FAMILY

Moms, Kenali Pemeriksaan di Awal Masa Kehidupan Buah Hati

Medcom
Selasa 18 Juli 2023 / 17:05
Jakarta: Pemeriksaan di masa awal kehidupan sangat penting untuk menunjang perkembangan pada fase berikutnya. Pada masa awal kehidupan, penting sekali untuk memastikan kondisi buah hati. 

Tidak ada yang berharap hal buruk, tentu saja. Untuk itu, pemeriksaan pada bayi baru lahir penting dilakukan. Tujuannya adalah apabila diketahui adanya gangguan sedari dini penanganan yang tepat dapat dilakukan sebelum masalah tersebut menimbulkan efek negatif.

Pemeriksaan pertama yang dilakukan adalah pemeriksaan fisik. Pemeriksaan meliputi jenis kelamin, pengukuran berat dan panjang badan, serta ada-tidaknya kelainan bawaan yang terlihat secara kasat mata ini idealnya dilakukan di hadapan orang tua.

Memasuki usia 48 jam, menurut dr. Setya Dewi Lusyati, Sp. A, Subsp. Neo, Ph.D selaku Dokter Spesialis Ilmu Kesehatan Anak Subspesialis Kesehatan Anak Neonatologi dari RS Pondok Indah – Puri Indah, ada beberapa pemeriksaan lain pun perlu dilakukan, antara lain: 
 

1. Pemeriksaan fungsi tiroid (Thyroid Stimulating Hormone/TSH)


Ini dilakukan dengan pengambilan darah. Kekurangan tiroid dapat mengganggu pertumbuhan fisik dan kemampuan mental secara perlahan. Jika diketahui ada gangguan dari pemeriksaan ini, pengobatan dapat dilakukan sebelum bayi berusia satu bulan.


(Dr. Setya Dewi Lusyati, Sp. A, Subsp. Neo, Ph.D, Dokter Spesialis Ilmu Kesehatan Anak Subspesialis Kesehatan Anak Neonatologi dari RS Pondok Indah – Puri Indah. Foto: Dok. Istimewa)
 

2. Pemeriksaan fungsi enzim Glucose-6-Phosphate Dehydrogenase (G6PD)


Pada masyarakat Asia, khususnya Asia Timur, risiko kekurangan enzim ini lebih tinggi – yang menyebabkan sel darah merah lebih cepat pecah dibanding pembentukannya sehingga menyebabkan anemia dan mudah kuning.
 

3. Pemeriksaan kelainan jantung bawaan biru


Dilakukan dengan pemeriksaan saturasi oksigen pada jari atau tangan kanan. Jika saturasi di bawah 90 persen, diperlukan pemeriksaan lanjutan berupa echocardiography (USG jantung) untuk memastikan ada-tidaknya kelainan pada jantung.

Pemeriksaan tambahan diperlukan bagi bayi dari orang tua dengan riwayat kelainan bawaan. Pada bayi seperti ini, jika ada kelainan biasanya terlihat saat pemeriksaan USG, meski ada pula potensi tidak terlihat. 

Jika kelainan bawaan memerlukan pemeriksaan genetik atau kromosom, orang tua akan dimintai persetujuan untuk dilakukannya pemeriksaan tersebut.

Sementara, untuk bayi prematur, diperlukan pemeriksaan tambahan yang akan diulang secara berkala, seperti: 
 
  • - Rontgen untuk melihat kemampuan paru
  • - USG kepala untuk melihat ada-tidaknya perdarahan otak
  • - Magnetic Resonance Imaging (MRI) dilakukan jika ditemukan kelainan pada otak hasil dari USG kepala
  • - USG jantung 
  • - Pengecekan fungsi mata untuk melihat vaskularisasi (suplai oksigen dan nutrisi) terlebih pada bayi dengan riwayat pernah mendapat bantuan oksigen
  • - Pemeriksaan pendengaran yang dilakukan sebelum bayi keluar dari rumah sakit
  • - Evaluasi tumbuh kembang hingga usia dua tahun
  • - Pemeriksaan lain sesuai dengan kondisi klinis bayi

Pada bayi baru lahir, tidak semua gangguan perlu langsung mendapat tindakan atau bahkan tidak memerlukan tindakan. Kelainan jantung, misalnya, ada yang membaik dengan sendirinya pada usia satu tahun.

Jikalau perkembangan ke arah memburuk, tindakan dilakukan saat berat bayi mencapai 3 kilogram. Begitu pula dengan kelainan testis (pemantauan hingga usia 2-4 bulan) dan hernia (lebih dari usia 4 bulan).



Aulia Putriningtias


Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH