FITNESS & HEALTH

Jangan Anggap Sepele Sakit Kepala Kronis, Bisa Jadi Tanda Tumor Otak

A. Firdaus
Sabtu 20 Juni 2026 / 08:10
Ringkasnya gini..
  • Tumor otak terbagi menjadi dua kelompok utama.
  • Sekitar 72 persen tumor otak primer bersifat jinak, sedangkan 28 persen lainnya bersifat ganas.
  • Gejala tumor otak sering kali berkembang secara perlahan sehingga kerap diabaikan.
Jakarta: Tumor otak masih menjadi salah satu penyakit yang kerap menimbulkan kekhawatiran di masyarakat. Tak sedikit orang menganggap semua tumor otak bersifat ganas dan sulit disembuhkan. Padahal, sebagian besar tumor otak primer justru bersifat jinak dan dapat ditangani secara optimal jika terdeteksi sejak dini.

Dokter spesialis bedah saraf RS Premier Bintaro, dr. Moch. Evodia Slamet R, Sp.BS, mengatakan tumor otak terbagi menjadi dua kelompok utama, yaitu tumor primer yang berasal dari jaringan otak atau selaput otak, serta tumor sekunder atau metastasis yang merupakan penyebaran kanker dari organ lain, seperti paru-paru, payudara, dan tiroid.

"Berdasarkan data internasional, sekitar 72 persen tumor otak primer bersifat jinak, sedangkan 28 persen lainnya bersifat ganas," kata dr. Evodia dalam Media Gathering bertajuk Tumor Otak dan Tatalaksananya.
Menurut dia, baik tumor jinak maupun ganas tetap perlu mendapat perhatian karena berada di dalam rongga kepala yang terbatas. Kondisi tersebut dapat menyebabkan tekanan pada jaringan otak dan mengganggu fungsi-fungsi vital tubuh.
 

Kenali gejala tumor otak


Gejala tumor otak sering kali berkembang secara perlahan sehingga kerap diabaikan. Padahal, beberapa tanda berikut perlu diwaspadai, terutama jika muncul secara terus-menerus dan semakin memberat:

- Sakit kepala kronis yang disertai pandangan kabur.
- Kejang yang baru pertama kali muncul saat usia dewasa.
- Gangguan keseimbangan dan koordinasi tubuh.
- Kelemahan pada tangan atau kaki.
- Penurunan kemampuan pendengaran.
- Perubahan kepribadian atau perilaku.
- Muntah menyemprot.
- Penurunan kesadaran.

"Jangan mengabaikan gejala neurologis yang berlangsung kronis dan progresif. Pemeriksaan sejak dini dapat meningkatkan peluang keberhasilan terapi dan mencegah komplikasi yang lebih berat," ujar dr. Evodia.
 

Bisa menjadi kondisi darurat


Pada beberapa kasus, tumor otak dapat menyebabkan kondisi gawat darurat seperti hidrosefalus atau penumpukan cairan di otak serta perdarahan pada tumor. Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut berisiko menyebabkan kerusakan otak permanen bahkan kematian.

Untuk memastikan diagnosis, pemeriksaan CT Scan maupun MRI dengan kontras sering kali diperlukan karena dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai keberadaan tumor.
 

Pilihan penanganan semakin beragam


Perkembangan teknologi medis saat ini membuat penanganan tumor otak semakin komprehensif. Terapi yang diberikan akan disesuaikan dengan jenis, ukuran, dan lokasi tumor.

Pilihan penanganan meliputi terapi obat untuk mengurangi pembengkakan dan gejala, operasi bedah saraf secara terbuka maupun dengan teknik mikroskopik dan endoskopik, radioterapi, hingga kemoterapi pada kasus tertentu seperti glioblastoma.

Salah satu teknologi yang kini tersedia adalah Gamma Knife Radiosurgery. Berbeda dengan operasi konvensional, prosedur ini tidak memerlukan sayatan karena menggunakan radiasi terfokus untuk mengendalikan pertumbuhan tumor berukuran kecil.

"Metode ini hanya memerlukan satu kali tindakan dan tidak menimbulkan luka operasi," jelas dr. Evodia.

Ia berharap masyarakat semakin sadar pentingnya mengenali gejala tumor otak dan tidak menunda pemeriksaan. Sebab, diagnosis dan penanganan sejak dini dapat meningkatkan kualitas hidup pasien serta memperbesar peluang keberhasilan terapi.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)

MOST SEARCH