FAMILY

Cara Mengukur Apakah Anak Alami Stunting atau Tidak

Kumara Anggita
Rabu 09 Juni 2021 / 20:50
Jakarta: Stunting bisa dideteksi dengan melihat anak, sederhananya mungkin anak nampak lebih pendek dibandingkan anak seumurannya. Namun, ada cara yang lebih pasti yaitu dengan mengukur.

Menurut Menurut Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, Sp.A (K), Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik FKUI/RSCM, untuk menilai apakah seorang anak stunting atau tidak, tinggi badan (TB) dan BB harus diukur dengan benar. 

Untuk anak usia kurang dari 2 tahun, TB diukur dalam posisi berbaring, dan pada usia lebih dari 2 tahun berdiri. 

TB diukur dari puncak kepala hingga tumit, kaki, tubuh dan kepala anak harus benar-benar lurus. Untuk mengukur BB, pakaian anak harus dibuka agar hasilnya akurat.

Selanjutnya, nilai TB dan BB dimasukkan ke grafik, dan akan terlihat bagaimana pertumbuhan anak. Disebut stunting bila pertumbuhannya -2 sampai -3, dan stunting berat bila di bawah -3.

Lingkar kepala juga harus diukur. Dan bila dicurigai stunting, bisa dilakukan pemeriksaan rontgen tangan, untuk memastikan diagnosis.

Dikutip dari Hello Sehat, orang tua dianjurkan untuk memperbarui data di Kartu Menuju Sehat  setiap bulan dengan membawa anak balita ke posyandu atau dokter anak. 



(Kartu Menuju Sehat atau KMS bisa menjadi gambaran apakah si kecil normal atau mengalami stunting. Foto: Dok. Kms-online.web.id/)


Memantau pertumbuhan anak melalui kartu ini bisa membuat dokter menentukan anak tumbuh normal sesuai dengan usianya atau tidak. 

Kartu menuju sehat, terdiri dari 1 lembar (2 halaman bolak-balik) dengan 5 bagian di dalamnya. Cara mengisi dan membacanya dibedakan antara anak laki-laki dengan anak perempuan. KMS anak laki-laki berwarna biru dan anak perempuan berwarna merah muda.

Kartu Menuju Sehat (KMS) tersedia dalam bentuk fisik yang diberikan oleh dokter setelah kelahiran anak. Namun kini KMS juga tersedia secara online. Klik di sini untuk melihat KMS online.
 

Susu dan satu butir telur sehari untuk mencegah stunting 


Terkait hal ini, Dr. dr. Damayanti menganjurkan pemberian sumber pangan hewani seperti susu atau telur 1 butir/hari untuk mencegah maupun mengatasi stunting. Dengan perbaikan nutrisi, termasuk pemberian susu, kasus stunting di desa tersebut berhasil diturunkan.

“Di awal, stunting ditemukan sebesar 17 persen. Setelah tiga bulan, membaik jadi 9 persen,” ucap Dr. dr. Damayanti dalam acara 'MilkVersation Hari Gizi Nasional, Investasi Pangan Hewani, Stunting, dan Upaya Selamatkan Generasi Mendatang.'

Upaya mencegah dan mengatasi stunting membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Tidak hanya tenaga medis dan akademisi, tapi juga berbagai pemangku kepentingan.

Orang tua pun harus memantau tumbuh kembang anak, dengan rutin membawa anak ke Posyandu untuk diukur TB, BB, dan lingkar kepalanya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH