Jakarta: Banyak orang yang merasa takut ketika harus berada di ruangan atau tempat-tempat yang gelap. Ruangan atau tempat yang gelap memang identik dengan sesuatu yang menyeramkan sehingga banyak orang yang tidak suka akan kegelapan. Namun ternyata, ada penjelasan psikologis dari hal tersebut.
“Penelitian di bidang transgenerational epigenetic dari beberapa pakar biopsychology di dunia mereka berusaha melakukan penelitian tentang kondisi DNA. Ternyata DNA manusia itu tidak hanya menurunkan warna bola mata, kulit, simbol-simbol biologis yang secara fisik bisa kita lihat,” ujar Efnie Indrianie, M.Psi, Psikolog anak, remaja dan keluarga.
Menurutnya, berdasarkan kajian di bidang transgenerational epigenetic menemukan bahwa memori yang terjadi pada leluhur atau nenek moyang terkunci di DNA. “Jadi ada dua hal memori yang secara universal dan ini tidak dipengaruhi oleh agama, ras, gen apapun, dua memori ini akan tetap ada,” katanya.

(Ruangan atau tempat yang gelap memang identik dengan sesuatu yang menyeramkan sehingga banyak orang yang tidak suka akan kegelapan. Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com)
Pertama adalah, ternyata dari zaman dahulu kala leluhur kita takut akan ular dan binatang buas. Jadi tidak usah aneh untuk sebagian orang, jika melihat hal-hal yg berbentuk ular, ulat, cacing, dan sebagainya itu biasanya geli takut dan itu terjadi secara otomatis,” tutur Efnie.
Kemudian yang kedua, menurut Efnie adalah secara DNA pada dasarnya manusia memang takut akan kegelapan. “Jadi binatang buas dan gelap itu hasil dari memori yang terkunci di DNA pada jaman berburu dan nomaden. Sehingga sampai saat ini sangat wajar pada sebagian orang mereka itu merasa takut dengan gelap atau terhadap hal-hal yang berhubungan dengan binatang buas tadi,” pungkas Efnie.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(yyy)