FAMILY
Pacar Gak Selingkuh tapi Tetap Cemas? Ini Rahasia di Balik “Cemburu Retroaktif”
A. Firdaus
Selasa 09 Juni 2026 / 12:09
- Uniknya, sebutan ini tidak lahir dari ruang diskusi akademik, melainkan populer melalui forum online dan artikel media.
- Kemudahan akses informasi di era modern turut memperparah kondisi ini.
- Kondisi tersebut sering kali memicu respons refleks, yang tumpang tindih dengan gejala Obsessive-Compulsive Disorder (OCD).
Jakarta: Pernahkah merasa tersiksa memikirkan riwayat asmara masa lalu pasangan? Fenomena emosional ini sedang viral di media sosial dengan sebutan “cemburu retroaktif”.
Menurut Brian Thompson Ph.D., Psikolog spesialis kecemasan mengungkapkan dalam Psychology Today, istilah ini menggambarkan rasa tidak nyaman, cemas, marah, hingga malu akibat bayangan visual tentang kemesraan masa lalu pasangan bersama mantannya, meskipun hubungan saat ini sebenarnya sama sekali tidak terancam.
Uniknya, sebutan ini tidak lahir dari ruang diskusi akademik, melainkan populer melalui forum online dan artikel media. Menurut Osorio pada tahun 2025, cemburu retroaktif bahkan sudah telanjur diperlakukan di jagat maya, layaknya sebuah gangguan kesehatan mental yang sah, meskipun dukungan empirisnya masih terbatas.
Kemudahan akses informasi di era modern turut memperparah kondisi ini. Jika dahulu sejarah romantis bisa disimpan rapat-rapat, kini jejak digital justru memberikan akses luas yang menyakitkan. Akibat riset internet yang kompulsif, beberapa orang justru menjadi lebih tahu detail tentang mantan pasangannya, ketimbang pasangannya sendiri.
Kondisi tersebut sering kali memicu respons refleks, yang tumpang tindih dengan gejala Obsessive-Compulsive Disorder (OCD). Demi meredakan kecemasan, penderita biasanya melakukan tindakan kompulsi berupa pencarian kepastian, seperti menanyakan pasangan dengan pertanyaan mendalam dan berulang-ulang tentang masa lalunya. Kedua, melakukan pencarian informasi mantan secara daring atau “cyberstalking”. Ketiga, terus membanding-bandingkan hubungan masa lalu di dalam pikiran.
Sialnya, alih-alih menenangkan, pola pencarian kepastian ini justru menjadi senjata makan tuan, yang memperparah lingkaran setan rasa cemas. Perilaku penghindaran juga kerap muncul, misalnya menolak makan di restoran, yang pernah dikunjungi pasangan bersama sang mantan.
Meskipun gejalanya mirip, para ahli menyatakan bahwa hubungan antara cemburu retroaktif dan OCD, sebenarnya lebih dangkal dari yang terlihat di internet. Berbeda dengan OCD hubungan yang didasari ketakutan, akan konsekuensi buruk di masa depan, cemburu retroaktif tidak mengkhawatirkan risiko perselingkuhan.
Dilansir dari Psychology Today, riset dari Frampton dan Fox pada tahun 2018, menemukan bahwa kecemasan ini justru berakar dari harapan ideal, bahwa sebuah hubungan asmara harus selalu terasa unik dan istimewa. Ketika standar ideal itu terusik oleh masa lalu, seseorang akan langsung merasa terancam, meskipun tidak ada masalah signifikan dalam hubungan mereka saat ini.
Makin kompleks, individu yang mengalaminya sering kali sangat sadar bahwa reaksi mereka merugikan diri sendiri, pasangan, dan hubungan mereka menurut Blayney & Burgess pada tahun 2023. Mereka tahu interogasi berulang dan rasa tidak aman, berpotensi merusak komitmen yang sedang dibangun, namun kesadaran saja tidak cukup kuat untuk menahan diri dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, cemburu retroaktif tidak otomatis menjadi gangguan mental yang terpisah, melainkan refleksi pengalaman manusia yang umum akibat ekspektasi budaya, yang kini diperparah oleh akses informasi modern.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Menurut Brian Thompson Ph.D., Psikolog spesialis kecemasan mengungkapkan dalam Psychology Today, istilah ini menggambarkan rasa tidak nyaman, cemas, marah, hingga malu akibat bayangan visual tentang kemesraan masa lalu pasangan bersama mantannya, meskipun hubungan saat ini sebenarnya sama sekali tidak terancam.
Uniknya, sebutan ini tidak lahir dari ruang diskusi akademik, melainkan populer melalui forum online dan artikel media. Menurut Osorio pada tahun 2025, cemburu retroaktif bahkan sudah telanjur diperlakukan di jagat maya, layaknya sebuah gangguan kesehatan mental yang sah, meskipun dukungan empirisnya masih terbatas.
Kemudahan akses informasi di era modern turut memperparah kondisi ini. Jika dahulu sejarah romantis bisa disimpan rapat-rapat, kini jejak digital justru memberikan akses luas yang menyakitkan. Akibat riset internet yang kompulsif, beberapa orang justru menjadi lebih tahu detail tentang mantan pasangannya, ketimbang pasangannya sendiri.
Kondisi tersebut sering kali memicu respons refleks, yang tumpang tindih dengan gejala Obsessive-Compulsive Disorder (OCD). Demi meredakan kecemasan, penderita biasanya melakukan tindakan kompulsi berupa pencarian kepastian, seperti menanyakan pasangan dengan pertanyaan mendalam dan berulang-ulang tentang masa lalunya. Kedua, melakukan pencarian informasi mantan secara daring atau “cyberstalking”. Ketiga, terus membanding-bandingkan hubungan masa lalu di dalam pikiran.
Sialnya, alih-alih menenangkan, pola pencarian kepastian ini justru menjadi senjata makan tuan, yang memperparah lingkaran setan rasa cemas. Perilaku penghindaran juga kerap muncul, misalnya menolak makan di restoran, yang pernah dikunjungi pasangan bersama sang mantan.
Ekspektasi ideal vs realitas ilmiah
Meskipun gejalanya mirip, para ahli menyatakan bahwa hubungan antara cemburu retroaktif dan OCD, sebenarnya lebih dangkal dari yang terlihat di internet. Berbeda dengan OCD hubungan yang didasari ketakutan, akan konsekuensi buruk di masa depan, cemburu retroaktif tidak mengkhawatirkan risiko perselingkuhan.
Dilansir dari Psychology Today, riset dari Frampton dan Fox pada tahun 2018, menemukan bahwa kecemasan ini justru berakar dari harapan ideal, bahwa sebuah hubungan asmara harus selalu terasa unik dan istimewa. Ketika standar ideal itu terusik oleh masa lalu, seseorang akan langsung merasa terancam, meskipun tidak ada masalah signifikan dalam hubungan mereka saat ini.
Makin kompleks, individu yang mengalaminya sering kali sangat sadar bahwa reaksi mereka merugikan diri sendiri, pasangan, dan hubungan mereka menurut Blayney & Burgess pada tahun 2023. Mereka tahu interogasi berulang dan rasa tidak aman, berpotensi merusak komitmen yang sedang dibangun, namun kesadaran saja tidak cukup kuat untuk menahan diri dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, cemburu retroaktif tidak otomatis menjadi gangguan mental yang terpisah, melainkan refleksi pengalaman manusia yang umum akibat ekspektasi budaya, yang kini diperparah oleh akses informasi modern.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)