FAMILY
Hari Anak Nasional, Psikolog Beberkan Cara Sederhana agar si Kecil Berani Lapor saat Alami Kekerasan
A. Firdaus
Kamis 23 Juli 2026 / 10:18
- Kedekatan emosional membuat anak lebih berani menyampaikan jika mengalami hal yang tidak menyenangkan.
- Perubahan perilaku sering kali menjadi sinyal awal bahwa anak sedang menghadapi masalah.
- Sepanjang 2025 tercatat 35.131 kasus kekerasan, dengan 23.043 kasus atau sekitar 65,59 persen di antaranya dialami oleh anak.
Jakarta: Membangun komunikasi yang hangat dengan anak bukan hanya mempererat hubungan keluarga, tetapi juga dapat menjadi langkah penting untuk melindungi mereka dari berbagai bentuk kekerasan. Psikolog klinis Meiri Dias Tuti, M.Psi., Psikolog, mengingatkan bahwa kedekatan emosional membuat anak lebih berani menyampaikan jika mengalami hal yang tidak menyenangkan.
Menurut Meiri, orang tua sebaiknya meluangkan waktu setiap hari untuk mengobrol dengan anak. Percakapan sederhana tentang aktivitas sehari-hari dapat menjadi kesempatan untuk mengetahui kondisi emosional anak sekaligus mengamati perubahan perilaku yang mungkin muncul.
"Apakah ada hal yang mencurigakan, itu pasti kelihatan kalau orang tuanya setiap hari mengobservasi, setiap hari ngobrol apa yang terjadi," kata Meiri melansir Antara.
Psikolog yang tergabung dalam Asosiasi Psikolog Sekolah Indonesia di bawah Himpunan Psikologi Indonesia itu menjelaskan, perubahan perilaku sering kali menjadi sinyal awal bahwa anak sedang menghadapi masalah. Karena itu, orang tua perlu peka dan segera mencari tahu penyebabnya apabila melihat perubahan yang tidak biasa.
Selain membangun komunikasi, orang tua juga dianjurkan memberikan edukasi mengenai kesehatan reproduksi sesuai usia anak. Anak perlu mengetahui bagian tubuh mana yang bersifat pribadi dan tidak boleh disentuh orang lain tanpa persetujuan.
Meiri juga menekankan pentingnya mengenalkan kepada anak bentuk-bentuk perilaku yang termasuk pelecehan maupun kekerasan. Dengan begitu, anak dapat memahami bahwa tindakan tersebut tidak boleh terjadi dan harus segera dilaporkan kepada orang dewasa yang dipercaya.
"Sehingga jadi tahu dan melapor bahwa 'oh ada perilaku seperti ini' yang menimpa mereka," ujarnya.
Pemahaman sejak dini juga diharapkan membuat anak lebih waspada, mampu menghindari situasi berisiko, serta memiliki keberanian untuk mencari pertolongan apabila mengalami atau menyaksikan tindak kekerasan.
Urgensi perlindungan anak terlihat dari data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA). Sepanjang 2025 tercatat 35.131 kasus kekerasan, dengan 23.043 kasus atau sekitar 65,59 persen di antaranya dialami oleh anak.
Data tersebut menunjukkan bahwa peran keluarga, terutama komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak, menjadi salah satu langkah penting dalam menciptakan lingkungan yang aman sekaligus mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Menurut Meiri, orang tua sebaiknya meluangkan waktu setiap hari untuk mengobrol dengan anak. Percakapan sederhana tentang aktivitas sehari-hari dapat menjadi kesempatan untuk mengetahui kondisi emosional anak sekaligus mengamati perubahan perilaku yang mungkin muncul.
"Apakah ada hal yang mencurigakan, itu pasti kelihatan kalau orang tuanya setiap hari mengobservasi, setiap hari ngobrol apa yang terjadi," kata Meiri melansir Antara.
Psikolog yang tergabung dalam Asosiasi Psikolog Sekolah Indonesia di bawah Himpunan Psikologi Indonesia itu menjelaskan, perubahan perilaku sering kali menjadi sinyal awal bahwa anak sedang menghadapi masalah. Karena itu, orang tua perlu peka dan segera mencari tahu penyebabnya apabila melihat perubahan yang tidak biasa.
Selain membangun komunikasi, orang tua juga dianjurkan memberikan edukasi mengenai kesehatan reproduksi sesuai usia anak. Anak perlu mengetahui bagian tubuh mana yang bersifat pribadi dan tidak boleh disentuh orang lain tanpa persetujuan.
Meiri juga menekankan pentingnya mengenalkan kepada anak bentuk-bentuk perilaku yang termasuk pelecehan maupun kekerasan. Dengan begitu, anak dapat memahami bahwa tindakan tersebut tidak boleh terjadi dan harus segera dilaporkan kepada orang dewasa yang dipercaya.
"Sehingga jadi tahu dan melapor bahwa 'oh ada perilaku seperti ini' yang menimpa mereka," ujarnya.
Pemahaman sejak dini juga diharapkan membuat anak lebih waspada, mampu menghindari situasi berisiko, serta memiliki keberanian untuk mencari pertolongan apabila mengalami atau menyaksikan tindak kekerasan.
Urgensi perlindungan anak terlihat dari data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA). Sepanjang 2025 tercatat 35.131 kasus kekerasan, dengan 23.043 kasus atau sekitar 65,59 persen di antaranya dialami oleh anak.
Data tersebut menunjukkan bahwa peran keluarga, terutama komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak, menjadi salah satu langkah penting dalam menciptakan lingkungan yang aman sekaligus mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)