FEATURE
Dari Jalanan hingga Dapur, Kisah Perempuan yang Memilih Tetap Melangkah
A. Firdaus
Sabtu 25 April 2026 / 11:23
- Mak Netty memilih jalan yang tidak mudah. Bergabung sebagai Mitra Pengemudi GrabBike sejak 2018.
- Kisah berbeda namun serupa dalam makna dijalani oleh Fitri Farhatani.
- Dua jalan yang berbeda, satu benang merah yang sama: ketangguhan.
Jakarta: Di balik angka lebih dari Rp6 triliun pendanaan yang telah diakses oleh ratusan ribu mitra melalui layanan finansial digital, tersimpan kisah-kisah sunyi tentang perjuangan. Bukan sekadar angka, melainkan perjalanan hidup yang penuh tikungan, kehilangan, dan keberanian untuk memulai kembali.
Lebih dari 445.000 Mitra UMKM dan Mitra Pengemudi di seluruh Indonesia telah memanfaatkan layanan dari Grab melalui GrabModal by OVO Finansial. Namun di antara ribuan cerita itu, kisah dua perempuan, Mak Netty dan Fitri Farhatani, menjadi cermin ketangguhan Kartini masa kini.
Di usia yang tak lagi muda, Mak Netty memilih jalan yang tidak mudah. Bergabung sebagai Mitra Pengemudi GrabBike sejak 2018, ia mengendarai motornya menyusuri jalanan kota, bukan sekadar untuk mencari nafkah, tetapi untuk menjaga keluarganya tetap bertahan.
Sebelumnya, ia adalah seorang pengajar. Namun hidup membawanya pada pilihan lain saat harus merawat orang tua yang sakit. Ketika sang suami juga jatuh sakit dan membutuhkan biaya pengobatan, Mak Netty pun mengambil peran sebagai tulang punggung keluarga.
Pinjaman pertamanya melalui GrabModal digunakan untuk biaya berobat. Nominalnya tak besar, sekitar Rp2 juta. Tapi dari sanalah ia bisa terus melanjutkan hari-harinya.
“Boleh nangis, tapi tetap harus berjalan,” menjadi prinsip yang ia pegang.

Mak Netty, Mitra Pengemudi GrabBike. Dok. Ist
Dalam perjalanannya, ia juga pernah menghadapi situasi ketika alat kerjanya, telepon genggam, rusak. Lagi-lagi, akses pendanaan menjadi jembatan agar ia bisa kembali bekerja tanpa terhenti.
Tak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, Mak Netty juga aktif di komunitas pengemudi perempuan, berbagi cerita dan semangat. Baginya, bekerja bukan soal gengsi.
“Selama pekerjaannya baik, kenapa harus malu?” ujarnya.
Kini, meski suaminya telah berpulang dan anaknya telah berkeluarga, Mak Netty tetap memilih mandiri. Ia terus melaju, satu perjalanan dalam satu waktu.
Di sudut lain Indonesia, tepatnya di Serang, Banten, kisah berbeda namun serupa dalam makna dijalani oleh Fitri Farhatani.
Sebelum menjadi pelaku usaha, Fitri sempat bekerja di rumah sakit. Namun setelah memiliki anak, ia memutuskan berhenti dan mencoba berbagai usaha kecil. Jalan yang ia tempuh tak selalu mulus.
Titik terendah datang ketika tabungan keluarga sebesar Rp120 juta hilang akibat penipuan digital. Peristiwa itu bukan hanya menguras finansial, tetapi juga mengguncang kehidupan rumah tangganya.
Namun dari titik itulah, Fitri memilih bangkit.
Dengan modal Rp200 ribu dari sang ibu, ia mulai berjualan makanan dari dapur rumah kontrakan pada 2024. Tak disangka, dagangannya habis dalam waktu dua jam di hari pertama. Dari langkah kecil itu, harapan mulai tumbuh.
“Aku cuma berharap bisa dapat Rp50 ribu sehari. Tapi ternyata ini jadi jalan baru buat kami,” tuturnya.
Usahanya perlahan berkembang. Suaminya yang sempat menjauh, mulai kembali membantu. Dari dapur kecil, bukan hanya pemasukan yang ia bangun, tetapi juga kehangatan keluarga yang sempat retak.
Untuk mengembangkan usaha, Fitri memanfaatkan akses pendanaan dari GrabModal. Pinjaman yang awalnya kecil, berkembang hingga Rp10 juta untuk menunjang operasional.
Kini, hasil kerja keras itu mulai terlihat. Ia berhasil mengembalikan tabungan yang sempat hilang, bahkan membeli rumah secara tunai pada 2026—sebuah pencapaian yang lahir dari proses panjang dan penuh keteguhan.
Mak Netty dan Fitri mungkin tidak berdiri di panggung besar. Namun, keduanya menunjukkan bahwa makna Kartini hari ini hadir dalam bentuk yang lebih dekat—di jalanan, di dapur, dan di setiap keputusan untuk tidak menyerah.
Bagi Mak Netty, kekuatan adalah tentang tetap berjalan, apa pun yang terjadi.
Bagi Fitri, keberanian adalah tentang memulai, bahkan dari nol.
Dua jalan yang berbeda, satu benang merah yang sama: ketangguhan.
Melalui dukungan akses finansial yang lebih inklusif, layanan seperti GrabModal by OVO Finansial menjadi salah satu penguat langkah bagi para perempuan ini. Bukan sebagai solusi instan, tetapi sebagai alat untuk membantu mereka tetap bergerak di tengah situasi yang tidak selalu berpihak.
