FAMILY

Si Kecil Sering Diam Bukan Berarti Baik-Baik Saja, Ini Warning dari Dokter Anak

A. Firdaus
Jumat 22 Mei 2026 / 15:14
Ringkasnya gini..
  • Berbagai tantangan perkembangan mental dan emosional, yang kini banyak dialami anak-anak.
  • Kesehatan mental bukan hanya dibahas saat anak sedang mengalami masalah atau krisis.
  • Dukungan emosional dan mental justru perlu dibangun sejak masa bayi hingga remaja, agar anak bisa tumbuh dengan lebih sehat secara menyeluruh.
Jakarta: Bulan Mei yang dikenal sebagai Bulan Kesadaran Kesehatan Mental, menjadi momen penting untuk kembali membahas kondisi mental anak dan remaja, yang semakin jadi perhatian.

Dilansir dari Parents, dalam laporan klinis terbaru, American Academy of Pediatrics (AAP), menyoroti berbagai tantangan perkembangan mental dan emosional, yang kini banyak dialami anak-anak. Lewat laporan tersebut, AAP juga memberikan sejumlah rekomendasi khusus bagi dokter anak, agar lebih fokus mendukung kesehatan mental pasien sejak usia dini.

Menurut laporan itu, kesehatan mental bukan hanya dibahas saat anak sedang mengalami masalah atau krisis. Dukungan emosional dan mental justru perlu dibangun sejak masa bayi hingga remaja, agar anak bisa tumbuh dengan lebih sehat secara menyeluruh.
“Perkembangan mental dan emosional bukanlah sesuatu yang hanya perlu ditangani ketika muncul kekhawatiran atau ketika terjadi krisis. Ini adalah bagian inti dari perawatan anak-anak sejak masa bayi hingga remaja,” kata Evelyn Berger-Jenkins, MD, MPH, FAAP, lead author dalam laporan ini di dalam pernyataannya. 

Laporan ini juga mengajak para orang tua, untuk lebih memahami pentingnya kesehatan emosional anak, sekaligus bekerja sama dengan dokter atau tenaga profesional, agar kebutuhan mental anak tetap terjaga di tengah tekanan kehidupan modern, yang semakin kompleks.
 

Fokus baru AAP soal kesehatan mental anak


Dalam laporan terbarunya, AAP menekankan pentingnya mengintegrasikan perkembangan mental, dan emosional sehat atau healthy mental and emotional development (HMED), ke dalam layanan kesehatan anak sehari-hari. 

Artinya, dokter anak tidak hanya memantau kondisi fisik, tetapi juga memperhatikan kondisi emosional, hubungan sosial, hingga kesehatan psikologis anak secara keseluruhan.

Laporan tersebut juga membahas berbagai hambatan yang masih sering terjadi, mulai dari akses layanan kesehatan mental yang terbatas, stigma sosial, hingga kurangnya dukungan menyeluruh bagi keluarga dan anak.

AAP menilai kesehatan mental dan emosional memiliki peran, yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Oleh karena itu, pendekatan pencegahan dinilai jauh lebih efektif, dibanding hanya bertindak saat masalah sudah muncul.

“Apa yang diusulkan dalam laporan ini adalah model perawatan biopsikososial dengan mengintegrasikan komponen fisik, emosional, dan sosial dari fungsi seorang anak,” kata Marie E. Briody, Manajer Bidang Kesehatan Perilaku di Rumah Sakit Universitas Staten Island, Northwell.

“Model ini, sebagaimana akan diterapkan di ruang praktik dokter anak, juga dapat mengatasi beberapa masalah akses, serta hambatan sosial, budaya, dan stigma yang telah dicatat,” tambahnya.
 

Kondisi mental anak makin jadi perhatian


Belakangan ini, isu kesehatan mental anak memang semakin sering dibahas, karena tekanan sosial dan emosional yang terus meningkat. 

Anak-anak dan remaja kini menghadapi banyak tantangan, mulai dari tekanan sekolah, penggunaan media sosial, perubahan lingkungan sosial, hingga stres dalam kehidupan sehari-hari.

Secillia Nur Hafifah

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH