FITNESS & HEALTH

Rutin Cek Tekanan Darah, Kunci Kurangi Risiko Komplikasi Hipertensi

Raka Lestari
Jumat 16 Oktober 2020 / 06:10
Jakarta: Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang dapat menyebabkan terjadinya komplikasi penyakit lain, seperti jantung dan stroke yang bisa menyebabkan kematian. Untuk menghindari terjadinya komplikasi tersebut, bisa dicegah dengan melakukan cek tekanan darah secara rutin.

“Dengan melakukan pengukuran tekanan darah, bertujuan untuk penapisan. Artinya, jika seseorang belum hipertensi bukan berarti lima tahun kemudian mereka tidak akan terkena hipertensi," ujar dr. Erwinanto, Sp.JP(K), FIHA, Wakil Ketua 1 Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (PERHI) dalam Media Briefing Hari Hipertensi Sedunia 'Know Your Number'.

"Mungkin saja sebelum lima tahun sudah terkena hipertensi. Dan untuk melakukan intervensi, perlu melakukan tekanan darah secara berkala,” sambungnya.

Menurut dr. Erwin, semakin tinggi umur seseorang maka semakin tinggi juga risiko untuk terkena hipertensi. Sehingga perlu adanya pemeriksaan secara berkala.

“Kalau sudah berusia di atas 65 tahun, risiko hipertensi bisa sampai 50 persen. Itulah kenapa harus melakukan pemeriksaan tekanan darah secara berkala,” ujar dr. Erwin.

“Kalau pada saat melakukan pemeriksaan darah ternyata hipertensi, maka bisa langsung segera melakukan intervensi dengan cara melakukan gaya hidup sehat atau mengonsumsi obat yang bisa menurunkan risiko stroke dan jantung koroner,” lanjut dr. Erwin.

Sementara itu menurut Cut Putri Arianie, MD, M.H.Kes, Direktur P2PTM Kementerian Kesehatan RI, berdasarkan data Riskesdas sekitar 7 dari 10 orang Indonesia, tidak mengetahui bahwa mereka menderita penyakit tidak menular, termasuk hipertensi.

“Seringkali memang tekanan darah tinggi tidak ada keluhan. Sehingga mereka menganggap tidak ada apa-apa,” ujar Cut Putri.

“Lalu bagaimana agar mereka tahu dan bisa dicegah? Caranya adalah dengan mengukur tekanan darah secara teratur. Mengukur tekanan darah seringkali tidak kita lakukan padahal kalau kita melakukan itu bisa cepat diketahui, apalagi jika memiliki faktor risiko hipertensi,” sambungnya.

Menurut Cut Putri, penyakit tidak menular seperti hipertensi, stroke, jantung, diabetes mellitus, PPOK, merupakan penyakit yang menyebabkan kematian terbanyak di Indonesia. Dengan beban biaya terbesar juga.

“Itu terjadi dalam jangka panjang karena adanya perilaku tidak sehat dari 3 – 5 tahun sebelumnya seperti pola makan tidak sehat, konsumsi GGL (gula, garam, lemak) berlebih, serta kurangnya aktivitas fisik,” tutup Cut Putri.
(FIR)

MOST SEARCH