Di momen Hari Kartini, kisah seperti ini mengingatkan bahwa perjuangan tidak selalu besar dan terlihat. Kadang, ia hadir dalam bentuk paling sederhana—bangun pagi, kembali mencoba, dan memilih untuk melangkah lagi hari ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Lebih dari 445.000 Mitra UMKM dan Mitra Pengemudi di seluruh Indonesia telah memanfaatkan layanan dari Grab melalui GrabModal by OVO Finansial. Namun di antara ribuan cerita itu, kisah dua perempuan, Mak Netty dan Fitri Farhatani, menjadi cermin ketangguhan Kartini masa kini.
Di atas motor, Mak Netty menjaga hidup tetap berjalan
Di usia yang tak lagi muda, Mak Netty memilih jalan yang tidak mudah. Bergabung sebagai Mitra Pengemudi GrabBike sejak 2018, ia mengendarai motornya menyusuri jalanan kota, bukan sekadar untuk mencari nafkah, tetapi untuk menjaga keluarganya tetap bertahan.
Sebelumnya, ia adalah seorang pengajar. Namun hidup membawanya pada pilihan lain saat harus merawat orang tua yang sakit. Ketika sang suami juga jatuh sakit dan membutuhkan biaya pengobatan, Mak Netty pun mengambil peran sebagai tulang punggung keluarga.
Pinjaman pertamanya melalui GrabModal digunakan untuk biaya berobat. Nominalnya tak besar, sekitar Rp2 juta. Tapi dari sanalah ia bisa terus melanjutkan hari-harinya.
“Boleh nangis, tapi tetap harus berjalan,” menjadi prinsip yang ia pegang.

Mak Netty, Mitra Pengemudi GrabBike. Dok. Ist
Dalam perjalanannya, ia juga pernah menghadapi situasi ketika alat kerjanya, telepon genggam, rusak. Lagi-lagi, akses pendanaan menjadi jembatan agar ia bisa kembali bekerja tanpa terhenti.
Tak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, Mak Netty juga aktif di komunitas pengemudi perempuan, berbagi cerita dan semangat. Baginya, bekerja bukan soal gengsi.
“Selama pekerjaannya baik, kenapa harus malu?” ujarnya.
Kini, meski suaminya telah berpulang dan anaknya telah berkeluarga, Mak Netty tetap memilih mandiri. Ia terus melaju, satu perjalanan dalam satu waktu.
Dari kehilangan ke harapan, perjalanan Fitri dari dapur sederhana
Di sudut lain Indonesia, tepatnya di Serang, Banten, kisah berbeda namun serupa dalam makna dijalani oleh Fitri Farhatani.
Sebelum menjadi pelaku usaha, Fitri sempat bekerja di rumah sakit. Namun setelah memiliki anak, ia memutuskan berhenti dan mencoba berbagai usaha kecil. Jalan yang ia tempuh tak selalu mulus.
Titik terendah datang ketika tabungan keluarga sebesar Rp120 juta hilang akibat penipuan digital. Peristiwa itu bukan hanya menguras finansial, tetapi juga mengguncang kehidupan rumah tangganya.
Namun dari titik itulah, Fitri memilih bangkit.
Dengan modal Rp200 ribu dari sang ibu, ia mulai berjualan makanan dari dapur rumah kontrakan pada 2024. Tak disangka, dagangannya habis dalam waktu dua jam di hari pertama. Dari langkah kecil itu, harapan mulai tumbuh.
“Aku cuma berharap bisa dapat Rp50 ribu sehari. Tapi ternyata ini jadi jalan baru buat kami,” tuturnya.
Usahanya perlahan berkembang. Suaminya yang sempat menjauh, mulai kembali membantu. Dari dapur kecil, bukan hanya pemasukan yang ia bangun, tetapi juga kehangatan keluarga yang sempat retak.
Untuk mengembangkan usaha, Fitri memanfaatkan akses pendanaan dari GrabModal. Pinjaman yang awalnya kecil, berkembang hingga Rp10 juta untuk menunjang operasional.
Kini, hasil kerja keras itu mulai terlihat. Ia berhasil mengembalikan tabungan yang sempat hilang, bahkan membeli rumah secara tunai pada 2026—sebuah pencapaian yang lahir dari proses panjang dan penuh keteguhan.
Kartini yang hidup di sekitar kita
Mak Netty dan Fitri mungkin tidak berdiri di panggung besar. Namun, keduanya menunjukkan bahwa makna Kartini hari ini hadir dalam bentuk yang lebih dekat—di jalanan, di dapur, dan di setiap keputusan untuk tidak menyerah.
Bagi Mak Netty, kekuatan adalah tentang tetap berjalan, apa pun yang terjadi.
Bagi Fitri, keberanian adalah tentang memulai, bahkan dari nol.
Dua jalan yang berbeda, satu benang merah yang sama: ketangguhan.
Melalui dukungan akses finansial yang lebih inklusif, layanan seperti GrabModal by OVO Finansial menjadi salah satu penguat langkah bagi para perempuan ini. Bukan sebagai solusi instan, tetapi sebagai alat untuk membantu mereka tetap bergerak di tengah situasi yang tidak selalu berpihak.
Di momen Hari Kartini, kisah seperti ini mengingatkan bahwa perjuangan tidak selalu besar dan terlihat. Kadang, ia hadir dalam bentuk paling sederhana—bangun pagi, kembali mencoba, dan memilih untuk melangkah lagi hari ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)