FITNESS & HEALTH
Negara Ini Mulai Stop Gorengan & Makanan Tinggi Gula di Sekolah
A. Firdaus
Jumat 17 April 2026 / 18:58
- Mengurangi kebiasaan konsumsi makanan cepat saji yang kurang sehat.
- Makanan penutup yang tinggi gula tidak lagi boleh disajikan setiap hari.
- Mendorong konsumsi makanan yang lebih bergizi.
Jakarta: Pola makan anak-anak kini semakin jadi sorotan, terutama karena meningkatnya kasus obesitas dan masalah kesehatan sejak usia dini. Banyak kebiasaan makan yang terbentuk di sekolah, mulai dari pilihan menu hingga jenis makanan yang dikonsumsi setiap hari.
Menyadari hal ini, pemerintah Inggris mulai mengambil langkah besar dengan merombak aturan makanan di sekolah. Fokusnya adalah mendorong konsumsi makanan, yang lebih bergizi.
Dilansir dari diabetes.co.uk, dalam usulan tersebut, makanan yang digoreng akan dihapus dari menu makan siang sekolah. Selain itu, makanan penutup yang tinggi gula tidak lagi boleh disajikan setiap hari, melainkan dibatasi hanya satu kali dalam seminggu.
Sebagai gantinya, sekolah akan didorong untuk menyediakan lebih banyak pilihan makanan sehat seperti buah-buahan, sayuran, serta biji-bijian utuh. Langkah ini, juga bertujuan mengurangi kebiasaan konsumsi makanan cepat saji yang kurang sehat, seperti pizza atau roti sosis yang sering muncul di menu harian.
Para menteri menyatakan bahwa kebijakan ini dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak, sekaligus membantu jutaan siswa mendapatkan asupan makanan, yang lebih sehat selama berada di sekolah. Pemerintah bahkan menyebut perubahan ini sebagai pembaruan terbesar, dalam kebijakan makanan sekolah dalam satu generasi.
Saat ini, aturan yang berlaku dianggap sudah ketinggalan zaman, karena tidak diperbarui selama lebih dari satu dekade. Selain itu, pandemi juga menjadi salah satu faktor, yang memperlambat pengembangan kebijakan sebelumnya.
Rencana ini akan diterapkan di sekolah dasar dan menengah di seluruh Inggris. Sebelum diberlakukan, akan ada masa konsultasi publik selama sembilan minggu. Standar akhir dari kebijakan ini ditargetkan selesai pada bulan September, dan jika disetujui, aturan baru akan mulai diterapkan pada September 2027.
Selain perubahan menu, sekolah juga diwajibkan untuk mempublikasikan daftar makanan secara online, agar lebih transparan. Sistem pengawasan baru juga akan diterapkan, untuk memastikan setiap sekolah benar-benar mengikuti standar yang telah ditetapkan.
Kebijakan ini menjadi bagian dari langkah, yang lebih luas terkait perbaikan sistem makanan sekolah. Mulai September 2026, semua anak yang berasal dari keluarga penerima Universal Credit, akan memiliki akses untuk mengajukan makanan sekolah gratis. Pemerintah juga menambah anggaran untuk program sarapan di sekolah, setelah muncul kekhawatiran bahwa dana sebelumnya belum mencukupi.
Berikut adalah beberapa temuan juga mendukung pentingnya kebijakan ini:
1. Konsumsi makanan ultra-olahan sejak usia prasekolah, dikaitkan dengan meningkatnya masalah perilaku.
2. Tingginya konsumsi makanan ultra-olahan, juga berhubungan dengan penurunan prestasi akademik di sekolah.
3. Tokoh kuliner Prue Leith menyatakan bahwa tingkat obesitas bisa ditekan, jika anak-anak diajarkan cara memasak makanan sehat sejak dini.
Meski begitu, tantangan terbesar dari rencana ini sebenarnya bukan pada aspek gizi, melainkan soal biaya. Banyak pihak dari sekolah dan penyedia katering menyatakan bahwa dana, yang tersedia saat ini belum mencukupi untuk menyediakan makanan sehat, dengan kualitas baik.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Menyadari hal ini, pemerintah Inggris mulai mengambil langkah besar dengan merombak aturan makanan di sekolah. Fokusnya adalah mendorong konsumsi makanan, yang lebih bergizi.
Dilansir dari diabetes.co.uk, dalam usulan tersebut, makanan yang digoreng akan dihapus dari menu makan siang sekolah. Selain itu, makanan penutup yang tinggi gula tidak lagi boleh disajikan setiap hari, melainkan dibatasi hanya satu kali dalam seminggu.
Baca Juga :
Sirka Perkuat Layanan Terintegrasi, Kombinasikan Teknologi dan Klinik untuk Atasi Obesitas
Sebagai gantinya, sekolah akan didorong untuk menyediakan lebih banyak pilihan makanan sehat seperti buah-buahan, sayuran, serta biji-bijian utuh. Langkah ini, juga bertujuan mengurangi kebiasaan konsumsi makanan cepat saji yang kurang sehat, seperti pizza atau roti sosis yang sering muncul di menu harian.
Para menteri menyatakan bahwa kebijakan ini dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak, sekaligus membantu jutaan siswa mendapatkan asupan makanan, yang lebih sehat selama berada di sekolah. Pemerintah bahkan menyebut perubahan ini sebagai pembaruan terbesar, dalam kebijakan makanan sekolah dalam satu generasi.
Saat ini, aturan yang berlaku dianggap sudah ketinggalan zaman, karena tidak diperbarui selama lebih dari satu dekade. Selain itu, pandemi juga menjadi salah satu faktor, yang memperlambat pengembangan kebijakan sebelumnya.
Rencana ini akan diterapkan di sekolah dasar dan menengah di seluruh Inggris. Sebelum diberlakukan, akan ada masa konsultasi publik selama sembilan minggu. Standar akhir dari kebijakan ini ditargetkan selesai pada bulan September, dan jika disetujui, aturan baru akan mulai diterapkan pada September 2027.
Selain perubahan menu, sekolah juga diwajibkan untuk mempublikasikan daftar makanan secara online, agar lebih transparan. Sistem pengawasan baru juga akan diterapkan, untuk memastikan setiap sekolah benar-benar mengikuti standar yang telah ditetapkan.
Kebijakan ini menjadi bagian dari langkah, yang lebih luas terkait perbaikan sistem makanan sekolah. Mulai September 2026, semua anak yang berasal dari keluarga penerima Universal Credit, akan memiliki akses untuk mengajukan makanan sekolah gratis. Pemerintah juga menambah anggaran untuk program sarapan di sekolah, setelah muncul kekhawatiran bahwa dana sebelumnya belum mencukupi.
Berikut adalah beberapa temuan juga mendukung pentingnya kebijakan ini:
1. Konsumsi makanan ultra-olahan sejak usia prasekolah, dikaitkan dengan meningkatnya masalah perilaku.
2. Tingginya konsumsi makanan ultra-olahan, juga berhubungan dengan penurunan prestasi akademik di sekolah.
3. Tokoh kuliner Prue Leith menyatakan bahwa tingkat obesitas bisa ditekan, jika anak-anak diajarkan cara memasak makanan sehat sejak dini.
Meski begitu, tantangan terbesar dari rencana ini sebenarnya bukan pada aspek gizi, melainkan soal biaya. Banyak pihak dari sekolah dan penyedia katering menyatakan bahwa dana, yang tersedia saat ini belum mencukupi untuk menyediakan makanan sehat, dengan kualitas baik.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)