FAMILY

Ternyata Anak Sudah Mulai Memahami 'Kebohongan' Sejak Dini, Ini Penjelasannya

A. Firdaus
Jumat 10 April 2026 / 09:08
Ringkasnya gini..
  • Sebuah penelitian terbaru menunjukkan hal yang cukup mengejutkan
  • Perilaku berbohong biasanya identik dengan anak yang lebih besar.
  • Perilaku ini lebih berkaitan dengan proses belajar anak.
Jakarta: Perilaku berbohong biasanya identik dengan anak yang lebih besar atau bahkan orang dewasa. Namun, sebuah penelitian terbaru menunjukkan hal yang cukup mengejutkan, kemampuan memahami dan melakukan 'penipuan' ternyata sudah mulai muncul sejak usia sangat dini, bahkan pada bayi.

Temuan ini membuka perspektif baru, tentang bagaimana perkembangan kognitif anak berlangsung, sejak tahun-tahun awal kehidupan.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Cognitive Development, menemukan bahwa bayi dan balita sudah mulai memahami konsep kebohongan dan penipuan jauh lebih awal dari yang selama ini diperkirakan, bahkan sejak usia sekitar 8 bulan. 
 
Meski terdengar mengejutkan, hal ini tidak berarti bayi memiliki niat buruk atau sifat tidak jujur, seperti yang sering diasosiasikan pada orang dewasa.

Sebaliknya, perilaku ini lebih berkaitan dengan proses belajar anak. Pada fase ini, anak mulai mengenali bagaimana reaksi orang di sekitarnya, dan mencoba berbagai cara untuk mendapatkan respons tertentu. Ini menjadi bagian penting dari perkembangan kognitif dan sosial mereka.
 

Apa artinya bayi “berbohong”?


Dalam konteks penelitian ini, istilah berbohong memiliki makna, yang berbeda dari kebohongan yang biasa dilakukan anak yang lebih besar.

“Kami tidak membicarakan ‘kebohongan’ yang direncanakan di sini, seperti yang mungkin dilakukan anak-anak atau remaja kita,” kata Sanam Hafeez, PsyD, seorang neuropsikolog dan direktur Comprehend the Mind dalam Parents.

Menurut Emma Murray, PhD, seorang psikolog klinis berlisensi di Phoenix Children’s, penipuan pada usia dini didefinisikan sebagai “melakukan hal yang salah secara sengaja, untuk menghindari konsekuensi atau memperoleh manfaat material.”

Dr. Murray juga menambahkan bahwa “meskipun definisi tersebut mungkin berlaku untuk beberapa balita, yang lebih tua dan anak prasekolah yang termasuk dalam studi ini, perilaku yang dilaporkan pada bayi lebih mungkin mencerminkan persepsi orang tua daripada perilaku penipuan atau berbohong yang ‘sebenarnya’.”
 

Bentuk “kebohongan” pada bayi dan balita


Perilaku yang dianggap sebagai “kebohongan” pada usia ini, sebenarnya sangat sederhana dan sering kali terlihat lucu atau menggemaskan. Contohnya, antara lain:
1. Bayi menangis untuk menarik perhatian, lalu langsung berhenti saat digendong.
2. Balita yang cepat-cepat menyembunyikan sesuatu saat merasa akan dimarahi.
3. Anak kecil yang menyangkal perbuatannya meski bukti masih terlihat jelas.

Perilaku ini bukanlah tanda sifat manipulatif dalam arti negatif, melainkan bagian dari proses belajar. Anak mulai memahami apa yang diketahui atau tidak diketahui oleh orang lain, lalu menyesuaikan tindakannya berdasarkan hal tersebut. Fenomena ini juga sering ditemui dalam praktik sehari-hari oleh para ahli. 

“Orang tua sering terkejut ketika saya meyakinkan mereka bahwa ini normal. Manipulatif? Mungkin. Tapi ini juga merupakan proses anak belajar mempertimbangkan apa yang diketahui atau tidak diketahui orang lain dan menyesuaikan tindakannya berdasarkan pengetahuan tersebut,” kata Dr. Hafeez. 

Secillia Nur Hafifah

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH