FAMILY
Libur Sekolah Mau Main di Luar? Cek Dulu 7 Tips Hindari Polusi Udara Ini
A. Firdaus
Rabu 08 Juli 2026 / 13:12
- Sebelum mengajak anak beraktivitas di luar ruangan, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk meminimalkan risikonya.
- Ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk meminimalkan risikonya.
- Anak-anak memiliki sistem pernapasan yang masih berkembang sehingga lebih rentan terhadap dampak polusi udara dibandingkan orang dewasa.
Jakarta: Libur sekolah menjadi momen yang dinantikan anak-anak untuk bermain dan beraktivitas di luar rumah. Namun, di tengah kondisi kualitas udara yang kerap memburuk di sejumlah daerah, orang tua perlu lebih waspada agar si kecil tidak terpapar polusi udara berlebihan.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa paparan polusi udara dapat berdampak pada kesehatan saluran pernapasan anak. Karena itu, sebelum mengajak anak beraktivitas di luar ruangan, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk meminimalkan risikonya.
Berikut tips yang dibagikan Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi IDAI, dr. Cynthia Centauri, Sp.A., Subsp.Respi.(K).
Sebelum mengajak anak bermain di luar, biasakan memeriksa Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Jika kualitas udara sedang buruk, sebaiknya batasi aktivitas luar ruangan atau pilih waktu ketika kondisi udara lebih baik.
Untuk anak berusia tiga tahun ke atas, masker dapat membantu mengurangi paparan partikel polusi saat berada di luar rumah, terutama ketika kualitas udara sedang tidak sehat.
Usahakan memilih lokasi bermain yang jauh dari jalan raya padat kendaraan atau kawasan dengan tingkat polusi tinggi.
Jika bepergian menggunakan mobil, tutup jendela kendaraan saat melintasi area yang banyak dipenuhi asap kendaraan agar udara kotor tidak masuk ke dalam kabin.
Bangunan yang sedang direnovasi dapat menghasilkan debu semen, debu silika, serta senyawa organik volatil (Volatile Organic Compounds atau VOC) yang berasal dari cat, lem, maupun pernis.
Paparan zat-zat tersebut dapat memicu batuk, iritasi saluran napas, bahkan memperberat gejala asma pada anak. Menurut dr. Cynthia, VOC juga masih bisa dilepaskan dari material bangunan meski bau cat sudah tidak lagi tercium.
Asap rokok konvensional maupun rokok elektronik sama-sama mengandung zat yang dapat mengganggu kesehatan saluran pernapasan anak.
Karena itu, pastikan anak tidak berada di lingkungan yang dipenuhi asap rokok, baik di dalam maupun di luar rumah.
Kebiasaan membakar sampah di lingkungan sekitar juga dapat meningkatkan polusi udara.
Asap hasil pembakaran mengandung berbagai zat berbahaya seperti partikel halus PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, sulfur dioksida, hingga logam berat yang dapat berdampak buruk pada kesehatan anak, terutama sistem pernapasannya.
Selain mengurangi aktivitas di luar saat kualitas udara buruk, orang tua juga dapat menjaga kualitas udara di dalam rumah.
Salah satunya dengan menggunakan alat pembersih udara (air purifier) bila diperlukan serta menanam tanaman hijau yang dapat membantu mengurangi polutan di lingkungan sekitar.
Menurut dr. Cynthia, menjaga kualitas udara bukan hanya untuk kesehatan anak saat ini, tetapi juga menjadi investasi bagi lingkungan yang lebih sehat di masa depan.
"Polusi udara bisa dikurangi kalau kita semua sadar bahwa ada lingkungan dan masa depan yang harus kita jaga bersama," ujar dr. Cynthia.
