FAMILY
Tantrum Bukan Salah Asuh, Ini Sains di Balik Otak Anak
A. Firdaus
Rabu 11 Februari 2026 / 18:11
- Otak anak bukan versi mini dari otak orang dewasa.
- Ada bagian-bagian otak yang sedang bekerja keras, tumbuh, dan saling berkoordinasi.
- Alasan mengapa anak terkadang sulit fokus,
Jakarta: Setiap tawa, tangisan, gerakan canggung, hingga ledakan emosi pada anak bukanlah hal yang terjadi begitu saja. Di balik semua itu, ada bagian-bagian otak yang sedang bekerja keras, tumbuh, dan saling berkoordinasi.
Otak anak bukan versi mini dari otak orang dewasa, melainkan sistem yang masih dalam tahap “pembangunan besar-besaran”. Beberapa bagian sudah aktif sejak lahir karena mengatur fungsi vital, sementara bagian lain baru berkembang penuh bertahun-tahun kemudian.
Proses ini menjelaskan mengapa anak terkadang sulit fokus, mudah tantrum, atau tampak belum mampu mengendalikan emosi. Semua itu berkaitan erat dengan bagian otak mana yang sudah matang dan mana yang masih berkembang.
Dilansir dari BabyCenter, berikut adalah penjelasan mengenai struktur otak seperti cerebrum, sistem limbik, cerebellum, dan batang otak yang membantu melihat perilaku anak dari sudut pandang biologis, bukan sekadar soal kebiasaan atau pola asuh.
Cerebrum merupakan bagian otak yang bertanggung jawab atas fungsi tingkat tinggi seperti memori dan pembelajaran. Permukaannya yang berkerut, yaitu korteks serebral, menjadi pusat aktivitas kompleks seperti perencanaan dan pengambilan keputusan.
Cerebrum terbagi menjadi dua hemisfer, kiri dan kanan, yang memiliki fungsi berbeda namun saling berkomunikasi. Masing-masing hemisfer terdiri dari empat lobus:
Terletak di belakang dahi, lobus frontal mengendalikan pikiran, perilaku sukarela, pemecahan masalah, serta aspek emosi. Pada anak kecil, bagian ini masih sangat belum matang, sehingga perilaku impulsif dan kesulitan mengontrol emosi sering terjadi.
Lobus ini berfungsi mengatur pendengaran, memori, dan pemahaman bahasa. Pendengaran telah berkembang sejak lahir, sehingga bayi dapat mengenali suara orang tua dalam waktu singkat setelah dilahirkan.
Lobus parietal mengatur sentuhan, rasa, koordinasi tangan-mata, serta kemampuan mengenali objek dan ruang. Stimulasi lingkungan sangat membantu perkembangan bagian ini.
Lobus oksipital berperan dalam penglihatan dan pengenalan visual. Penglihatan merupakan indra yang paling belum matang saat lahir dan berkembang secara bertahap hingga usia sekitar tiga tahun.
Sistem limbik merupakan pusat pengaturan emosi dan mencakup struktur seperti amigdala. Perkembangannya berlangsung secara perlahan, sehingga kemampuan mengelola emosi pada bayi dan balita masih terbatas.
Dukungan emosional yang konsisten sangat berperan dalam membentuk kemampuan regulasi emosi di masa depan.
Cerebellum terletak di bagian belakang kepala dan berfungsi mengatur keseimbangan, koordinasi otot, serta gerakan motorik halus. Bagian ini sangat berperan dalam kemampuan menggenggam, berguling, merangkak, hingga berjalan.
Batang otak menghubungkan otak dengan sumsum tulang belakang dan mengendalikan fungsi vital seperti pernapasan, detak jantung, tekanan darah, kesadaran, serta pola tidur.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Otak anak bukan versi mini dari otak orang dewasa, melainkan sistem yang masih dalam tahap “pembangunan besar-besaran”. Beberapa bagian sudah aktif sejak lahir karena mengatur fungsi vital, sementara bagian lain baru berkembang penuh bertahun-tahun kemudian.
Proses ini menjelaskan mengapa anak terkadang sulit fokus, mudah tantrum, atau tampak belum mampu mengendalikan emosi. Semua itu berkaitan erat dengan bagian otak mana yang sudah matang dan mana yang masih berkembang.
Dilansir dari BabyCenter, berikut adalah penjelasan mengenai struktur otak seperti cerebrum, sistem limbik, cerebellum, dan batang otak yang membantu melihat perilaku anak dari sudut pandang biologis, bukan sekadar soal kebiasaan atau pola asuh.
1. Cerebrum
Cerebrum merupakan bagian otak yang bertanggung jawab atas fungsi tingkat tinggi seperti memori dan pembelajaran. Permukaannya yang berkerut, yaitu korteks serebral, menjadi pusat aktivitas kompleks seperti perencanaan dan pengambilan keputusan.
Cerebrum terbagi menjadi dua hemisfer, kiri dan kanan, yang memiliki fungsi berbeda namun saling berkomunikasi. Masing-masing hemisfer terdiri dari empat lobus:
· Lobus frontal
Terletak di belakang dahi, lobus frontal mengendalikan pikiran, perilaku sukarela, pemecahan masalah, serta aspek emosi. Pada anak kecil, bagian ini masih sangat belum matang, sehingga perilaku impulsif dan kesulitan mengontrol emosi sering terjadi.
· Lobus temporal
Lobus ini berfungsi mengatur pendengaran, memori, dan pemahaman bahasa. Pendengaran telah berkembang sejak lahir, sehingga bayi dapat mengenali suara orang tua dalam waktu singkat setelah dilahirkan.
· Lobus parietal
Lobus parietal mengatur sentuhan, rasa, koordinasi tangan-mata, serta kemampuan mengenali objek dan ruang. Stimulasi lingkungan sangat membantu perkembangan bagian ini.
· Lobus oksipital
Lobus oksipital berperan dalam penglihatan dan pengenalan visual. Penglihatan merupakan indra yang paling belum matang saat lahir dan berkembang secara bertahap hingga usia sekitar tiga tahun.
2. Sistem limbik
Sistem limbik merupakan pusat pengaturan emosi dan mencakup struktur seperti amigdala. Perkembangannya berlangsung secara perlahan, sehingga kemampuan mengelola emosi pada bayi dan balita masih terbatas.
Dukungan emosional yang konsisten sangat berperan dalam membentuk kemampuan regulasi emosi di masa depan.
3. Cerebellum
Cerebellum terletak di bagian belakang kepala dan berfungsi mengatur keseimbangan, koordinasi otot, serta gerakan motorik halus. Bagian ini sangat berperan dalam kemampuan menggenggam, berguling, merangkak, hingga berjalan.
4. Batang otak
Batang otak menghubungkan otak dengan sumsum tulang belakang dan mengendalikan fungsi vital seperti pernapasan, detak jantung, tekanan darah, kesadaran, serta pola tidur.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)