FITNESS & HEALTH
Ramai Hate Comment di Media Sosial, Psikolog Beberkan Tips Self Love
A. Firdaus
Sabtu 25 April 2026 / 19:10
- Kunci utama dari menghadapi komentar negatif, terletak pada kemampuan membangun self love.
- Sering kali masalah muncul bukan dari komentar itu sendiri.
- Afirmasi sederhana yang diulang secara rutin.
Jakarta: Fenomena komentar negatif atau hate comment di media sosial, semakin sering dialami banyak orang, terutama mereka yang aktif membuat konten. Kondisi ini kerap memicu rasa tidak percaya diri, hingga membuat seseorang meragukan nilai dirinya sendiri.
Kunci utama dari menghadapi komentar negatif, tanpa kehilangan rasa percaya diri, terletak pada kemampuan membangun self love atau mencintai diri sendiri.
“Kalau mau punya self love yang baik, apa pun pilihan yang diambil dan apa pun kata orang lain, tetap harus merasa diri itu berharga,” ujar Tara de Thouars, BA, M. Psi., Psikolog dalam acara Svarna Kartini, Celebriting Her Voice, Her Power, Her Legacy di YouTube @metrotvnews, Sabtu (25/04/26).
Ia menjelaskan bahwa sering kali masalah muncul bukan dari komentar itu sendiri, melainkan dari cara seseorang memaknai penilaian orang lain. Standar sosial yang dianggap sebagai patokan, kerap membuat seseorang merasa tidak cukup baik, ketika tidak sesuai dengan ekspektasi tersebut.
“Kadang yang membuat sulit itu adalah judgment dari orang lain. Seakan-akan kalau tidak sesuai standar, berarti tidak berharga. Padahal, yang perlu dibangun adalah perasaan bahwa tetap berharga apa pun kondisinya,” jelasnya.
Tara menekankan bahwa setiap orang, memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Perbedaan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan diterima sebagai bagian dari identitas diri.
Ia membagikan tiga langkah sederhana, untuk menjaga kesehatan mental dan self love di tengah tekanan sosial.
Langkah pertama adalah belajar memahami dan berempati terhadap diri sendiri. Menurut Tara, tidak semua hal dalam hidup harus sesuai dengan standar, yang berlaku di masyarakat.
“Perlu memahami bahwa setiap kondisi punya alasan. Kalau belum bisa seperti orang lain, bukan berarti gagal, tapi memang sedang dalam proses,” kata Tara.
Langkah kedua adalah memberi ruang untuk diri sendiri dalam membuat pilihan. Tara menilai bahwa perbandingan dengan orang lain, sering kali menjadi sumber tekanan yang tidak perlu.
“Kalau orang lain punya jalan hidup yang berbeda, itu tidak masalah. Mau pilihan hidupnya tidak sama, tetap sah-sah saja,” ungkap Tara.
Sementara itu, langkah ketiga adalah membiasakan diri memberikan afirmasi positif. Ia menyarankan untuk mengingatkan diri sendiri, bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh kondisi sesaat.
“Boleh merasa tidak percaya diri atau insecure, itu normal. Tapi jangan sampai berlarut-larut. Ingatkan diri bahwa tetap berharga dalam situasi apa pun,” tutur Tara.
Menurutnya, afirmasi sederhana yang diulang secara rutin, seperti sebelum tidur atau setelah bangun, dapat membantu memperkuat rasa percaya diri dan menjaga kesehatan mental.
Di tengah derasnya arus komentar di media sosial, pendekatan ini dinilai penting, agar seseorang tidak mudah terpengaruh oleh penilaian negatif. Dengan membangun self love yang kuat, individu dapat tetap menjalani aktivitasnya dengan lebih tenang dan percaya diri.
Tara pun mengingatkan bahwa menerima diri sendiri bukan berarti mengabaikan kekurangan, melainkan memahami bahwa kekurangan tersebut tidak mengurangi nilai sebagai individu.
“Yang penting adalah bisa melihat kelebihan diri dan tetap menghargai diri sendiri, tanpa kehilangan rasa percaya diri hanya karena komentar orang lain,” tutupnya.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Kunci utama dari menghadapi komentar negatif, tanpa kehilangan rasa percaya diri, terletak pada kemampuan membangun self love atau mencintai diri sendiri.
“Kalau mau punya self love yang baik, apa pun pilihan yang diambil dan apa pun kata orang lain, tetap harus merasa diri itu berharga,” ujar Tara de Thouars, BA, M. Psi., Psikolog dalam acara Svarna Kartini, Celebriting Her Voice, Her Power, Her Legacy di YouTube @metrotvnews, Sabtu (25/04/26).
Ia menjelaskan bahwa sering kali masalah muncul bukan dari komentar itu sendiri, melainkan dari cara seseorang memaknai penilaian orang lain. Standar sosial yang dianggap sebagai patokan, kerap membuat seseorang merasa tidak cukup baik, ketika tidak sesuai dengan ekspektasi tersebut.
“Kadang yang membuat sulit itu adalah judgment dari orang lain. Seakan-akan kalau tidak sesuai standar, berarti tidak berharga. Padahal, yang perlu dibangun adalah perasaan bahwa tetap berharga apa pun kondisinya,” jelasnya.
Tara menekankan bahwa setiap orang, memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Perbedaan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan diterima sebagai bagian dari identitas diri.
Tips self love di tengah tekanan sosial
Ia membagikan tiga langkah sederhana, untuk menjaga kesehatan mental dan self love di tengah tekanan sosial.
1. Memahami dan berempati
Langkah pertama adalah belajar memahami dan berempati terhadap diri sendiri. Menurut Tara, tidak semua hal dalam hidup harus sesuai dengan standar, yang berlaku di masyarakat.
“Perlu memahami bahwa setiap kondisi punya alasan. Kalau belum bisa seperti orang lain, bukan berarti gagal, tapi memang sedang dalam proses,” kata Tara.
2. Beri ruang untuk diri sendiri
Langkah kedua adalah memberi ruang untuk diri sendiri dalam membuat pilihan. Tara menilai bahwa perbandingan dengan orang lain, sering kali menjadi sumber tekanan yang tidak perlu.
“Kalau orang lain punya jalan hidup yang berbeda, itu tidak masalah. Mau pilihan hidupnya tidak sama, tetap sah-sah saja,” ungkap Tara.
3. Berikan afirmasi positif
Sementara itu, langkah ketiga adalah membiasakan diri memberikan afirmasi positif. Ia menyarankan untuk mengingatkan diri sendiri, bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh kondisi sesaat.
“Boleh merasa tidak percaya diri atau insecure, itu normal. Tapi jangan sampai berlarut-larut. Ingatkan diri bahwa tetap berharga dalam situasi apa pun,” tutur Tara.
Menurutnya, afirmasi sederhana yang diulang secara rutin, seperti sebelum tidur atau setelah bangun, dapat membantu memperkuat rasa percaya diri dan menjaga kesehatan mental.
Di tengah derasnya arus komentar di media sosial, pendekatan ini dinilai penting, agar seseorang tidak mudah terpengaruh oleh penilaian negatif. Dengan membangun self love yang kuat, individu dapat tetap menjalani aktivitasnya dengan lebih tenang dan percaya diri.
Tara pun mengingatkan bahwa menerima diri sendiri bukan berarti mengabaikan kekurangan, melainkan memahami bahwa kekurangan tersebut tidak mengurangi nilai sebagai individu.
“Yang penting adalah bisa melihat kelebihan diri dan tetap menghargai diri sendiri, tanpa kehilangan rasa percaya diri hanya karena komentar orang lain,” tutupnya.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)