FAMILY

Ragam Alasan Seseorang menjadi Pelaku Bullying

Kumara Anggita
Selasa 21 Januari 2020 / 17:10

Jakarta: Semasa sekolah pasti ada cerita satu anak yang menjadi korban perundungan atau bullying. Selama ini kita hanya tahu apa dampak yang didapat dari korban bullying. Namun tak pernah tahu, apa motif dari orang yang melakukan bullying terhadap korbannya.

Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga Efnie Indrianie, M.Psi dari Fakultas Psikologi, Universitas Kristen Maranatha, Bandung, mengatakan kalau motifnya berasal dari kecenderungan yang ada. Tepatnya ketika sang pelaku melihat ada yang lebih lemah darinya.

“Bullying terjadi saat ada seseorang yang dianggap lemah oleh sebagian yang lain yang merasa berkuasa. Ini terjadi pada semua usia, bukan hanya pada siswa satu dengan yang lain di sekolah,” ujarnya.

Biasanya pelaku berasal dari mereka yang memiliki karakter dominan. Namun sayangnya, tidak diarahkan dengan tepat.

“Mereka yang suka mem-bully pada umumnya yang karakternya dominan dan ‘power motifnya’ besar. Namun, karena hal ini tidak diarahkan pada hal yang tak tepat, maka biasanya mereka karakter dan motif tersebut diwujudkan dalam perilaku mengintimidasi,” papar Efnie.

Cegah anak menjadi pelaku Bullying

Untuk menghindari hal ini terjadi, ada baiknya anak dibekali kompetensi sosial yang membantunya untuk bergaul. Hal ini akan memudahkannya untuk diterima di lingkungan.

“Sejak usia dini latihlah anak untuk berinteraksi dengan berbagai orang agar 'social competence' nya terasah dengan baik. Anak yang memiliki social competence mereka akan trampil untuk bergaul dan perilaku yang mereka tampilkan tidak memicu pihak lain untuk mem-bully mereka,” ungkapnya. 

embed

(Menurut Yulius, pelaku bullying memiliki konsep diri yang kurang baik. Sebenarnya mereka bukan orang-orang yang superior atau pintar banget. Justru mereka punya sesuatu hal yang buat mereka tidak percaya diri. Hal ini dikompensasi dengan perilaku bully. Foto: Ilustrasi. Dok. Pexels.com) 

Pelaku bullying adalah anak yang minder

Pelaku perundungan pada pandangan pertama biasanya dilihat sebagai sosok yang superior. Ini karena segala tindakan atau kata-kata yang mereka berikan untuk mengecilkan orang yang lebih lemah darinya.

Namun bila kamu sejenak berpikir lebih dalam. Tindakan ini sesungguhnya tak perlu muncul ketika seseorang memang sungguh superior.

Hal ini dipertegas oleh Psikolog Klinis Dewasa, Yulius Steven, M.Psi., Psikolog, dari Sahabat Kariib. Menurutnya bullying atau perundungan muncul dari orang-orang dengan kepercayaan diri yang rendah (minder). 

Yulius menyebutkan bahwa motivasi orang membully orang lain adalah untuk mendapatkan kekuatan. Hal mudah yang bisa dilakukan untuk mendapatkan kekuatan adalah dengan mencari orang yang lebih lemah darinya.

“Yang mendorong bully ke orang lain adalah pemenuhan kebutuhan akan power. Mereka ingin mendominasi, berkuasa, ingin in charge (memimpin atau berkuasa) sama sesuatu," paparnya.

"Kebanyakan sasaran bully itu orang yang tidak berdaya misalnya kalau di sekolah ada orang yang kurang bisa ngomong dan bersosialisasi, agak canggung, atau tidak populer. Nah, membully mereka memberikan power pada pelaku,” tambah Yulius. 

embed

(Efnie mengatakan anak yang memiliki social competence mereka akan trampil untuk bergaul dan perilaku yang mereka tampilkan tidak memicu pihak lain untuk mem-bully mereka. Foto: Ilustrasi. Dok. Unsplash.com)

Pembully ingin menutupi sesuatu hal

Dia melanjutkan, mereka yang sampai membully orang lain sesungguhnya ingin menutupi hal lain yang lebih besar. Ada sesuatu yang sesungguhnya membuat dia tidak percaya diri.

“Mereka punya self-esteem rendah. Konsep dirinya kurang baik. Sebenarnya mereka bukan orang-orang yang superior atau pintar banget. Justru mereka punya sesuatu hal yang buat mereka tidak percaya diri. Hal ini dikompensasi dengan perilaku bully,” lanjutnya.

Untuk menghindari posisi inferior tersebut alhasil mereka berusaha sebisa mungkin untuk berada pada posisi superior. Membully pun jadi pilihan mereka.

“Daripada mereka menunjukkan ketidakpercayaan diri mereka lebih baik mereka yang membully. Mereka akan semakin malu bila diejek oleh orang lain. Itu hal yang tak menyenangkan. Ini dihindari oleh mereka,” jelasnya.



Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(yyy)

MOST SEARCH