FAMILY
Masih Temenan, Tapi Udah Nggak Klik? Bisa Jadi Kalian Lagi Tumbuh ke Arah Berbeda
A. Firdaus
Selasa 23 Juni 2026 / 09:12
- Teman dekat umumnya masih memiliki keinginan untuk bertemu dan berbagi cerita
- Ada juga situasi ketika salah satu pihak masih berusaha mempertahankan hubungan.
- Bukan berarti hubungan harus langsung diakhiri, tetapi bisa menjadi kesempatan untuk mengevaluasi apakah persahabatan tersebut.
Jakarta: Membangun sebuah persahabatan bukanlah proses yang instan. Dibutuhkan waktu, energi, dan berbagai pengalaman bersama untuk menciptakan hubungan yang dekat.
Dilansir dari Psychology Today, penelitian menunjukkan bahwa seseorang perlu menghabiskan puluhan jam bersama untuk membangun pertemanan baru. Sementara persahabatan yang benar-benar erat, biasanya membutuhkan ratusan jam interaksi.
Karena investasi waktu dan emosi yang begitu besar, banyak orang memilih mempertahankan hubungan pertemanan yang sudah lama terjalin. Namun, tidak semua persahabatan akan bertahan selamanya.
Seiring waktu, perubahan prioritas, lingkungan, hingga perkembangan pribadi dapat membuat dua orang yang dulu sangat dekat, menjadi tidak lagi berada di frekuensi yang sama.
Terkadang, berakhirnya sebuah persahabatan tidak ditandai oleh konflik besar atau pertengkaran. Sebaliknya, hubungan tersebut perlahan berubah tanpa disadari. Salah satu tanda yang cukup jelas adalah hilangnya antusiasme, untuk menghabiskan waktu bersama.
Menurut Sarah Epstein, LMFT, seorang terapis pernikahan dan keluarga berlisensi yang melayani klien terapi di Maryland, DC, Texas, dan Pennsylvania, persahabatan yang sehat biasanya dibangun di atas keinginan yang sama untuk tetap terhubung.
Meski kesibukan pekerjaan, keluarga, atau aktivitas lain sering membuat frekuensi pertemuan berkurang, teman dekat umumnya masih memiliki keinginan untuk bertemu dan berbagi cerita, ketika ada kesempatan.
Namun, situasinya berbeda ketika antusiasme tersebut mulai memudar. Setiap ajakan bertemu terasa dingin, respons yang diberikan kurang bersemangat, atau rencana yang dibuat terus tertunda tanpa usaha untuk mencari waktu pengganti. Kondisi seperti ini bisa menjadi sinya, bahwa hubungan tersebut tidak lagi memiliki kedekatan yang sama seperti dulu.
Di sisi lain, ada juga situasi ketika salah satu pihak masih berusaha mempertahankan hubungan, sementara pihak lainnya perlahan menjauh. Meski berbagai isyarat sudah diberikan, komunikasi tetap dipaksakan meskipun ketertarikan untuk melanjutkan hubungan tidak lagi sama.
Ketika seseorang berulang kali menunjukkan, bahwa mereka tidak terlalu bersemangat untuk menghabiskan waktu bersama, sinyal tersebut sering kali layak untuk diperhatikan.
Bukan berarti hubungan harus langsung diakhiri, tetapi bisa menjadi kesempatan untuk mengevaluasi apakah persahabatan tersebut, masih memberikan kebahagiaan dan keterhubungan yang sama bagi kedua belah pihak.
Pada akhirnya, seperti halnya hubungan lainnya, persahabatan juga dapat berubah seiring waktu. Menerima perubahan tersebut terkadang menjadi bagian penting, dari proses bertumbuh dan membuka ruang bagi hubungan-hubungan baru, yang lebih sesuai dengan fase kehidupan saat ini.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Dilansir dari Psychology Today, penelitian menunjukkan bahwa seseorang perlu menghabiskan puluhan jam bersama untuk membangun pertemanan baru. Sementara persahabatan yang benar-benar erat, biasanya membutuhkan ratusan jam interaksi.
Karena investasi waktu dan emosi yang begitu besar, banyak orang memilih mempertahankan hubungan pertemanan yang sudah lama terjalin. Namun, tidak semua persahabatan akan bertahan selamanya.
Seiring waktu, perubahan prioritas, lingkungan, hingga perkembangan pribadi dapat membuat dua orang yang dulu sangat dekat, menjadi tidak lagi berada di frekuensi yang sama.
Terkadang, berakhirnya sebuah persahabatan tidak ditandai oleh konflik besar atau pertengkaran. Sebaliknya, hubungan tersebut perlahan berubah tanpa disadari. Salah satu tanda yang cukup jelas adalah hilangnya antusiasme, untuk menghabiskan waktu bersama.
Antusiasme untuk bertemu mulai menghilang
Menurut Sarah Epstein, LMFT, seorang terapis pernikahan dan keluarga berlisensi yang melayani klien terapi di Maryland, DC, Texas, dan Pennsylvania, persahabatan yang sehat biasanya dibangun di atas keinginan yang sama untuk tetap terhubung.
Meski kesibukan pekerjaan, keluarga, atau aktivitas lain sering membuat frekuensi pertemuan berkurang, teman dekat umumnya masih memiliki keinginan untuk bertemu dan berbagi cerita, ketika ada kesempatan.
Namun, situasinya berbeda ketika antusiasme tersebut mulai memudar. Setiap ajakan bertemu terasa dingin, respons yang diberikan kurang bersemangat, atau rencana yang dibuat terus tertunda tanpa usaha untuk mencari waktu pengganti. Kondisi seperti ini bisa menjadi sinya, bahwa hubungan tersebut tidak lagi memiliki kedekatan yang sama seperti dulu.
Di sisi lain, ada juga situasi ketika salah satu pihak masih berusaha mempertahankan hubungan, sementara pihak lainnya perlahan menjauh. Meski berbagai isyarat sudah diberikan, komunikasi tetap dipaksakan meskipun ketertarikan untuk melanjutkan hubungan tidak lagi sama.
Ketika seseorang berulang kali menunjukkan, bahwa mereka tidak terlalu bersemangat untuk menghabiskan waktu bersama, sinyal tersebut sering kali layak untuk diperhatikan.
Bukan berarti hubungan harus langsung diakhiri, tetapi bisa menjadi kesempatan untuk mengevaluasi apakah persahabatan tersebut, masih memberikan kebahagiaan dan keterhubungan yang sama bagi kedua belah pihak.
Pada akhirnya, seperti halnya hubungan lainnya, persahabatan juga dapat berubah seiring waktu. Menerima perubahan tersebut terkadang menjadi bagian penting, dari proses bertumbuh dan membuka ruang bagi hubungan-hubungan baru, yang lebih sesuai dengan fase kehidupan saat ini.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)