FITNESS & HEALTH

Scroll Dikit, Emosi Naik? Waspada Decision Fatigue saat Puasa

A. Firdaus
Sabtu 28 Februari 2026 / 16:25
Ringkasnya gini..
  • Masyarakat Indonesia usia 16 tahun ke atas menghabiskan rata-rata 7 jam 22 menit per hari di internet.
  • Ramadan hanya seperti kaca pembesar, memperlihatkan kebiasaan yang sudah lebih dulu terbentuk.
  • Refleksi membutuhkan jeda.
Jakarta: Ramadan sering disebut sebagai bulan menahan diri. Namun di ruang digital, yang terjadi kerap justru sebaliknya: jempol bergerak makin cepat, komentar makin spontan, dan reaksi datang bahkan sebelum informasi selesai dicerna.

Fenomena ini sebenarnya tidak hanya muncul di bulan puasa. Ramadan hanya seperti kaca pembesar, memperlihatkan kebiasaan yang sudah lebih dulu terbentuk. Masyarakat digital hari ini hidup dalam ritme yang mendorong respons instan: cepat tahu, cepat komentar, cepat menilai.

Data Digital 2025 Global Overview Report mencatat masyarakat Indonesia usia 16 tahun ke atas menghabiskan rata-rata 7 jam 22 menit per hari di internet. Dalam ekosistem dengan arus secepat ini, dorongan untuk langsung bereaksi perlahan terasa normal.
 
Belakangan, publik berkali-kali menyaksikan bagaimana satu isu bisa meledak dalam hitungan jam. Salah satu yang sempat viral adalah polemik penerima beasiswa LPDP yang dikritik oleh netizen karena anaknya mendapatkan status kewarganegaraan asing, sebuah contoh bagaimana opini publik dapat terbentuk cepat, sering kali sebelum konteks utuh benar-benar dipahami.

Psikolog Klinis Rika Ermasari, S.Psi., Psikolog, ACC, melihat pola ini bukan semata persoalan literasi atau kedewasaan digital, melainkan juga terkait kondisi kognitif masyarakat yang terus berada dalam tekanan stimulus.

“Paparan digital yang intens membuat otak mengalami overstimulasi sehingga rentang perhatian menjadi lebih pendek. Akibatnya, kita lebih mudah terdistraksi dan sulit mempertahankan fokus pada aktivitas yang membutuhkan konsentrasi panjang,” ujar Rika.

Dalam kondisi seperti itu, otak lebih mudah masuk ke mode reaktif. Setiap hari, tanpa disadari, kita mengambil ratusan keputusan kecil: scroll atau berhenti, tonton atau lewatkan, klik atau abaikan.

Menurut Rika, akumulasi keputusan mikro ini memicu decision fatigue yang menurunkan kualitas kontrol diri.

“Paparan digital memperbanyak micro-decisions. Saat energi menurun, kapasitas mental ikut turun sehingga keputusan lebih mudah didasari emosi dan menjadi lebih impulsif,” jelasnya.

Situasi Ramadan membuat kondisi ini semakin rentan. Perubahan jam tidur, fluktuasi energi, dan sensitivitas emosi saat berpuasa menciptakan kombinasi yang membuat respons digital makin cepat, dan sering kali makin emosional.

“Ketika kondisi fisik dan emosional berubah, kita cenderung lebih mudah hanyut oleh emosi di media sosial, baik marah, sedih, maupun tergoda promo. Penilaian menjadi lebih bias dan memicu perilaku impulsif,” kata Rika.

Di saat yang sama, ekosistem platform digital memang dirancang untuk mempercepat siklus reaksi. Video pendek, notifikasi mencolok, dan alur tanpa jeda membentuk pola reward instan di otak.

“Otak menjadi terbiasa mendapat kesenangan cepat dari like, komentar, atau konten singkat. Dalam kondisi energi rendah, otak cenderung mencari yang paling mudah dan menyenangkan, sehingga kemampuan menunda keinginan ikut melemah,” ujarnya.

Di titik inilah konsep dalam Dialectical Behavior Therapy (DBT) yang dikenal sebagai wise mind menjadi relevan, yakni kondisi ketika pikiran rasional dan emosi bekerja seimbang sebelum seseorang bertindak.

Menurut Rika, tantangan terbesar masyarakat digital hari ini bukan tidak tahu mana yang benar, tetapi terlalu cepat bereaksi sebelum wise mind sempat ikut bekerja.

Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun ritual jeda yang sederhana namun konsisten. Beberapa keterampilan berbasis DBT yang bisa dilatih antara lain:

- Berhenti sejenak sebelum klik atau kirim.
- Menarik napas perlahan saat emosi naik.
- Melakukan peregangan tubuh singkat.
- Memberi jeda beberapa detik sebelum share atau checkout.

“Refleksi membutuhkan jeda. Dengan memberi ruang untuk berhenti sejenak sebelum bertindak, kita membantu diri kembali lebih sadar dan tidak semata reaktif,” tutur Rika.

Di tengah budaya digital yang memuja kecepatan, kemampuan untuk berhenti mungkin terdengar sepele. Namun justru di situlah letak kendali.

Ramadan boleh jadi momentum latihan. Tetapi setelah bulan ini lewat, arus digital akan tetap sama derasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH