FAMILY
Kebiasaan Sarapan Perlu Dibangun Sejak Dini untuk Dukung Tumbuh Kembang Anak
Elang Riki Yanuar
Senin 13 Juli 2026 / 15:00
- Sarapan bergizi sejak dini membantu anak memperoleh energi untuk belajar, bermain, dan mendukung tumbuh kembang secara optimal.
- Data menunjukkan masih banyak anak Indonesia belum mendapatkan sarapan dengan energi memadai dan kualitas gizi sesuai kebutuhan.
- Peran orang tua dan konsistensi keluarga menjadi kunci dalam membangun kebiasaan sarapan sehat dan teratur pada anak sejak dini.
Jakarta: Kebiasaan sarapan yang baik perlu dibangun sejak dini agar anak mendapatkan energi dan nutrisi sebelum memulai berbagai aktivitas. Sarapan bukan sekadar rutinitas untuk menghilangkan rasa lapar, tetapi juga menjadi bagian penting dalam mendukung kesiapan anak untuk belajar, bermain, dan menjalani masa pertumbuhan.
Sayangnya, kebiasaan sarapan anak di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Tidak semua anak mendapatkan sarapan dalam jumlah yang memadai dan memiliki kualitas gizi sesuai kebutuhan tubuh.
Berdasarkan data SEANUTS II pada 2024, hanya 32 persen anak Indonesia berusia 2 hingga 12 tahun yang mengonsumsi sarapan dalam jumlah memadai. Kondisi tersebut menunjukkan masih banyak anak yang memulai aktivitas tanpa mendapatkan asupan pagi secara optimal.
Sementara itu, data Survei Diet Total Kementerian Kesehatan RI pada 2020 mencatat sebanyak 47,7 persen anak belum memenuhi kebutuhan energi minimal saat sarapan. Selain itu, sebanyak 66,8 persen anak masih mengonsumsi sarapan dengan kualitas gizi yang rendah.
Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya perhatian orang tua terhadap kebiasaan makan anak pada pagi hari. Sarapan yang diberikan tidak hanya perlu mengenyangkan, tetapi juga harus mempertimbangkan kebutuhan energi dan nutrisi untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
Dokter spesialis anak, dr. Ahmad Hafidz, Sp.A, mengatakan kebiasaan sarapan yang baik perlu diperkenalkan kepada anak sejak usia dini. Kebiasaan tersebut dapat membantu mempersiapkan anak sebelum menjalani berbagai aktivitas.
“Bagi anak, sarapan merupakan salah satu kesempatan untuk mendapatkan asupan energi sebelum memulai berbagai aktivitas. Kebiasaan sarapan yang baik dapat membantu anak lebih siap belajar, aktif bergerak, serta mendukung tumbuh kembangnya secara optimal,” ujar dr. Ahmad Hafidz, Sp.A.
Anak-anak memiliki aktivitas yang membutuhkan energi sepanjang hari. Mulai dari mengikuti kegiatan belajar, bermain bersama teman, berolahraga, hingga melakukan berbagai aktivitas lain yang menjadi bagian dari proses tumbuh kembang.
Karena itu, melewatkan sarapan atau mengonsumsi makanan dengan kualitas gizi yang kurang memadai dapat menjadi perhatian bagi orang tua. Pemilihan menu sarapan perlu disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi anak agar mereka lebih siap menjalani aktivitas.
"Membangun kebiasaan sarapan juga membutuhkan konsistensi dari keluarga. Orang tua memiliki peran penting dalam mengenalkan pola makan pagi yang baik sekaligus menciptakan pengalaman sarapan yang menyenangkan bagi anak," katanya.
Selain memperhatikan kandungan nutrisi, sarapan dapat menjadi kesempatan bagi keluarga untuk membangun kebiasaan makan yang lebih teratur. Kebiasaan yang diperkenalkan sejak dini berpotensi terus terbawa hingga anak tumbuh dewasa.
Setiap anak juga memiliki karakter, aktivitas, dan potensi yang berbeda. Ada anak yang aktif bergerak, memiliki rasa ingin tahu tinggi, kreatif, maupun senang mencoba berbagai pengalaman baru.
Felicia Stefanie, Senior General Manager Marketing Health & Wellness Combiphar, mengatakan bahwa setiap anak memiliki keunikan yang perlu mendapatkan dukungan sejak dini, termasuk melalui kebiasaan yang dimulai pada pagi hari.
“Setiap anak memiliki versi ‘Super’-nya masing-masing. Ada anak yang memiliki rasa ingin tahu tinggi, aktif bergerak, kreatif, berani mencoba hal baru, atau memiliki keunikan lainnya. Melalui kampanye ini, kami ingin mengajak para ibu Indonesia untuk memberikan dukungan terbaik sejak pagi hari, salah satunya melalui pilihan sarapan yang lezat, bernutrisi, dan dapat membantu anak menjalani aktivitasnya dengan lebih optimal,” ujar Felicia Stefanie.
Upaya meningkatkan pemahaman keluarga mengenai pentingnya sarapan turut dilakukan melalui kegiatan edukasi nutrisi dalam kampanye Sereal Super untuk Anak Super yang digelar Simba Sereal pada 11 hingga 12 Juli 2026 di Summarecon Mall Bandung.
Kegiatan tersebut menghadirkan sesi edukasi bersama dr. Ahmad Hafidz, Sp.A, untuk memberikan pemahaman mengenai peran sarapan dalam mendukung kesiapan anak menjalani aktivitas dan proses tumbuh kembang.
Edukasi mengenai sarapan menjadi penting karena masih terdapat anggapan bahwa makanan pada pagi hari hanya berfungsi untuk menghilangkan rasa lapar. Padahal, orang tua juga perlu memperhatikan kualitas dan kecukupan asupan yang dikonsumsi anak.
Menu sarapan dapat dipilih dengan mempertimbangkan kebutuhan energi dan nutrisi serta kondisi masing-masing anak. Variasi makanan juga dapat membantu membuat kegiatan sarapan menjadi lebih menarik sehingga anak terbiasa makan sebelum memulai aktivitas.
Membangun kebiasaan sarapan tidak harus dilakukan secara instan. Orang tua dapat memulainya dengan membentuk jadwal makan yang konsisten, memberikan pilihan makanan sesuai kebutuhan anak, serta memberikan contoh kebiasaan makan yang baik di lingkungan keluarga.
"Keterlibatan orang tua menjadi bagian penting dalam membentuk pola makan anak. Dukungan yang dilakukan secara konsisten dapat membantu anak memahami bahwa sarapan merupakan salah satu bagian dari kebiasaan hidup sehari-hari," tutupnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)
Sayangnya, kebiasaan sarapan anak di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Tidak semua anak mendapatkan sarapan dalam jumlah yang memadai dan memiliki kualitas gizi sesuai kebutuhan tubuh.
Berdasarkan data SEANUTS II pada 2024, hanya 32 persen anak Indonesia berusia 2 hingga 12 tahun yang mengonsumsi sarapan dalam jumlah memadai. Kondisi tersebut menunjukkan masih banyak anak yang memulai aktivitas tanpa mendapatkan asupan pagi secara optimal.
Sementara itu, data Survei Diet Total Kementerian Kesehatan RI pada 2020 mencatat sebanyak 47,7 persen anak belum memenuhi kebutuhan energi minimal saat sarapan. Selain itu, sebanyak 66,8 persen anak masih mengonsumsi sarapan dengan kualitas gizi yang rendah.
Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya perhatian orang tua terhadap kebiasaan makan anak pada pagi hari. Sarapan yang diberikan tidak hanya perlu mengenyangkan, tetapi juga harus mempertimbangkan kebutuhan energi dan nutrisi untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
Dokter spesialis anak, dr. Ahmad Hafidz, Sp.A, mengatakan kebiasaan sarapan yang baik perlu diperkenalkan kepada anak sejak usia dini. Kebiasaan tersebut dapat membantu mempersiapkan anak sebelum menjalani berbagai aktivitas.
“Bagi anak, sarapan merupakan salah satu kesempatan untuk mendapatkan asupan energi sebelum memulai berbagai aktivitas. Kebiasaan sarapan yang baik dapat membantu anak lebih siap belajar, aktif bergerak, serta mendukung tumbuh kembangnya secara optimal,” ujar dr. Ahmad Hafidz, Sp.A.
Anak-anak memiliki aktivitas yang membutuhkan energi sepanjang hari. Mulai dari mengikuti kegiatan belajar, bermain bersama teman, berolahraga, hingga melakukan berbagai aktivitas lain yang menjadi bagian dari proses tumbuh kembang.
Karena itu, melewatkan sarapan atau mengonsumsi makanan dengan kualitas gizi yang kurang memadai dapat menjadi perhatian bagi orang tua. Pemilihan menu sarapan perlu disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi anak agar mereka lebih siap menjalani aktivitas.
"Membangun kebiasaan sarapan juga membutuhkan konsistensi dari keluarga. Orang tua memiliki peran penting dalam mengenalkan pola makan pagi yang baik sekaligus menciptakan pengalaman sarapan yang menyenangkan bagi anak," katanya.
Selain memperhatikan kandungan nutrisi, sarapan dapat menjadi kesempatan bagi keluarga untuk membangun kebiasaan makan yang lebih teratur. Kebiasaan yang diperkenalkan sejak dini berpotensi terus terbawa hingga anak tumbuh dewasa.
Setiap anak juga memiliki karakter, aktivitas, dan potensi yang berbeda. Ada anak yang aktif bergerak, memiliki rasa ingin tahu tinggi, kreatif, maupun senang mencoba berbagai pengalaman baru.
Felicia Stefanie, Senior General Manager Marketing Health & Wellness Combiphar, mengatakan bahwa setiap anak memiliki keunikan yang perlu mendapatkan dukungan sejak dini, termasuk melalui kebiasaan yang dimulai pada pagi hari.
“Setiap anak memiliki versi ‘Super’-nya masing-masing. Ada anak yang memiliki rasa ingin tahu tinggi, aktif bergerak, kreatif, berani mencoba hal baru, atau memiliki keunikan lainnya. Melalui kampanye ini, kami ingin mengajak para ibu Indonesia untuk memberikan dukungan terbaik sejak pagi hari, salah satunya melalui pilihan sarapan yang lezat, bernutrisi, dan dapat membantu anak menjalani aktivitasnya dengan lebih optimal,” ujar Felicia Stefanie.
Upaya meningkatkan pemahaman keluarga mengenai pentingnya sarapan turut dilakukan melalui kegiatan edukasi nutrisi dalam kampanye Sereal Super untuk Anak Super yang digelar Simba Sereal pada 11 hingga 12 Juli 2026 di Summarecon Mall Bandung.
Kegiatan tersebut menghadirkan sesi edukasi bersama dr. Ahmad Hafidz, Sp.A, untuk memberikan pemahaman mengenai peran sarapan dalam mendukung kesiapan anak menjalani aktivitas dan proses tumbuh kembang.
Edukasi mengenai sarapan menjadi penting karena masih terdapat anggapan bahwa makanan pada pagi hari hanya berfungsi untuk menghilangkan rasa lapar. Padahal, orang tua juga perlu memperhatikan kualitas dan kecukupan asupan yang dikonsumsi anak.
Menu sarapan dapat dipilih dengan mempertimbangkan kebutuhan energi dan nutrisi serta kondisi masing-masing anak. Variasi makanan juga dapat membantu membuat kegiatan sarapan menjadi lebih menarik sehingga anak terbiasa makan sebelum memulai aktivitas.
Membangun kebiasaan sarapan tidak harus dilakukan secara instan. Orang tua dapat memulainya dengan membentuk jadwal makan yang konsisten, memberikan pilihan makanan sesuai kebutuhan anak, serta memberikan contoh kebiasaan makan yang baik di lingkungan keluarga.
"Keterlibatan orang tua menjadi bagian penting dalam membentuk pola makan anak. Dukungan yang dilakukan secara konsisten dapat membantu anak memahami bahwa sarapan merupakan salah satu bagian dari kebiasaan hidup sehari-hari," tutupnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)