FITNESS & HEALTH
Kesehatan Ibu dan Anak Jadi Fondasi Masa Depan Bangsa dalam Cegah Stunting
A. Firdaus
Jumat 09 Januari 2026 / 14:08
Jakarta: Kesehatan ibu dan anak bukan hanya soal keluarga, tapi juga kunci bagi kemajuan bangsa. Menurut penelitian terbaru, 100% peradaban suatu negara ditentukan oleh kondisi kehamilan dan anak balita, khususnya dalam 1.000 hari pertama kehidupan.
Di Indonesia, masalah seperti stunting (pertumbuhan terhambat), anemia (kurang darah), dan gangguan pencernaan masih tinggi, mengancam potensi bonus demografi yang bisa membuat negara maju seperti Korea Selatan.
Indonesia masih bergulat dengan tantangan kesehatan ibu-anak yang sudah ada sejak lama. Lebih dari 50% anak meninggal karena diare kronis akibat sistem pencernaan buruk.
Sayangnya, 1 dari 2 anak Indonesia kurang serat yang menyebabkan konstipasi, diare, atau kolik. Ini membuat anak 2-3 kali lebih rentan gagal prestasi akademik.
Penelitian 2024 menunjukkan anemia bukan hanya kurang darah, tapi juga memengaruhi kemampuan otak, karena anak anemia tiga kali lebih mungkin memiliki memori kerja rendah.
Stunting dan anemia membuat anak mudah sakit, prestasi sekolah turun, dan produktivitas masa depan berkurang.
Ibu hamil yang anemia berisiko tinggi mengalami perdarahan pasca-melahirkan yang bisa fatal setiap hari, sekitar 20.000 ibu hamil meninggal di dunia, termasuk di Indonesia. Ini mengancam stok pemimpin bangsa karena anak dari ibu sehat lebih kuat.
Penelitian dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) menunjukkan bahwa jika masalah ini berlanjut, angka sarjana di Indonesia sulit naik dalam 20 tahun ke depan. Anak dengan nutrisi baik dan imunitas kuat 4,6 kali lebih mungkin menyelesaikan pendidikan tinggi.
Dari sayur, buah, dan susu pertumbuhan yang mengandung prebiotik yang menjaga bakteri baik di usus dan mencegah gangguan pencernaan.
“Komponen gizi yang penting untuk kesehatan sistem pencernaan, salah satunya adalah serat. Sayangnya studi terakhir bilang bahwa 1 dari 2 anak Indonesia gak banyak cukup serat. Tidak banyak dapat serat,” kata Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH – Medical and Scientific Affairs Director Danone Specialized Nutrition Indonesia dalam talkshow bertema “Aksi Nyata untuk Indonesia Lebih Sehat melalui Inovasi Berbasis Sains dan Kolaborasi” di Senayan pada kamis, (08/01/26)
Asupan yang bervariasi mencegah kekurangan energi dan anemia. Penelitian 2024 menunjukkan anemia bukan hanya kurang darah, tapi juga memengaruhi kemampuan otak.
“Karena anemia dan stunting hanya bisa ditekan dengan seseorang sistem. Salah satunya memastikan asuman nutrisi yang baik dan memberikan sumber kompetisi yang standar bisa menjaga sistem pencernaan. Tapi teman-teman ingat, sistem pencernaan itu butuh makanan dan butuh komponen gizi yang bisa bikin itu bagus,” tambah dr. Ray.
Sekitar 70% keputusan kesehatan dibuat di rumah oleh ibu. Edukasi keluarga penting untuk memastikan anak makan bergizi dan sistem pencernaannya sehat.
“Penelitian terbaru, kajian ideologi kesehatan yang dilakukan oleh beberapa kelompok scholar di UKM dan UI. Mereka bilang bahwa 70% keputusan kesehatan itu dilakukan di keluarga oleh ibu. Itu sebabnya ibu dan anak menjadi tulang punggung keluarga itu ternyata nggak bohong,” ungkap dr. Ray.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Di Indonesia, masalah seperti stunting (pertumbuhan terhambat), anemia (kurang darah), dan gangguan pencernaan masih tinggi, mengancam potensi bonus demografi yang bisa membuat negara maju seperti Korea Selatan.
Indonesia masih bergulat dengan tantangan kesehatan ibu-anak yang sudah ada sejak lama. Lebih dari 50% anak meninggal karena diare kronis akibat sistem pencernaan buruk.
Sayangnya, 1 dari 2 anak Indonesia kurang serat yang menyebabkan konstipasi, diare, atau kolik. Ini membuat anak 2-3 kali lebih rentan gagal prestasi akademik.
Penelitian 2024 menunjukkan anemia bukan hanya kurang darah, tapi juga memengaruhi kemampuan otak, karena anak anemia tiga kali lebih mungkin memiliki memori kerja rendah.
Stunting dan anemia membuat anak mudah sakit, prestasi sekolah turun, dan produktivitas masa depan berkurang.
Ibu hamil yang anemia berisiko tinggi mengalami perdarahan pasca-melahirkan yang bisa fatal setiap hari, sekitar 20.000 ibu hamil meninggal di dunia, termasuk di Indonesia. Ini mengancam stok pemimpin bangsa karena anak dari ibu sehat lebih kuat.
Penelitian dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) menunjukkan bahwa jika masalah ini berlanjut, angka sarjana di Indonesia sulit naik dalam 20 tahun ke depan. Anak dengan nutrisi baik dan imunitas kuat 4,6 kali lebih mungkin menyelesaikan pendidikan tinggi.
Solusi: fokus pada nutrisi dan sistem pencernaan
1. Serat
Dari sayur, buah, dan susu pertumbuhan yang mengandung prebiotik yang menjaga bakteri baik di usus dan mencegah gangguan pencernaan.
“Komponen gizi yang penting untuk kesehatan sistem pencernaan, salah satunya adalah serat. Sayangnya studi terakhir bilang bahwa 1 dari 2 anak Indonesia gak banyak cukup serat. Tidak banyak dapat serat,” kata Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH – Medical and Scientific Affairs Director Danone Specialized Nutrition Indonesia dalam talkshow bertema “Aksi Nyata untuk Indonesia Lebih Sehat melalui Inovasi Berbasis Sains dan Kolaborasi” di Senayan pada kamis, (08/01/26)
2. Variasi nutrisi
Asupan yang bervariasi mencegah kekurangan energi dan anemia. Penelitian 2024 menunjukkan anemia bukan hanya kurang darah, tapi juga memengaruhi kemampuan otak.
“Karena anemia dan stunting hanya bisa ditekan dengan seseorang sistem. Salah satunya memastikan asuman nutrisi yang baik dan memberikan sumber kompetisi yang standar bisa menjaga sistem pencernaan. Tapi teman-teman ingat, sistem pencernaan itu butuh makanan dan butuh komponen gizi yang bisa bikin itu bagus,” tambah dr. Ray.
3. Peran keluarga
Sekitar 70% keputusan kesehatan dibuat di rumah oleh ibu. Edukasi keluarga penting untuk memastikan anak makan bergizi dan sistem pencernaannya sehat.
“Penelitian terbaru, kajian ideologi kesehatan yang dilakukan oleh beberapa kelompok scholar di UKM dan UI. Mereka bilang bahwa 70% keputusan kesehatan itu dilakukan di keluarga oleh ibu. Itu sebabnya ibu dan anak menjadi tulang punggung keluarga itu ternyata nggak bohong,” ungkap dr. Ray.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)