantor hijau (terbuka) dan pusat kebugaran.

(Memadukan perangkat keras mutakhir, perangkat lunak, dan kecerdasan buatan, Philips terus berkomitmen untuk memberikan solusi yang meningkatkan kualitas hidup manusia. Foto: Dok. Philips)
Sekali lagi, dari 10 orang yang saya temui dan tanyakan soal Philips di Indonesia, 9 dari 10 menjawab bola lampu (bolam). Tentu hal itu tidak salah.
Dalam sejarahnya, Philips memulai perjalanannya pada tahun 1891 di Eindhoven, Belanda, sebagai sebuah bisnis keluarga kecil yang didirikan oleh Gerard Philips bersama ayahnya, Frederik.
Awalnya, mereka berfokus pada produksi lampu pijar karbon, sebuah inovasi yang kemudian meletakkan dasar bagi Philips untuk menjadi raksasa teknologi global di bidang pencahayaan dan elektronik konsumen selama beberapa dekade.
Ketajaman inovasi mereka membuat nama Philips identik dengan bola lampu, radio, dan kemudian televisi yang masuk ke rumah-rumah di seluruh dunia.
Seiring berjalannya waktu, Philips mulai melakukan transformasi strategis yang cukup radikal.
Menyadari pergeseran kebutuhan dunia ke arah teknologi yang lebih esensial bagi kehidupan manusia, mereka memutuskan untuk melebarkan sayapnya.
Langkah ini merupakan titik balik besar di mana perusahaan mengarahkan juga seluruh sumber daya, riset, dan pengembangannya untuk fokus pada sektor teknologi kesehatan (health technology).
Saat ini, Philips telah berevolusi menjadi pemimpin global dalam solusi kesehatan digital.
Fokus utama mereka kini mencakup teknologi pencitraan medis canggih seperti MRI dan CT scan, sistem pemantauan pasien di rumah sakit, hingga alat kesehatan pribadi seperti perangkat sleep apnea, Philips ePatch, dan lainnya.
Dengan memadukan perangkat keras mutakhir, perangkat lunak, dan kecerdasan buatan, Philips terus berkomitmen untuk memberikan solusi yang meningkatkan kualitas hidup manusia, mulai dari pencegahan, diagnosis, hingga perawatan di rumah.
.jpeg)
(Philips Innovation Campus yang asri. Foto: Dok. Medcom.id/Yatin Suleh)
Menariknya, kecanggihan inovasi ini ternyata bersemayam di tempat yang begitu tenang. Kota kecil Best.
Melihat lokasi Best, saya masih teringat akan keasrian sejak menginjakkan kaki pertama tahun lalu. Tahun ini, bahkan di musim panas (Summer), berbagai tanaman asri bermunculan.
Bunga heather (ling), willowherb (epilobium) di area pinggiran jalan di Best, atau bunga poppy liar. Seolah jemari alam menorehkan keanggunannya, mengubah pemandangan ini menjadi kanvas yang bernapas.
Pandangan hijau daun dan pohon tinggi semarakkan suasana ditempat ini, seakan menjadi benteng alami yang menjaga kesegaran dan kemurnian di sini dari waktu ke waktu.
Sambil berjalan saya bertanya pertanyaan yang sedikit unik. "Joost, apa arti Best dari tempat ini?" ke Joost Maltha, selaku Philips Global External Relations.
Ia memaparkan bahwa tempat ini (Best Campus) terletak berdekatan dengan kota Best (sebuah kotamadya) yang tak jauh dari sini.
Best Campus menjadi jantung operasional Philips. Kampus ini merupakan salah satu fasilitas Philips terbesar di dunia, yang memusatkan kegiatannya pada riset, manufaktur berteknologi canggih, hingga pengembangan inovasi kesehatan skala global.
Ribuan insinyur, ilmuwan, dan pakar klinis berkolaborasi di kampus ini untuk merancang solusi medis masa depan yang lebih cerdas, efisien, dan presisi bagi pasien.
Keberadaan fasilitas ini tidak hanya krusial bagi bisnis global Philips, tetapi juga mengukuhkan kawasan Eindhoven (yang sering dijuluki sebagai Brainport) sebagai salah satu ekosistem teknologi paling inovatif di Eropa.
.jpeg)
(Erwin Klijn, Philips IGT Factory Manager. Foto: Dok. Medcom.id/Yatin Suleha)
Setelah berjalan beberapa saat di Best ini, kami bertemu dengan Erwin Klijn, Philips IGT Factory Manager. Dengan t-shirt biru dan pembawaannya yang tinggi semampai, ia menyambut kami dengan hangat. Memasuki area perakitan alat di Philips Innovation Campus.
Setelah menjelaskan berbagai peraturan yang harus ditaati di dalam area perakitan Image-Guided Therapy, kami diperlihatkan berbagai alat yang tersebar di sejumlah stasiun perakitan yang tertata rapi.
Ia bilang, "Kamu lihat kami ada kendaran (di dalam area ini). Ada yang digerakkan oleh manusia, ada juga yang "Un-man" (robot). Mereka berlalu-lalang. Jadi jangan beranggapan bahwa mereka akan berhenti, (jika ada kendaraan tersebut) kamu bergeser, eye contact dan jalan perlahan," terang Erwin Klijn di menit 04:01 kami berjumpa.
Di tengah kesibukan area tersebut, perhatian saya tertuju pada salah satu perangkat yang menarik perhatian; alat medis tersebut ternyata dipersiapkan untuk dikirim ke Malinau.
Malinau adalah sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Kalimantan Utara, Indonesia. Wilayah dengan kabupaten terluas di Kalimantan Utara berbatasan langsung dengan Negara Bagian Sarawak, Malaysia.
Sebagai informasi tambahan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI sejak tahun lalu, menandatangani MoU untuk memperkuat transformasi sistem kesehatan Indonesia melalui pengembangan kapasitas klinis, inovasi kesehatan digital, dan pendirian pusat pelatihan serta pusat layanan teknis.
Bertajuk program SIHREN (Strengthening Indonesia's Healthcare Referral Network) bertujuan memperkuat dan meratakan fasilitas rujukan medis nasional.
Dan Philips berperan sebagai mitra teknologi kesehatan global yang menyuplai alat-alat medis canggih (seperti Cath Lab dan CT Scan) serta melatih tenaga kesehatan.
Kembali ke dalam percakapan dengan Klijn, ia bilang, "Kami melakukan pengiriman ke seluruh dunia." Lebih detail ia menjelaskan. "Apa yang kami lakukan untuk memastikan kualitas 100 persen, kami melakukan tes pada semua hal."
Secara sederhana kami diterangkan bahwa setiap part dari piranti lunak hingga keras, akan mendapat perakitan dan pengawasan dan tes yang luar biasa ketat.
.jpg)
(Salah satu alat yang akan dikirim ke Malinau, Indonesia. (Beberapa area sengaja dikaburkan guna menjaga kerahasiaan prosedur operasional). Foto: Dok. Medcom.id/Yatin Suleha)
Klijn juga bilang, jika ada yang rusak (sambil menunjuk ke arah ruangan dengan stiker paling berbeda)- untuk menandakan bahwa part tersebut rusak, terdapat barcode yang menjelaskan, di mana, kapan, jam berapa part tersebut dibuat, dan kendalanya apa.
Dengan tersenyum dia menunjuk ke ruangan tersebut dan bilang senangnya tidak ada banyak part di sana. Artinya pengawasan berjalan sangat ketat dan baik.
Ia juga menegaskan bahwa part yang kurang bagus/bahkan rusak tidak akan kembali ke loop (bagian di mana part/komponen) tersebut dirakit. Dengan teliti mereka akan menganalisanya.
Ia juga menjelaskan bahwa part yang rusak bisa jadi juga dibuang setelah berkomunikasi dengan supplier di part/komponen yang rusak tersebut.
"Kami memiliki Department Suppllier Quality, mereka akan connect ke supplier dan mendiskusikan apa yang harus dilakukan," ujar Erwin Klijn.
Tentu hal ini ditetapkan setelah melihat, mengkaji, menyelidiki, lalu diputuskan.
"Kami melakukan tes pada semua komponen/bagian, setelah dijadikan satu kami tes kembali," katanya.
"To have a 100% checked, that's everything is safe for the customer to be treated," papar Klijn.
Satu hal yang jadi prinsip utama adalah disiplin ketat.
"Kita harus selalu mencegah label 'reject' kembali ke lini produksi," tegas Erwin Klijn.
"Karena jika itu terjadi, produk yang buruk akan tercampur dengan produk yang baik, dan hal itu tidak boleh sampai terjadi," jelas Klijn.
Bagi Erwin Klijn dan timnya, tidak ada ruang untuk kata 'hampir sempurna'. Karena bagi mereka, keamanan satu orang pelanggan adalah harga mutlak yang tidak bisa ditawar oleh angka atau efisiensi apa pun.
Dan bahwa di ujung setiap teknologi yang dibuat, terdapat nyawa manusia yang sedang dijaga.
(Melihat High Tech Campus dari Philips di Belanda. Video: Dok. YouTube Philips)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)
Di mana perusahaan Philips-yang masih banyak dikenal di Indonesia dengan penciptaan lampunya- kini terus berkembang melampauainya, dan terus berinovasi lebih jauh pada sektor teknologi kesehatan (health technology).
Melihat Best Campus Philips di Kota Eindhoven, Belanda - atau Philips Innovation Center Eindhoven – Best Campus yang merupakan salah satu pusat inovasi kesehatan (berteknologi tinggi), bagaikan melihat jantung yang krusial dari Philips.
Dibuka pada tahun 1971, saat ini kawasan tersebut telah berkembang menjadi salah satu kampus Philips terbesar di dunia yang menaungi berbagai lini bisnis perusahaan.
Best Campus menyediakan lingkungan kerja yang inspiratif, sehat, aman, dan berkelanjutan bagi sekitar 3.500 karyawan dari berbagai latar belakang negara dan keahlian.
Dari jumlah tersebut, sekitar 1.000 karyawan fokus di bidang Riset & Pengembangan (R&D), 800 orang di sektor manufaktur berteknologi tinggi, serta 1.600 lainnya mendukung bidang layanan dan operasional bisnis.
Kawasan ini terus berkembang dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung, mulai dari pusat pertemuan multifungsi, restoran, hingga area kantor hijau (terbuka) dan pusat kebugaran.
Mengenal sejarah Philips

(Memadukan perangkat keras mutakhir, perangkat lunak, dan kecerdasan buatan, Philips terus berkomitmen untuk memberikan solusi yang meningkatkan kualitas hidup manusia. Foto: Dok. Philips)
Sekali lagi, dari 10 orang yang saya temui dan tanyakan soal Philips di Indonesia, 9 dari 10 menjawab bola lampu (bolam). Tentu hal itu tidak salah.
Dalam sejarahnya, Philips memulai perjalanannya pada tahun 1891 di Eindhoven, Belanda, sebagai sebuah bisnis keluarga kecil yang didirikan oleh Gerard Philips bersama ayahnya, Frederik.
Awalnya, mereka berfokus pada produksi lampu pijar karbon, sebuah inovasi yang kemudian meletakkan dasar bagi Philips untuk menjadi raksasa teknologi global di bidang pencahayaan dan elektronik konsumen selama beberapa dekade.
Ketajaman inovasi mereka membuat nama Philips identik dengan bola lampu, radio, dan kemudian televisi yang masuk ke rumah-rumah di seluruh dunia.
Seiring berjalannya waktu, Philips mulai melakukan transformasi strategis yang cukup radikal.
Menyadari pergeseran kebutuhan dunia ke arah teknologi yang lebih esensial bagi kehidupan manusia, mereka memutuskan untuk melebarkan sayapnya.
Langkah ini merupakan titik balik besar di mana perusahaan mengarahkan juga seluruh sumber daya, riset, dan pengembangannya untuk fokus pada sektor teknologi kesehatan (health technology).
Saat ini, Philips telah berevolusi menjadi pemimpin global dalam solusi kesehatan digital.
Fokus utama mereka kini mencakup teknologi pencitraan medis canggih seperti MRI dan CT scan, sistem pemantauan pasien di rumah sakit, hingga alat kesehatan pribadi seperti perangkat sleep apnea, Philips ePatch, dan lainnya.
Dengan memadukan perangkat keras mutakhir, perangkat lunak, dan kecerdasan buatan, Philips terus berkomitmen untuk memberikan solusi yang meningkatkan kualitas hidup manusia, mulai dari pencegahan, diagnosis, hingga perawatan di rumah.
Kota kecil dengan inovasi kelas dunia
.jpeg)
(Philips Innovation Campus yang asri. Foto: Dok. Medcom.id/Yatin Suleh)
Menariknya, kecanggihan inovasi ini ternyata bersemayam di tempat yang begitu tenang. Kota kecil Best.
Melihat lokasi Best, saya masih teringat akan keasrian sejak menginjakkan kaki pertama tahun lalu. Tahun ini, bahkan di musim panas (Summer), berbagai tanaman asri bermunculan.
Bunga heather (ling), willowherb (epilobium) di area pinggiran jalan di Best, atau bunga poppy liar. Seolah jemari alam menorehkan keanggunannya, mengubah pemandangan ini menjadi kanvas yang bernapas.
Pandangan hijau daun dan pohon tinggi semarakkan suasana ditempat ini, seakan menjadi benteng alami yang menjaga kesegaran dan kemurnian di sini dari waktu ke waktu.
Sambil berjalan saya bertanya pertanyaan yang sedikit unik. "Joost, apa arti Best dari tempat ini?" ke Joost Maltha, selaku Philips Global External Relations.
Ia memaparkan bahwa tempat ini (Best Campus) terletak berdekatan dengan kota Best (sebuah kotamadya) yang tak jauh dari sini.
Best Campus menjadi jantung operasional Philips. Kampus ini merupakan salah satu fasilitas Philips terbesar di dunia, yang memusatkan kegiatannya pada riset, manufaktur berteknologi canggih, hingga pengembangan inovasi kesehatan skala global.
Ribuan insinyur, ilmuwan, dan pakar klinis berkolaborasi di kampus ini untuk merancang solusi medis masa depan yang lebih cerdas, efisien, dan presisi bagi pasien.
Keberadaan fasilitas ini tidak hanya krusial bagi bisnis global Philips, tetapi juga mengukuhkan kawasan Eindhoven (yang sering dijuluki sebagai Brainport) sebagai salah satu ekosistem teknologi paling inovatif di Eropa.
Senangnya bertemu Erwin Klijn
.jpeg)
(Erwin Klijn, Philips IGT Factory Manager. Foto: Dok. Medcom.id/Yatin Suleha)
Setelah berjalan beberapa saat di Best ini, kami bertemu dengan Erwin Klijn, Philips IGT Factory Manager. Dengan t-shirt biru dan pembawaannya yang tinggi semampai, ia menyambut kami dengan hangat. Memasuki area perakitan alat di Philips Innovation Campus.
Setelah menjelaskan berbagai peraturan yang harus ditaati di dalam area perakitan Image-Guided Therapy, kami diperlihatkan berbagai alat yang tersebar di sejumlah stasiun perakitan yang tertata rapi.
Ia bilang, "Kamu lihat kami ada kendaran (di dalam area ini). Ada yang digerakkan oleh manusia, ada juga yang "Un-man" (robot). Mereka berlalu-lalang. Jadi jangan beranggapan bahwa mereka akan berhenti, (jika ada kendaraan tersebut) kamu bergeser, eye contact dan jalan perlahan," terang Erwin Klijn di menit 04:01 kami berjumpa.
