FEATURE

Di Antara Baja yang Terlipat, Ada Tangan-tangan yang Tak Melepaskan Harapan

A. Firdaus
Jumat 01 Mei 2026 / 11:15
Ringkasnya gini..
  • Dua anggota tim Basarnas, menjadi saksi sekaligus pelaku dalam proses penyelamatan, yang berlangsung lebih dari setengah hari.
  • Tantangan sesungguhnya baru dimulai, saat tim mulai berinteraksi langsung dengan para korban.
  • Di dalam gerbong yang sempit dan penuh tekanan, posisi tubuh tim penyelamat pun tidak ideal.
Jakarta: Malam itu belum benar-benar selesai, ketika sirene ambulans bersahut-sahutan di sekitar Stasiun Bekasi Timur. Di balik sorot lampu darurat dan hiruk-pikuk petugas, ada kisah panjang tentang perjuangan menyelamatkan nyawa, kisah yang tak hanya tentang teknik evakuasi, tetapi juga tentang empati, keteguhan, dan harapan yang terus dijaga di tengah kondisi paling genting.

Dua anggota tim Basarnas, menjadi saksi sekaligus pelaku dalam proses penyelamatan, yang berlangsung lebih dari setengah hari.

Mereka tiba di lokasi sekitar pukul setengah sebelas malam, saat kondisi di dalam gerbong sudah jauh dari kata normal. Struktur kereta yang rusak parah, membuat proses evakuasi menjadi jauh lebih kompleks dari kejadian biasa.
 
“Untuk kondisi kereta api yang tertabrak itu posisinya itu memang terlipat,” ujar Pak Mawar, anggota Basarnas Unit Siaga Jakarta Pusat saat hadir dalam acara Rumpi No Secret, Rabu 29 April 2026 dilansir dari YouTube @TRANSTVofficial.

Bahkan, kepala lokomotif dari KA Argo Bromo Anggrek masuk hingga ke dalam gerbong paling belakang. Lantai gerbong tergulung, menciptakan ruang sempit yang menjebak korban di antara serpihan logam yang keras.

Situasi itu membuat tim harus mengambil langkah awal dengan membuka akses. Proses ini tidak bisa dilakukan sembarangan. 

Setiap potongan pelat, kursi, hingga lantai harus diperhitungkan agar tidak memperparah kondisi korban. Dalam waktu kurang dari setengah jam, akses pertama berhasil dibuka di sisi kiri gerbong, menggunakan alat pemotong khusus.

Namun tantangan sesungguhnya baru dimulai, saat tim mulai berinteraksi langsung dengan para korban. Di tengah rasa sakit dan kepanikan, komunikasi menjadi kunci utama. Korban tidak hanya butuh diselamatkan secara fisik, tetapi juga ditenangkan secara emosional.

“Ada juga salah satu korban yang meminta orang tuanya untuk selalu di dekatnya. Dengan alasan aku butuh orang tua saya untuk menguatkan saya,” ungkap Pak Adhan yang juga seorang anggota Basarnas Unit Siaga Jakarta Pusat dalam acara yang sama.


Setiap potongan pelat, kursi, hingga lantai harus diperhitungkan agar tidak memperparah kondisi korban. Dok. Ist

Permintaan itu tidak selalu bisa dipenuhi sepenuhnya, mengingat area evakuasi sangat berbahaya. Namun tim tetap berusaha menghadirkan rasa aman dengan cara lain, berbicara, menggenggam tangan, hingga memberi harapan.

“Setelah ini kita pulang ya, bu. Kita akan ketemu anak ibu, nanti kita akan main lagi sama anak ibu,” kata Pak Adhan, menggambarkan bagaimana tim berusaha mengalihkan rasa sakit korban, dengan harapan sederhana.

Di dalam gerbong yang sempit dan penuh tekanan, posisi tubuh tim penyelamat pun tidak ideal. Mereka harus bekerja sambil menunduk, memanjat serpihan, dan membuka celah demi celah untuk mengeluarkan korban. Setiap gerakan harus presisi, karena kesalahan kecil bisa berakibat fatal.

Tidak semua korban bisa langsung diselamatkan. Dalam beberapa kasus, tim harus lebih dulu mengevakuasi korban yang sudah meninggal dunia, karena posisinya menghalangi korban lain yang masih hidup.

“Itu kami buka yang himpit-himpitan di badannya itu kakinya contohnya. Kami evakuasi dulu supaya kondisi yang terhimpit, yang masih hidup itu kelihatan,” jelas Pak Adhan.

Selama proses berlangsung, tim juga terus berkoordinasi dengan tenaga medis. Oksigen diberikan, infus dipasang, bahkan suntikan untuk mengurangi rasa sakit dilakukan sebelum evakuasi dilanjutkan. Semua dilakukan agar korban tetap bertahan selama proses penyelamatan.

Dalam kondisi tersebut, waktu menjadi musuh sekaligus harapan. Tidak ada target pasti selain satu: secepat mungkin menyelamatkan yang masih bisa diselamatkan.

“Untuk target sebenarnya cepat-cepatnya. Karena di situ kita bisa kontrol dari tingkat kesadaran korbannya,” ujar Pak Adhan.

Dari seluruh proses panjang itu, lima korban yang masih hidup berhasil dievakuasi dalam kondisi bisa berkomunikasi. Mereka menjadi prioritas utama dalam operasi penyelamatan yang berlangsung sekitar 12 jam.

Di balik kerja teknis yang berat, ada sisi kemanusiaan yang begitu terasa. Tangan-tangan yang menggenggam erat, suara yang menenangkan di tengah tangis, hingga janji sederhana untuk pulang, semua menjadi bagian dari perjuangan yang tak terlihat kamera.

“Bahkan si korban itu sering memegang bapak. Memegang tangan. Meraih. Memegang pundak. Karena kita harus ngontrol, menenangkan bu sabar ya. Sebentar lagi kan keluar,” ungkap Pak Mawar.

Kini, setelah proses evakuasi selesai, angka korban terus diperbarui. Sebanyak 16 orang dinyatakan meninggal dunia, sementara puluhan lainnya masih menjalani perawatan, dan sebagian telah kembali ke keluarga.

Di tengah duka yang menyelimuti, kisah dari Bekasi Timur meninggalkan satu hal yang tak bisa diabaikan: bahwa di balik setiap tragedi, selalu ada manusia yang berjuang tanpa henti, bukan hanya dengan alat, tetapi juga dengan hati.

Secillia Nur Hafifah

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH