FAMILY
Mertua vs Menantu, Siapa yang Harus Turunkan Ego? Ini Penjelasannya
A. Firdaus
Kamis 22 Oktober 2026 / 10:11
- Konflik mertua dan menantu bisa dipicu perbedaan kebiasaan, komunikasi, hingga batas privasi.
- Mertua mungkin merasa memiliki pengalaman hidup lebih banyak sehingga ingin memberikan arahan.
- Menantu ingin dihargai sebagai orang dewasa yang berhak menentukan pilihan dalam rumah tangganya sendiri.
Jakarta: Hubungan mertua dan menantu tidak selalu berjalan mulus. Perbedaan kebiasaan, cara mengasuh anak, hingga urusan rumah tangga bisa memicu perselisihan. Ketika masing-masing merasa paling benar, pertanyaan yang muncul pun sering kali sama: siapa yang harus menurunkan ego lebih dulu?
Di satu sisi, mertua mungkin merasa memiliki pengalaman hidup lebih banyak sehingga ingin memberikan arahan. Di sisi lain, menantu ingin dihargai sebagai orang dewasa yang berhak menentukan pilihan dalam rumah tangganya sendiri. Jika perbedaan ini tidak dibicarakan dengan baik, perhatian bisa terasa seperti campur tangan, sedangkan keinginan untuk mandiri dianggap sebagai bentuk pembangkangan.
Konflik semacam ini bukan sekadar persoalan siapa yang lebih tua atau siapa yang lebih muda. Penelitian Edward J. Clarke dan rekan-rekannya yang diterbitkan dalam jurnal The Gerontologist pada 1999 mengidentifikasi sejumlah sumber konflik antara orang tua dan anak dewasa, termasuk gaya komunikasi, kebiasaan hidup, pola pengasuhan anak, serta standar rumah tangga.
Temuan tersebut relevan untuk memahami konflik dalam keluarga besar, meskipun penelitian itu tidak secara khusus meneliti hubungan mertua dan menantu. Lantas, siapa yang sebaiknya memulai perdamaian ketika hubungan mulai memanas?
Dalam hubungan keluarga, usia dan posisi tidak otomatis menentukan siapa yang harus mengalah. Mertua memiliki pengalaman hidup yang patut dihargai, tetapi menantu juga berhak memiliki pendapat dan batas pribadi.
Penelitian Gloria Call Horsley berjudul In-Laws: Extended Family Therapy, yang terbit dalam The American Journal of Family Therapy pada 1997, membahas persoalan keluarga besar yang dapat muncul di balik konflik rumah tangga.
Dalam abstrak penelitiannya, Horsley menyebut beberapa persoalan, termasuk “undefined roles” atau peran yang tidak jelas dalam keluarga, serta masalah loyalitas terhadap keluarga asal.
Hal ini membantu menjelaskan mengapa hubungan mertua dan menantu terkadang menjadi rumit. Ketika batas peran tidak jelas, mertua bisa merasa masih berhak menentukan keputusan anaknya, sementara menantu berharap rumah tangganya memiliki ruang untuk mengambil keputusan secara mandiri.
Daripada menetapkan bahwa mertua atau menantu selalu menjadi pihak yang wajib mengalah, langkah yang lebih konstruktif adalah melihat persoalan secara spesifik. Siapa yang memulai konflik, perilaku apa yang menyakiti pihak lain, dan perubahan apa yang diperlukan agar masalah tidak terus berulang?
Pihak yang lebih siap membuka komunikasi dapat memulai percakapan lebih dulu. Namun, memulai perdamaian tidak berarti harus menerima seluruh kesalahan atau membenarkan perilaku yang merugikan.
Panduan Family Communication dari University of Delaware Cooperative Extension menjelaskan bahwa komunikasi bukan hanya tentang kata-kata, tetapi juga cara, alasan, waktu, ekspresi, dan nada ketika menyampaikan pesan.
Panduan tersebut juga menekankan pentingnya mendengarkan secara aktif agar seseorang merasa didengar dan dipahami. Ketika orang merasa didengarkan, mereka cenderung lebih terbuka untuk menyelesaikan masalah.
Prinsip ini dapat diterapkan ketika mertua dan menantu berselisih. Daripada langsung membantah atau menyiapkan jawaban untuk menyerang balik, masing-masing bisa mencoba memahami alasan di balik pendapat pihak lain.
Jika emosi sedang tinggi, percakapan dapat ditunda sampai kedua pihak lebih tenang. Setelah itu, pembicaraan sebaiknya berfokus pada satu masalah yang ingin diselesaikan, bukan mengungkit seluruh konflik masa lalu.
Mertua dan menantu juga perlu menghindari sindiran, penghinaan, atau melibatkan anggota keluarga lain untuk memperkeruh keadaan.
Jika konflik terus berulang dan sulit diselesaikan sendiri, konselor keluarga atau psikolog dapat membantu memfasilitasi komunikasi yang lebih sehat.
Konflik antara mertua dan menantu juga perlu melibatkan pasangan, terutama ketika persoalan menyangkut keputusan rumah tangga.
Suami atau istri tidak seharusnya hanya meminta kedua pihak bersabar tanpa membantu memperjelas persoalan. Pasangan dapat berperan menyampaikan batas yang telah disepakati bersama sekaligus menjaga hubungan dengan keluarga asal.
Misalnya, ketika orang tua terus mencampuri keputusan rumah tangga, anak dapat menjelaskan secara pribadi bahwa keputusan tersebut perlu dibicarakan bersama pasangannya.
Sebaliknya, pasangan juga perlu mengingatkan pihak yang berselisih agar tidak menggunakan kata-kata yang merendahkan atau menyudutkan.
Tujuannya bukan memaksa seseorang memilih antara orang tua dan pasangan, melainkan menjaga agar hubungan keluarga tetap berjalan tanpa mengorbankan kebutuhan rumah tangga.
(FIR)
Di satu sisi, mertua mungkin merasa memiliki pengalaman hidup lebih banyak sehingga ingin memberikan arahan. Di sisi lain, menantu ingin dihargai sebagai orang dewasa yang berhak menentukan pilihan dalam rumah tangganya sendiri. Jika perbedaan ini tidak dibicarakan dengan baik, perhatian bisa terasa seperti campur tangan, sedangkan keinginan untuk mandiri dianggap sebagai bentuk pembangkangan.
Konflik semacam ini bukan sekadar persoalan siapa yang lebih tua atau siapa yang lebih muda. Penelitian Edward J. Clarke dan rekan-rekannya yang diterbitkan dalam jurnal The Gerontologist pada 1999 mengidentifikasi sejumlah sumber konflik antara orang tua dan anak dewasa, termasuk gaya komunikasi, kebiasaan hidup, pola pengasuhan anak, serta standar rumah tangga.
Temuan tersebut relevan untuk memahami konflik dalam keluarga besar, meskipun penelitian itu tidak secara khusus meneliti hubungan mertua dan menantu. Lantas, siapa yang sebaiknya memulai perdamaian ketika hubungan mulai memanas?
Bukan Soal Siapa yang Lebih Tua atau Lebih Muda
Dalam hubungan keluarga, usia dan posisi tidak otomatis menentukan siapa yang harus mengalah. Mertua memiliki pengalaman hidup yang patut dihargai, tetapi menantu juga berhak memiliki pendapat dan batas pribadi.
Penelitian Gloria Call Horsley berjudul In-Laws: Extended Family Therapy, yang terbit dalam The American Journal of Family Therapy pada 1997, membahas persoalan keluarga besar yang dapat muncul di balik konflik rumah tangga.
Dalam abstrak penelitiannya, Horsley menyebut beberapa persoalan, termasuk “undefined roles” atau peran yang tidak jelas dalam keluarga, serta masalah loyalitas terhadap keluarga asal.
Hal ini membantu menjelaskan mengapa hubungan mertua dan menantu terkadang menjadi rumit. Ketika batas peran tidak jelas, mertua bisa merasa masih berhak menentukan keputusan anaknya, sementara menantu berharap rumah tangganya memiliki ruang untuk mengambil keputusan secara mandiri.
Lalu, siapa yang harus menurunkan ego?
Daripada menetapkan bahwa mertua atau menantu selalu menjadi pihak yang wajib mengalah, langkah yang lebih konstruktif adalah melihat persoalan secara spesifik. Siapa yang memulai konflik, perilaku apa yang menyakiti pihak lain, dan perubahan apa yang diperlukan agar masalah tidak terus berulang?
Pihak yang lebih siap membuka komunikasi dapat memulai percakapan lebih dulu. Namun, memulai perdamaian tidak berarti harus menerima seluruh kesalahan atau membenarkan perilaku yang merugikan.
Komunikasi Jadi Kunci, Bukan Adu Siapa yang Benar
Panduan Family Communication dari University of Delaware Cooperative Extension menjelaskan bahwa komunikasi bukan hanya tentang kata-kata, tetapi juga cara, alasan, waktu, ekspresi, dan nada ketika menyampaikan pesan.
Panduan tersebut juga menekankan pentingnya mendengarkan secara aktif agar seseorang merasa didengar dan dipahami. Ketika orang merasa didengarkan, mereka cenderung lebih terbuka untuk menyelesaikan masalah.
Prinsip ini dapat diterapkan ketika mertua dan menantu berselisih. Daripada langsung membantah atau menyiapkan jawaban untuk menyerang balik, masing-masing bisa mencoba memahami alasan di balik pendapat pihak lain.
Jika emosi sedang tinggi, percakapan dapat ditunda sampai kedua pihak lebih tenang. Setelah itu, pembicaraan sebaiknya berfokus pada satu masalah yang ingin diselesaikan, bukan mengungkit seluruh konflik masa lalu.
Mertua dan menantu juga perlu menghindari sindiran, penghinaan, atau melibatkan anggota keluarga lain untuk memperkeruh keadaan.
Jika konflik terus berulang dan sulit diselesaikan sendiri, konselor keluarga atau psikolog dapat membantu memfasilitasi komunikasi yang lebih sehat.
Pasangan Jangan Cuma Jadi Penonton
Konflik antara mertua dan menantu juga perlu melibatkan pasangan, terutama ketika persoalan menyangkut keputusan rumah tangga.
Suami atau istri tidak seharusnya hanya meminta kedua pihak bersabar tanpa membantu memperjelas persoalan. Pasangan dapat berperan menyampaikan batas yang telah disepakati bersama sekaligus menjaga hubungan dengan keluarga asal.
Pasangan diharapkan bisa gercep dalam menangani masalah tersebut. Ilustrasi Magnific
Misalnya, ketika orang tua terus mencampuri keputusan rumah tangga, anak dapat menjelaskan secara pribadi bahwa keputusan tersebut perlu dibicarakan bersama pasangannya.
Sebaliknya, pasangan juga perlu mengingatkan pihak yang berselisih agar tidak menggunakan kata-kata yang merendahkan atau menyudutkan.
Tujuannya bukan memaksa seseorang memilih antara orang tua dan pasangan, melainkan menjaga agar hubungan keluarga tetap berjalan tanpa mengorbankan kebutuhan rumah tangga.
(FIR)