Anak-anak memiliki sistem pernapasan yang masih berkembang sehingga lebih rentan terhadap dampak polusi udara dibandingkan orang dewasa. Oleh karena itu, langkah-langkah sederhana seperti memantau kualitas udara, menghindari sumber polusi, dan menciptakan lingkungan yang lebih bersih dapat membantu menjaga kesehatan mereka selama menikmati libur sekolah.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa paparan polusi udara dapat berdampak pada kesehatan saluran pernapasan anak. Karena itu, sebelum mengajak anak beraktivitas di luar ruangan, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk meminimalkan risikonya.
Berikut tips yang dibagikan Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi IDAI, dr. Cynthia Centauri, Sp.A., Subsp.Respi.(K).
1. Cek kualitas udara sebelum keluar rumah
Sebelum mengajak anak bermain di luar, biasakan memeriksa Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Jika kualitas udara sedang buruk, sebaiknya batasi aktivitas luar ruangan atau pilih waktu ketika kondisi udara lebih baik.
2. Gunakan masker bila diperlukan
Untuk anak berusia tiga tahun ke atas, masker dapat membantu mengurangi paparan partikel polusi saat berada di luar rumah, terutama ketika kualitas udara sedang tidak sehat.
3. Hindari area dengan polusi tinggi
Usahakan memilih lokasi bermain yang jauh dari jalan raya padat kendaraan atau kawasan dengan tingkat polusi tinggi.
Jika bepergian menggunakan mobil, tutup jendela kendaraan saat melintasi area yang banyak dipenuhi asap kendaraan agar udara kotor tidak masuk ke dalam kabin.
4. Jangan ajak anak ke bangunan yang sedang direnovasi
Bangunan yang sedang direnovasi dapat menghasilkan debu semen, debu silika, serta senyawa organik volatil (Volatile Organic Compounds atau VOC) yang berasal dari cat, lem, maupun pernis.
Paparan zat-zat tersebut dapat memicu batuk, iritasi saluran napas, bahkan memperberat gejala asma pada anak. Menurut dr. Cynthia, VOC juga masih bisa dilepaskan dari material bangunan meski bau cat sudah tidak lagi tercium.
5. Jauhkan anak dari asap rokok dan rokok elektronik
Asap rokok konvensional maupun rokok elektronik sama-sama mengandung zat yang dapat mengganggu kesehatan saluran pernapasan anak.
Karena itu, pastikan anak tidak berada di lingkungan yang dipenuhi asap rokok, baik di dalam maupun di luar rumah.
6. Hindari paparan asap pembakaran sampah
Kebiasaan membakar sampah di lingkungan sekitar juga dapat meningkatkan polusi udara.
Asap hasil pembakaran mengandung berbagai zat berbahaya seperti partikel halus PM2.5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, sulfur dioksida, hingga logam berat yang dapat berdampak buruk pada kesehatan anak, terutama sistem pernapasannya.
7. Jaga kualitas udara di rumah
Selain mengurangi aktivitas di luar saat kualitas udara buruk, orang tua juga dapat menjaga kualitas udara di dalam rumah.
Salah satunya dengan menggunakan alat pembersih udara (air purifier) bila diperlukan serta menanam tanaman hijau yang dapat membantu mengurangi polutan di lingkungan sekitar.
Menurut dr. Cynthia, menjaga kualitas udara bukan hanya untuk kesehatan anak saat ini, tetapi juga menjadi investasi bagi lingkungan yang lebih sehat di masa depan.
"Polusi udara bisa dikurangi kalau kita semua sadar bahwa ada lingkungan dan masa depan yang harus kita jaga bersama," ujar dr. Cynthia.
Anak-anak memiliki sistem pernapasan yang masih berkembang sehingga lebih rentan terhadap dampak polusi udara dibandingkan orang dewasa. Oleh karena itu, langkah-langkah sederhana seperti memantau kualitas udara, menghindari sumber polusi, dan menciptakan lingkungan yang lebih bersih dapat membantu menjaga kesehatan mereka selama menikmati libur sekolah.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)