FAMILY

Ngajarin Anak Soal Safety Nggak Harus Nakut-nakutin, Ini Caranya

A. Firdaus
Kamis 05 Februari 2026 / 10:15
Ringkasnya gini..
  • Orang Tua harus menyeimbangkan antara kesadaran dan rasa takut.
  • Anak-anak perlu diberikan keterampilan praktis.
  • Selain pendidikan langsung, teknologi juga menjadi alat pendukung.
Jakarta: Membicarakan keamanan anak tidak harus selalu dimulai dari skenario terburuk. Justru, pendekatan yang terlalu menakutkan dapat membuat anak bingung dan tidak siap bertindak.

Dilansir dari Parents, Jennifer Katzenstein, PhD dari Johns Hopkins All Children’s Hospital menekankan pentingnya keseimbangan antara kesadaran dan ketenangan.

“Sebagai orang tua, kita harus menyeimbangkan antara kesadaran dan rasa takut. Jelaskan situasi yang bisa terjadi, mulai dari orang asing yang mendekati mereka di taman atau saat bersepeda, hingga keamanan media sosial dan orang asing yang menghubungi melalui platform media sosial dan mencoba bertemu atau menawarkan hadiah mahal,” kata Katzenberg.
Anak-anak perlu diberikan keterampilan praktis yang bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Berikut adalah contoh mengajarkan perilaku aman kepada anak-anak usia sekolah dasar:

1. Jika seseorang yang tidak dikenal menawarkan permen atau hadiah, ajarkan anakmu untuk menolak dengan tegas.

2. Jika orang asing meminta bantuan atau mengajak pergi, anak diajarkan untuk mengatakan bahwa perlu memeriksa dengan orang dewasa terlebih dahulu.

3. Anak juga didorong untuk tidak takut mengatakan tidak, bahkan kepada orang dewasa.

Callahan Walsh dari National Center For Missing & Exploited Children (NCMEC), menegaskan pentingnya pesan ini dengan mengatakan tidak. “Anak-anak diajarkan untuk menghormati orang yang lebih tua, tetapi jika mereka merasa sedih, takut, bingung, atau tidak nyaman, mereka berhak untuk mengatakan tidak,” kata Walsh.

Kalimat ini memperkuat gagasan bahwa rasa hormat tidak boleh menghilangkan hak anak atas rasa aman.

Selain pendidikan langsung, teknologi juga menjadi alat pendukung yang bermanfaat. Perangkat pelacak lokasi seperti smartwatch memberi rasa tenang karena keberadaan anak dapat dipantau.

Namun, keamanan tidak selalu bergantung pada teknologi canggih. Cara sederhana seperti membuat kata sandi keluarga juga efektif.

Walsh menjelaskan bahwa kata sandi ini digunakan untuk memastikan bahwa orang yang mengaku mewakili keluarga benar-benar dapat dipercaya. “Ini adalah cara untuk menjalin ikatan dengan anak-anak dan membuat mereka merasa terlindungi,” kata Walsh.

Dengan membekali anak melalui percakapan rutin, latihan sederhana, dan rasa percaya, keamanan dapat dibangun tanpa menanamkan ketakutan. Anak pun tumbuh dengan kesiapan menghadapi dunia, bukan dengan rasa curiga berlebihan, tetapi dengan kewaspadaan yang sehat dan realistis. 

Secillia Nur Hafifah

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH