FAMILY

5 Kebiasaan yang Tingkatkan Peluang Perpisahan dengan Pasangan

Mia Vale
Kamis 28 April 2022 / 14:05
Jakarta: Sejak tahun 1970-an, psikolog John Gottman, Ph.D., dan timnya telah memelajari ribuan pasangan untuk melihat apa yang sebenarnya dilakukan orang dalam hubungan mereka. Gottman dan tim juga telah memantau pasangan ini selama bertahun-tahun setelah mereka berada di lab. 

Dari penelitian, mereka menemukan bahwa pasangan yang berpisah dalam waktu enam tahun setelah menikah cenderung memiliki enam kebiasaan yang sama. Mari kita bicara tentang mereka dan apa yang dapat kamu lakukan jika melihat salah satu dari mereka dalam hubungan kamu sendiri.
 

Awal yang sulit 


Percakapan bisa menjadi indikator bagaimana suatu hubungan akan berakhir atau tidak. Jika percakapan dimulai dengan lembut, kemungkinan besar percakapan berlanjut ke arah lembut dan positif.

Namun sebaliknya, seperti dinukil dari Mindbodygreen, jika percakapan dimulai dengan kekerasan, kemungkinan besar akan berakhir dengan cara yang sama. Percakapan keras inilah yang memicu pasangan akhirnya berpisah. 


cara mengatasi agar tak cerai
(Bila pasangan tidak tahu bagaimana mengambil istirahat dan menenangkan diri, hubungan mereka sering kali menjadi lebih tidak bahagia dari waktu ke waktu. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
 

Menyelesaikan konflik


Ada empat yang bisa menjadi penanda berakhirnya suatu hubungan, dilihat dari cara menyelesaikan suatu konflik. Tanda tersebut adalah :

- Kritik di mana ketika kamu menunjukkan kelemahan karakter dalam diri pasangan kamu sebagai serangan
- Defensif, ketika orang bersikap defensif, mereka menjelaskan, membenarkan, dan meniadakan keluhan pasangannya secara berlebihan tanpa meluangkan waktu untuk benar-benar mendengarkan mereka
- Stonewalling, seakan tidak mau mendengarkan atau mengabaikan ketika pasangan sedang berbicara
- Penghinaan, merupakan kritik berlebihan, dan itu bisa menjadi bentuk pelecehan emosional. Ketika orang menghina, mereka meremehkan pasangannya. Bila keempat tadi dilakukan, kemungkinan besar hubungn mereka tidak lama
 

Mudah 'meledak'


Perasaan mudah meledak ini terjadi saat kita terkena stres aatu konfkik lagi dan lagi. Saat itulah tubuh melepaskan hormon stres yang memengaruhi kemampuan kita untuk relasional dan menyelesaikan konflik dengan orang lain. Dan bila pasangan tidak tahu bagaimana mengambil istirahat dan menenangkan diri, hubungan mereka sering kali menjadi lebih tidak bahagia dari waktu ke waktu. 
 

Masalah bahasa tubuh 


Bahasa tubuh penting dalam hubungan kita. Suka atau tidak, pasangan kita secara otomatis dan terus-menerus memindai bahasa tubuh kita untuk mencari isyarat tentang apakah mereka aman dan dicintai dalam hubungan atau tidak. Pasangan yang memiliki bahasa tubuh yang tertutup dan mengancam satu sama lain memicu konflik dalam hubungan mereka. 
 

Hiperfocus pada kenangan buruk 


Pasangan bahagia menghabiskan waktu berbicara tentang saat-saat indah. Mereka saling berbagi kenangan tentang liburan favorit mereka, bagaimana mereka bertemu, dan apa yang mereka "rindukan" tentang hari-hari awal mereka. 

Namun, bila terjadi masalah, biasanya yang diingat justru hal-hal buruk atau fokus pada kesalahan. Pikiran dan percakapan mereka akan menghabiskan banyak energi yang diarahkan pada hal-hal yang buruk. Seakan masa bahagia mereka hanya omong kosong. 

Jika melihat salah satu dari tanda-tanda ini dalam hubungan, itu bukan tanpa harapan! Dari kelima situasi di atas, kamu bisa mengubah kebiasaan yang ada.

Ingat, untuk membangun hubungan yang sehat, kita perlu sadar diri dan bertanggung jawab atas cara kita berinteraksi. Memelajari cara mengenali perilaku berbahaya dalam hubungan dapat membantu kita mengubahnya.

(TIN)

MOST SEARCH