FAMILY

Anak Agresif di Usia Dini? Simak Cara Tepat Mengatasinya Tanpa Marah

A. Firdaus
Jumat 10 April 2026 / 11:05
Ringkasnya gini..
  • Perilaku agresif memang sering muncul di usia dini.
  • Perilaku ini sebenarnya cukup umum pada usia balita dan prasekolah.
  • Kunci utamanya adalah membantu anak mengenali emosi.
Jakarta: Menghadapi anak yang suka memukul atau menggigit memang bisa membuat kewalahan. Apalagi jika terjadi di depan orang lain. 

Namun, perilaku ini sebenarnya cukup umum pada usia balita dan prasekolah. Sebab si kecil masih belajar mengelola emosi dan berkomunikasi dengan baik. 

Di fase ini, anak belum sepenuhnya mampu mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, sehingga terkadang memilih cara fisik. Perilaku agresif memang sering muncul di usia dini, tetapi tetap bisa diarahkan dengan cara yang tepat. 
 
Kunci utamanya adalah membantu anak mengenali emosi, dan memberikan cara yang lebih baik untuk mengekspresikannya. Dilansir dari Parents, berikut adalah tujuh cara mengatasinya.
 

1. Tunjukkan ketidaksetujuan dengan jelas


Saat anak mulai memukul atau menunjukkan tanda agresif, berikan respons dengan suara tenang namun tegas, seperti “Tidak! Kita tidak boleh memukul.” Anak usia ini masih belajar mengendalikan diri, sehingga perlu diingatkan berulang kali.

Penting untuk tetap tenang dan tidak bereaksi berlebihan, agar pesan yang disampaikan tetap jelas tanpa memberikan perhatian berlebih pada perilaku tersebut.
 

2. Pisahkan anak dari situasi


Segera bawa anak menjauh dari situasi yang memicu perilaku agresif. Ajak ke tempat yang lebih tenang dan jelaskan bahwa memukul atau menggigit tidak diperbolehkan. Cara ini memberi kesempatan bagi anak untuk menenangkan diri, sekaligus memahami bahwa tindakan tersebut memiliki konsekuensi, seperti harus berhenti bermain sementara.
 

3. Lakukan intervensi sejak awal


Jika terlihat tanda-tanda anak akan memukul atau menggigit, segera hentikan sebelum terjadi. Pegang tangan anak atau cegah gerakannya dengan lembut namun tegas. Cara ini membantu anak memahami bahwa perilaku tersebut tidak akan dibiarkan terjadi.
 

4. Fokus pada pencegahan


Mencegah selalu lebih baik daripada mengatasi. Saat melihat potensi konflik, bantu alihkan perhatian anak atau arahkan ke aktivitas lain. Ketika anak tahu bahwa upaya agresifnya akan selalu dihentikan, biasanya keinginan untuk melakukannya akan berkurang.
 

5. Tunjukkan empati dengan meminta maaf


Jika anak sudah terlanjur memukul atau menggigit, arahkan perhatian pada anak yang menjadi korban. Pastikan kondisi korban baik-baik saja, lalu ucapkan permintaan maaf di depan anak. Hal ini membantu anak belajar tentang empati dan memahami bahwa tindakannya tidak benar. Penting juga untuk menghargai perasaan pihak lain tanpa mengabaikannya.
 

6. Hindari membalas perilaku agresif


Membalas dengan memukul atau menggigit justru memberi contoh yang salah. Cara ini, bisa membuat anak berpikir bahwa kekerasan diperbolehkan dalam situasi tertentu. Padahal yang dibutuhkan adalah contoh perilaku yang lebih baik.
 

7. Batasi permainan kasar


Permainan yang melibatkan pukulan atau gigitan sebaiknya dihindari, terutama jika anak sudah menunjukkan kecenderungan agresif. Jika anak memukul saat bermain, tunjukkan ekspresi sedih dan katakan, “Itu menyakitiku.” Cara ini membantu anak memahami dampak dari tindakannya tanpa harus dimarahi berlebihan.
 

8. Dorong anak menggunakan kata-kata


Bantu anak belajar mengungkapkan keinginan dan perasaan, dengan kata-kata sederhana atau isyarat. Misalnya, menunjuk saat ingin sesuatu atau mengatakan “marah” ketika kesal. Dengan membiasakan komunikasi seperti ini, anak akan memahami bahwa berbicara jauh lebih efektif dibandingkan tindakan fisik.

Secillia Nur Hafifah

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH