FITNESS & HEALTH

Alas Kaki yang Tepat dan Nyaman Sangat Penting bagi Jemaah dengan Komorbid Diabetes

Mia Vale
Selasa 28 Juni 2022 / 13:05
Jakarta: Saat memutuskan untuk melakukan ibadah naik haji, seorang jemaah haruslah dalam kondisi sehat dan bugar. Apalagi bila jemaah tersebut mempunyai komorbid, seperti diabetes, misalnya. 

Tak hanya kesehatan fisik, pemilihan alas kaki juga harus diperhatikan. Jangan sampai,  ketika berjalan misalnya lupa pakai alas kaki. Sehingga terkena trauma dan akhirnya mengalami luka.

Semua ini telah diimbau oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kepada para jamaah haji asal Indonesia. Pasalnya, sampai dengan Jumat, 24 Juni 2022 Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah sedikitnya merawat 10 pasien diabetic foot

Tim dokter KKHI Makkah, dr. Ahmad Syahri, Spesialis Penyakit Dalam menuturkan, "Neuropati merupakan salah satu komplikasi dari diabetes, yaitu terjadinya gangguan syaraf akibat penyakit diabetes yang ditandai dengan kesemutan, nyeri, atau mati rasa yang lebih sering menyerang syaraf kaki. Saraf- sarafnya menjadi tidak sensitif."



(Pada jemaah haji asal Indonesia yang diabetes dan infeksi pada luka, harus dilakukan rawatan lebih lanjut. Foto: Dok. Birkom Kemenkes)


Untuk luka kecil atau ringan, lanjut dr. Ahmad, cukup dioleskan dengan salep atau perawatan yang biasa, pasien bisa melanjutkan aktivitas. Namun kondisi ini berbeda halnya jika sampai terjadinya infeksi pada luka, harus dilakukan rawatan lebih lanjut.

Ia menambahkan, apabila sampai terjadi luka infeksi perlu perawatan luka sampai debridement atau perawatan luka kaki khusus. Sehingga penting bagi jemaah haji yang mempunyai riwayat diabetes untuk memerhatikan kakinya, melihat apakah ada tanda tanda luka. 

Apalagi dengan cuaca yang panas dan kering seperti di Arab Saudi, kulit kaki lebih mudah kering, pecah pecah, sampai terjadinya luka yang tidak disengaja.

"Pencegahan terbaik adalah jangan sampai terjadi luka di kaki. Sekalipun terjadi luka, sebaiknya segera diobati, agar tidak mengarah pada kondisi infeksi bahkan sepsis. Kalau punya diabetes, jangan sampai ada luka terutama luka di kaki," jelas dr. Ahmad.

Prinsipnya bagi dr. Ahmad, tetap melihat kenyamanan dari penggunaan alas kaki. Hal ini penting dilakukan, mengingat jarak yang harus ditempuh jemaah haji. Misal, jarak tempuh yang harus dilalui jemaah untuk melakukan ibadah di Masjidil Haram dari terminal Syib Amir kurang lebih sejauh satu kilometer pulang pergi. Belum lagi nanti di Masjidil Haram untuk melakukan tawaf dan sa'i.

Ia pun berpesan kepada para Tenaga Kesehatan Haji (TKH) kloter untuk memetakan jemaah haji yang sudah memiliki komorbid, dan melakukan deteksi masalah kesehatan jemaah sedini mungkin. 

"Semakin cepat terdeteksi masalah kesehatannya dan semakin cepat ditangani tentu akan semakin lebih baik hasilnya. Kalaupun ada kasus yang tidak bisa ditangani di kloter kami dari KKHI siap 24 jam untuk menerima," pesan dr. Ahmad.

(TIN)

MOST SEARCH