FAMILY
Faktor Penyebab Nokturnal Enuresis atau Kebiasaan Mengompol pada Anak
Raka Lestari
Senin 28 Desember 2020 / 12:00
Jakarta: Kebiasaan mengompol pada malam hari sering terjadi pada anak-anak. Perasaan takut jika harus pergi ke kamar kecil sendirian juga terkadang menjadi penyebab anak mengompol dibandingkan harus ke toilet.
Lalu, apa yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mengatasi anak yang mengompol?
Dr. dr. Irfan Wahyudi, SpU (K), Kepala Departemen Urologi FKUI-RSCM mengatakan, ”Nokturnal enuresis adalah ketidakmampuan mengontrol pengeluarin urine selama tidur yang terjadi pada anak-anak dengan usia lebih dari lima tahun atau perkembangan yang setara, setidaknya tiga bulan atau dalam bahasa awam dikenal dengan mengompol pada malam hari," ujarnya.
"Jika tidak diikuti dengan gejala berkemih lain, maka disebut sebagai monosimtomatik enuresis (MNE), sedangkan jika terdapat gejala lainnya, seperti buang air kecil terputus-putus atau nyeri saat berkemih dan gejala lainnya, maka disebut sebagai non MNE. Adapun istilah MNE primer jika anak mengompol sejak lahir tanpa adanya periode kering atau bebas dari mengompol," jelas dr. Irfan.
Ia juga menambahkan, "Jika seorang anak kembali mengompol setelah periode kering sekurang-kurangnya enam bulan maka disebut sebagai MNE sekunder. Angka kejadian dari masalah mengompol ini bervariasi, yakni 4-19 persen pada populasi anak diseluruh dunia."

(Faktor anak mengompol bersifat multifaktorial. Konsultasikan pada dokter anak jika terdapat gejala lainnya, seperti buang air kecil terputus-putus atau nyeri saat berkemih. Foto: Ilustrasi/Unsplash.com)
"Kejadian ini akan menurun sesuai dengan bertambahnya usia anak," kata dr. Irfan. “Faktor penyebab nokturnal enuresis bersifat multifaktorial yakni kondisi genetik, konstipasi, infeksi saluran kemih, kapasitas kandung kemih yang kecil, ansietas, gangguan tidur, dan diabetes."
"Terapi yang dilakukan perlu disesuaikan dengan penyebab yang mendasari pasien seperti pemantauan perawatan memainkan peran yang penting untuk keberhasilan terapi," kata dr. Irfan.
Menurutnya, adapun perbaikan gaya hidup yang dapat dilakukan yakni menghindari konsumsi cairan berlebih pada malam hari, menghindari minuman/makanan mengandung kafein, memastikan konsumsi cairan yang cukup sepanjang hari.
Selain itu menghindari diet tinggi protein/ garam pada malam hari (menginduksi diuresis), mengingatkan untuk berkemih sebelum tidur serta memberi penghargaan jika anak tidak mengompol.
Selain itu terapi yang dianjurkan adalah terapi menggunakan obat yakni desmopresin serta terapi alarm.
“Terapi alarm memiliki tingkat keberhasilan yang hampir sama dengan pemberian obat, dimana saat celana anak basah akibat mengompol, maka alarm akan berbunyi yang menyebabkan anak akan terbagun dan harus pergi ke kamar mandi. Tentunya peran orang tua sangat penting pada terapi ini," kata dr. Irfan.
"Terapi dianggap berhasil jika anak tidak mengompol selama satu bulan tanpa pemakaian alarm, dan kebanyakan akan membuahkan hasil yang baik setelah tiga sampai empat bulan terapi,” tutup dr. Irfan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Lalu, apa yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mengatasi anak yang mengompol?
Dr. dr. Irfan Wahyudi, SpU (K), Kepala Departemen Urologi FKUI-RSCM mengatakan, ”Nokturnal enuresis adalah ketidakmampuan mengontrol pengeluarin urine selama tidur yang terjadi pada anak-anak dengan usia lebih dari lima tahun atau perkembangan yang setara, setidaknya tiga bulan atau dalam bahasa awam dikenal dengan mengompol pada malam hari," ujarnya.
"Jika tidak diikuti dengan gejala berkemih lain, maka disebut sebagai monosimtomatik enuresis (MNE), sedangkan jika terdapat gejala lainnya, seperti buang air kecil terputus-putus atau nyeri saat berkemih dan gejala lainnya, maka disebut sebagai non MNE. Adapun istilah MNE primer jika anak mengompol sejak lahir tanpa adanya periode kering atau bebas dari mengompol," jelas dr. Irfan.
Ia juga menambahkan, "Jika seorang anak kembali mengompol setelah periode kering sekurang-kurangnya enam bulan maka disebut sebagai MNE sekunder. Angka kejadian dari masalah mengompol ini bervariasi, yakni 4-19 persen pada populasi anak diseluruh dunia."

(Faktor anak mengompol bersifat multifaktorial. Konsultasikan pada dokter anak jika terdapat gejala lainnya, seperti buang air kecil terputus-putus atau nyeri saat berkemih. Foto: Ilustrasi/Unsplash.com)
"Kejadian ini akan menurun sesuai dengan bertambahnya usia anak," kata dr. Irfan. “Faktor penyebab nokturnal enuresis bersifat multifaktorial yakni kondisi genetik, konstipasi, infeksi saluran kemih, kapasitas kandung kemih yang kecil, ansietas, gangguan tidur, dan diabetes."
"Terapi yang dilakukan perlu disesuaikan dengan penyebab yang mendasari pasien seperti pemantauan perawatan memainkan peran yang penting untuk keberhasilan terapi," kata dr. Irfan.
Menurutnya, adapun perbaikan gaya hidup yang dapat dilakukan yakni menghindari konsumsi cairan berlebih pada malam hari, menghindari minuman/makanan mengandung kafein, memastikan konsumsi cairan yang cukup sepanjang hari.
Selain itu menghindari diet tinggi protein/ garam pada malam hari (menginduksi diuresis), mengingatkan untuk berkemih sebelum tidur serta memberi penghargaan jika anak tidak mengompol.
Selain itu terapi yang dianjurkan adalah terapi menggunakan obat yakni desmopresin serta terapi alarm.
“Terapi alarm memiliki tingkat keberhasilan yang hampir sama dengan pemberian obat, dimana saat celana anak basah akibat mengompol, maka alarm akan berbunyi yang menyebabkan anak akan terbagun dan harus pergi ke kamar mandi. Tentunya peran orang tua sangat penting pada terapi ini," kata dr. Irfan.
"Terapi dianggap berhasil jika anak tidak mengompol selama satu bulan tanpa pemakaian alarm, dan kebanyakan akan membuahkan hasil yang baik setelah tiga sampai empat bulan terapi,” tutup dr. Irfan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)