Di tengah kesibukan area tersebut, perhatian saya tertuju pada salah satu perangkat yang menarik perhatian; alat medis tersebut ternyata dipersiapkan untuk dikirim ke Malinau.
Malinau adalah sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Kalimantan Utara, Indonesia. Wilayah dengan kabupaten terluas di Kalimantan Utara berbatasan langsung dengan Negara Bagian Sarawak, Malaysia.
Sebagai informasi tambahan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI sejak tahun lalu, menandatangani MoU untuk memperkuat transformasi sistem kesehatan Indonesia melalui pengembangan kapasitas klinis, inovasi kesehatan digital, dan pendirian pusat pelatihan serta pusat layanan teknis.
Bertajuk program SIHREN (Strengthening Indonesia's Healthcare Referral Network) bertujuan memperkuat dan meratakan fasilitas rujukan medis nasional.
Dan Philips berperan sebagai mitra teknologi kesehatan global yang menyuplai alat-alat medis canggih (seperti Cath Lab dan CT Scan) serta melatih tenaga kesehatan.
Kembali ke dalam percakapan dengan Klijn, ia bilang, "Kami melakukan pengiriman ke seluruh dunia." Lebih detail ia menjelaskan. "Apa yang kami lakukan untuk memastikan kualitas 100 persen, kami melakukan tes pada semua hal."
Secara sederhana kami diterangkan bahwa setiap part dari piranti lunak hingga keras, akan mendapat perakitan dan pengawasan dan tes yang luar biasa ketat.
.jpg)
(Salah satu alat yang akan dikirim ke Malinau, Indonesia. (Beberapa area sengaja dikaburkan guna menjaga kerahasiaan prosedur operasional). Foto: Dok. Medcom.id/Yatin Suleha)
Klijn juga bilang, jika ada yang rusak (sambil menunjuk ke arah ruangan dengan stiker paling berbeda)- untuk menandakan bahwa part tersebut rusak, terdapat barcode yang menjelaskan, di mana, kapan, jam berapa part tersebut dibuat, dan kendalanya apa.
Dengan tersenyum dia menunjuk ke ruangan tersebut dan bilang senangnya tidak ada banyak part di sana. Artinya pengawasan berjalan sangat ketat dan baik.
Ia juga menegaskan bahwa part yang kurang bagus/bahkan rusak tidak akan kembali ke loop (bagian di mana part/komponen) tersebut dirakit. Dengan teliti mereka akan menganalisanya.
Ia juga menjelaskan bahwa part yang rusak bisa jadi juga dibuang setelah berkomunikasi dengan supplier di part/komponen yang rusak tersebut.
"Kami memiliki Department Suppllier Quality, mereka akan connect ke supplier dan mendiskusikan apa yang harus dilakukan," ujar Erwin Klijn.
Tentu hal ini ditetapkan setelah melihat, mengkaji, menyelidiki, lalu diputuskan.
"Kami melakukan tes pada semua komponen/bagian, setelah dijadikan satu kami tes kembali," katanya.
"To have a 100% checked, that's everything is safe for the customer to be treated," papar Klijn.
Satu hal yang jadi prinsip utama adalah disiplin ketat.
"Kita harus selalu mencegah label 'reject' kembali ke lini produksi," tegas Erwin Klijn.
"Karena jika itu terjadi, produk yang buruk akan tercampur dengan produk yang baik, dan hal itu tidak boleh sampai terjadi," jelas Klijn.
Bagi Erwin Klijn dan timnya, tidak ada ruang untuk kata 'hampir sempurna'. Karena bagi mereka, keamanan satu orang pelanggan adalah harga mutlak yang tidak bisa ditawar oleh angka atau efisiensi apa pun.
Dan bahwa di ujung setiap teknologi yang dibuat, terdapat nyawa manusia yang sedang dijaga.
(Melihat High Tech Campus dari Philips di Belanda. Video: Dok. YouTube Philips)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)