FITNESS & HEALTH

Perbaikan Tatalaksana jadi Harapan Terbesar Penyandang Hemofilia

A. Firdaus
Jumat 29 April 2022 / 19:11
Jakarta: Memperoleh pengobatan sesuai standar medis, pembiayaan, dan deteksi dini menjadi faktor penghambat penanganan hemofilia yang optimal dan berkualitas. Untuk itu dibutuhkan perbaikan tatalaksana pengobatan bagi penyandang hemofilia.

Penyandang hemofilia dr. Satria Dananjaya dan spesialis kesehatan anak dr. Fitri Primacakti Sp.A(K) menyebutkan, kualitas hidup yang baik menjadi harapan bagi para penyandang hemofilia, khususnya anak-anak dalam masa pertumbuhan. Hal tersebut membantu mereka dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Jika tidak didukung pengobatan yang baik, penyandang hemofilia akan kesulitan untuk menjalani aktivitas sederhana akibat perdarahan yang terjadi berulang kali. Harapan terbesar dari para penyandang hemofilia adalah adanya perbaikan terhadap tatalaksana hemofilia di Indonesia.
 

Dukungan dan Kolaborasi


Dalam mewujudkan akses yang lebih luas bagi para penyandang hemofilia, perlu didukung dengan upaya penyebaran informasi agar urgensi dan kesadaran tentang hemofilia dapat dimiliki oleh pemangku kepentingan dan masyarakat. Selain itu, kemitraan antara pemerintah, lembaga yang relevan, dan media akan memperkuat implementasi PNPK Hemofilia di Indonesia.

“Kami menerapkan pertimbangan berdasarkan benefit, efektivitas, khasiat, dan aspek lainnya dalam mewujudkan perluasan akses pengobatan. Bukan soal obat yang berbiaya tinggi, jika treatment yang baru lebih baik, maka bisa saja menggantikan treatment yang lama," kata Sekretaris Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Dita Novianti Sugandi Argadiredja, S.Si., Apt., MM.

Namun dalam prosesnya, kata Dita, perlu melalui tahapan Formularium Nasional (FORNAS). Jika sudah masuk dalam FORNAS, maka  pengobatan akan dapat diakses masyarakat dengan mudah. Harapannya, ke depan bisa semakin memberi kemudahan dari sisi obat untuk pasien.
 
Dari sisi pembiayaan, penting untuk membangun sinergi antar lembaga pemerintah, swasta, dan masyarakat, untuk memastikan bahwa transformasi kebijakan Jaminan Kesehatan Nasional yang tengah berlangsung dapat memperluas akses penyandang hemofilia dalam mendapatkan perawatan yang sesuai standar.

Optimalisasi kebijakan akses pembiayaan dan standar perawatan perlu terus dilakukan, agar masyarakat Indonesia memiliki kualitas kesehatan yang semakin baik. Termasuk para penyandang hemofilia.

"Kebutuhan dasar pengobatan tentu akan menjadi prioritas bagi pemerintah. Kami telah bekerja sama dengan klinisi, agar penentuan tarif dalam JKN serta implementasinya dapat optimal," ucap Ketua Tim Kerja Jaminan Kerja Pusat Kebijakan Pendanaan  dan Desentralisasi Kesehatan Kementerian Kesehatan, dr. Maria Hotnida, MARS.

"Pilihan pilihan pengobatan yang ada tentu dapat kita gunakan selama efektif dan efisien, berdasarkan hasil penilaian teknologi kesehatan,” tutupnya.
(FIR)

MOST SEARCH